Opini

Bolehkan Asing Miliki 100% Saham UKM, Jokowi Pro Rakyat Atau Pro Asing?

Suarapantau.com, Opini –– Sikap pemerintah yang mengeluarkan paket kebijakan ekonomi jilid ke-16 yang memperbolehkan asing memiliki saham 100 persen adalah langkah yang akan membuat rakyat semakin terpuruk.

Pasalnya UKM dan industri yang menjadi jangkauan masyarakat dalam membangun usahanya bakal bersaing dengan asing diwilayahnya sendiri, tentu dengan keterbatasan finansial bakal menghadapi modal raksasa asing yang akan berinvestasi melalui paket kebijakan yang telah diluncurkan oleh pemerintah saat ini.

Selain itu Era Jokowi akan berhadapan dengan kampanye Pilpres 2019 yang mana Pasangan Capres Prabowo Sandi Justru mengkampanyekan dan mengusung pemberdayaan ekonomi melalui UKM dan Industri sebagai penggerak ekonomi masyarakat sementara Jokowi membuka jalan Tol untuk pengusaha Asing.

Jokowi yang selama ini mengkampanyekan dirinya sebagai bagian dari wong cilik akan semakin menampakkan jati dirinya yang sebenarnya, bahwa Jokowi telah menjual nama wong cilik untuk memuliskan misi asing meraup keuntungan di Indonesia.

ditahun politik seperti sekarang ini berbagai cara dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat, salah satunya adalah peran dari penguasaha asing, dengan adanya kebijakan ini adalah bukti lebih mementingkan penguasaha asing. 

“Saya kira apa yang  terjadi di Bali beberapa waktu patut menjadi pertimbangan pemerintah, karena pada kenyataanya tidak semua yang namanya investasi yang diberikan asing bisa memberikan keuntungan bagi rakyat,”sebut Dirut NCID Jajat Nurjaman melalui siaran persnya kepada sejumlah media

bahkan kata dia hal Ini merupakan blunder yang kesekian kali dari Jokowi di tahun politiknya, sebaliknya dari kejadian ini kubu Prabowo-Sandi semakin diuntungkan yang dalam setiap kampanyenya konsisten membahas tentang ekonomi terutama ekonomi rakyat menengah ke bawah salah satunyanya adalah program meningkatkan UKM.

Apa yang terjadi saat ini bukanlah satu kebetulan, tapi  kelemahan dari tim Jokowi sendiri yang gagal memanfaatkan momentum kampanye.

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Close
Close
%d blogger menyukai ini: