Opini

Opini: Bedah Pemikiran Prabowo dalam Semangat ‘Make Indonesia Great Again’

Seperti membuka luka lama, tulisan ini bukan berfokus pada kejadian tersebut, tetapi penulis juga tidak ingin mengenyampingkan persepsi yang berkembang di masyarakat. Skeptisme, menyebar bak jamur di ruangan lembab, masyarakat seolah sengaja mengenyampingkan pencarian fakta, bahkan Munir (almarhum, semoga Tuhan Menerima beliau di sisi-Nya) menyatakan hal yang cukup berpunggungan dengan persepsi masyarakat yang ada.

Ya, Munir menyatakan bahwa, bisa jadi, Prabowo Subianto tidak bersalah. Tapi nyatanya tidak seperti itu, karena yang harus dipahami Prabowo Subianto bersikap ksatria dengan menyatakan diri sebagai yang bertanggung jawab atas kejadian ’98, walau nyatanya semua hal tadi berdasarkan asumsi dan dugaan semata. Hinga akhirnya, pasca pemberhentian dinas Sang Jenderal tersebut, hingga hari ini beliau tidak pernah terbukti bersalah atas pengadilan pelanggaran HAM.

Tekad dan semangat Prabowo telah terbentuk menjadi seorang nasionalis sejati yang selalu berpikir untuk kedaulatan dan kemajuan bangsa. Tercatat, hingga hari ini, selain aktif di kancah politik. Ia juga,  banyak aktif dalam organisasi kerakyatan dan kemasyarakatan.

Sebut saja, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPS), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), dll. Deretan asosiaso tersebut, adalah sebagian kecil kontribusi beliau dalam aktivitasnya bagi rakyat Indonesia. Ketiga organisasi tadi sangat lekat dengan lapisan masyarakat kelas menengah dan masyarakat kecil.

Penulis berpikir kutipa fenomenal Prabowo diawal, turut dilatarbelakangi atau memiliki kaitan mengapa Gerindra lahir.

“saya sedih melihat bangsa ini. (kita) Menjadi tamu di rumah kita sendiri. Kekayaan kita (seperti) bukan milik kita sendiri. Tapi, saya tidak bisa berjuang sendiri; saya hendak berjuang bersama kalian (rakyat). Maka, melalui pertarungan konstitusional, saya bisa mewujudkan cita-cita bangsa, seperti dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945”. Kurang lebih, itulah pesan beliau kepada kami dalam berbagai kesempatan.

Bagi penulis, beliau sangat mengkhawatirkan keberlangsungan bangsa ini. Beliau berpesan bahwa apa yang beliau lakukan adalah bukan bagi beliau pribadi, atau bagi rakyat Indonesia hari ini. Menurut beliau, perjuangan beliau adalah tentang bagaimana nasib anak cucu bangsa setelah hari ini. Tentang bagaimana hidup mereka, nasib mereka, jika rakyat dan bangsa Indonesia saja hari ini menjadi tamu di negeri sendiri. Miris, kata yang penulis bisa gambarkan bagaimana hidup dan nasib rakyat Indonesia sekarang.

Lalu, kembali pada slogan beliau tentang Make Indonesia Great Again, pada pandangan penulis, adalah tentang bagaimana cita-cita bangsa Indonesia yang dimaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 bisa “benar-benar” terwujud.

Bukan mustahil, jika benar rakyat berdaulat dengan kaki sendiri, di tanah sendiri, memilki kekayaan budaya, sumber daya, yang bisa menentukan nasibnya sendiri, maka jelas arah perjuangan para pendahulu bangsa Indonesia ketika semua cita-cita itu terwujud.

Dengan berbagai persepsi tersebut diatas, secara tidak langsung telah menepis bahwa slogan tersebut terkesan menjiplak dan kering makna.

Facebook Comments

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Close
Close
%d blogger menyukai ini: