Politik

Kotak Suara Bahan Kardus, NCID : KPU Beralih Fungsi Jadi Perusahaan Pencari Untung!

SuaraPantau.com, Jakarta  – Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indosian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman menilai keputusan KPU untuk mengganti kotak suara berbahan almunium dengan kardus dengan alasan penghematan tanpa memperhatikan kualitas patut dipertanyakan.

Menurutnya, KPU tak ubahnya bak perusahaan yang melaksanakan tugas dengan mencari keuntungan.

Pasalnya, sebagai penyelenggara pemilu KPU tidak mempertimbangkan secara detail resiko yang akan dihadapi jika kotak suara terbuat dari bahan kardus.

“Alasan faktor penghematan ini sangat tidak masuk akal karena sejak awal pengeluaran yang akan digunakan tentu sudah masuk dalam perencanaan disamping itu masalah yang paling krusial adalah faktor keamanan, belum apa-apa saja ribuan kotak suara di Bali rusak karena terendam banjir, lalu bagaimana KPU bisa menjamin suara rakyat tidak rusak dalam pemilu 2019 yang akan datang ?”, tegas Jajat.

Jajat menambahkan, fenomena sebuah lembaga mandiri penyelenggara pemilu mencari keuntungan dari pagelaran pesta demokrasi ini baru pertama kali terjadi sepanjang pemilu Indonesia dilakukan. Apa KPU mulai amnesia jika esensi dari pemilu itu adalah ajang rakyat untuk menentukan nasib negara untuk lima tahun ke depan secara langsung.

Sebaliknya disini diperlukan pengamanan yang ekstra ketat untuk melindungi jika suara rakyat tidak sia-sia, bukannya malah membuka celah curang dan cari untung seperti sekarang ini.

“Kesuksesan pemilu bukan sebatas rakyat datang ke TPS menyalurkan aspirasinya di bilik TPS habis itu selesai, tapi mengamankan suara rakyat agar suaranya tidak disalahgunakan itu yang paling penting. Disinilah diperlukan peran dari KPU untuk menjamin suara rakyat itu benar-benar aman,” tegasnya.

Jajat menambahkan, pihaknya turut menyayangkan sikap KPU ngotot menggunakan Kotak Suara Kardus padahal anggaran Pemilu dari tahun 2014 naik dibanding Pemilu 2019.

“jika ini tetap dipertahankan seperti sekarang, akan menjadi catatan sejarah kecurangan pemilu terjadi karena celahnya sudah diberikan oleh penyelenggara pemilu itu sendiri yaitu kotak kardus”, tutup Jajat.

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Close
Close
%d blogger menyukai ini: