Opini

Opini: Bedah Pemikiran Prabowo dalam Semangat ‘Make Indonesia Great Again’

Oleh:
H. R. Maulana
(Kader Muda Gerindra Masa Depan Angkatan VI)

SuaraPantau.com – Make Indonesia Great Again. Slogan tersebut, tidak asing bagi kita semua, dimana hampir sebagian kita menduga bahwa slogan tersebut menjadi label yang melekat pada Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump, yang digaungkan dalam kampanye “Make America Great Again” miliknya.

Spekulasi, prasangka, dugaan, berputar dalam benak setiap kita yang mendengar slogan Sang Purnawirawan yang kini menjadi penantang incumbent dalam kontestasi politik mendatang. Atmosfir psywar dan perang narasi sudah digaungkan sejak jauh-jauh hari sebelum KPU menetapkan nomor urut paslon bagi calon presiden dan calon wakil presiden yang akan bertarung visi dan misi hingga nanti menjelang bulan April 2019.

Sebelum memulai, tulisan ini agaknya sedikit terlambat mengingat kutipan kata-kata beliau ini ada dalam pidato Namun, ada yang mengganjal dalam pikiran saya.

Penulis tertarik untuk kembali menyelami makna pernyataan Prabowo tersebut, di Rakernas LDII di Pondok Gede (16/10/2018) lalu.

Pasalnya, menurut beberapa pengamat politik, slogan yang dianggap menjiplak ujaran Donald Trump tersebut, secara implisit menunjukkan sikap seorang “basis kanan”. Maka, sedikit mengulas, mengapa sikap Prabowo Subianto pada pidatonya selalu berbicara tentang bangsa, kesejahteraan ekonomi, dan rakyat Indonesia?

Prabowo, lahir dari seorang ibu yang bersuami seorang begawan ekonomi. Namanya, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo. Menteri Riset Indonesia era Soeharto, dan Menteri Keuangan di era Soekarno, juga Menteri Perindustrian dan Perdagangan selama setahun pada era Soekarno, dan 5 tahun di era Soeharto.

Memiliki seorang ayah yang ekonom, jelas bahwa beliau mengerti betul bagaimana pentingnya aspek ekonomi bagi sebuah bangsa, bukan hanya bagi sebuah negara. Walaupun akhirnya, beliau memulai pengabdiannya sebagai seorang anak bangsa sebagai lapisan pertahanan negara, yaitu seorang tentara. Dari titik ini, muncul dua hal penting bagi keberlangsungan dan pertahanan sebuah bangsa dan negara; ekonomi dan militer.

Militer dan sipil, di masa setelah merdeka, memiliki sejarah yang kurang baik. Keduanya sering dibenturkan. Militer dianggap terlalu bersikap represif sedang sipil dianggap subversif. Penulis tidak ingin mengenyampingkan sejarah kelam tersebut, karena pada dasarnya menyoal represif-subversif adalah kehendak tiap individu dalam menyikapi sebuah masalah.

Lalu, apa hubungannya dengan Prabowo Subianto dan perjuangan politiknya? Pasca pecahnya reformasi ’98, tidak bisa dipungkiri hampir sebagian kalangan menilai bahwa pak Prabowo Subianto adalah scapegoat atau target kambing hitam dari peristiwa hilangnya aktivis yang terlibat pada demonstrasi besar-besaran yang menyebabkan runtuhnya Orde Baru dan pemberhentian dinas militer beliau.

Facebook Comments

1 2 3 4Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Close
Close
%d blogger menyukai ini: