Opini

Opini: Ibu Kota Baru dan Peradaban Baru

Oleh:
Ridwan Wawan Poernama
(Mahasiswa Pascasarjana UMY)

SUARAPANTAU.COM – Gagasan pemindahan ibu kota baru kembali digulirkan Presiden Jokowi baru-baru ini. Pemindahan ibu kota bukanlah sesuatu fenomena baru, banyak negara telah melakukannya, seperti Brasil, Pakistan, Nigeria, Jerman, dan baru-baru ini Israel.

Bagi Indonesia sendiri, gagasan untuk pemindahan ibu kota negara sudah dirintis Presiden Soekarno pada dekade 1950-an. Bahkan proyeksi lokasi juga sudah ditetapkan, yakni Palangkaraya (kini ibu kota Kalimantan Tengah).

Sebagaimana Soekarno, Jokowi yang juga dikenal sebagai presiden visioner, ingin mewujudkan cita-cita lama pendahulunya tersebut. Semoga pada periode kedua pemeritahan Jokowi, pergerakan (progress) menuju ibu kota baru menemukan wujud konkretnya. Perpindahan ibu kota baru, selain cita-cita, juga sebuah momentum historis bila tidak diwujudkan segera, entah kapan lagi datang kesempatan seperti ini.

Sekarang atau tidak sama sekali. Penulis ingin sedikit sumbang saran terhadap mega proyek rezim Jokowi tersebut, satu catatan penting, bahwa selain soal pembangunan infrastruktur, perlu juga dipikirkan “spirit” dari ibu kota yang baru nanti. Ibarat sebuah lukisan yang bagus, selain enak dipandang, idealnya lukisan juga berjiwa.

Spirit Kebangsaan

Ibu kota yang baru adalah harapan. Selain prima dalam mendukung administrasi pemerintahan, ibu kota juga merupakan etalase negeri. Kita berharap, keberadaan ibu kota baru juga meningkatkan martabat kita sebagai bangsa.

Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah membangun infrastruktur kesenian. Banyak rakyat kita kreatif di bidang kesenian, sehingga kita bisa melihat kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Solo, Surabaya, Jember, Banyuwangi, dan seterusnya, memiliki kantong-kantong kegiatan kesenian. Panggung kesenian menjadikan jiwa warga sebuah kota tidak “kering”.

Facebook Comments

1 2 3Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Close
Close