Politik

Tb Ardi Januar: Gerindra Melawan Politik SARA

SUARAPANTAU.COM – Akhir pekan kemarin, Komisi Pemilihan Umum secara resmi merilis hasil raihan pemilu legislatif tingkat nasional dari tiap-tiap partai. Partai Gerindra dinyatakan juara kedua secara raihan suara, tetapi juara ketiga dalam perolehan kursi.

Sebanyak 78 kader dan pejuang politik Gerindra dari berbagai daerah pemilihan di Tanah Air berhasil melenggang ke Senayan. Jumlah ini bertambah lima kursi dibanding periode sebelumnya yang meraih 73 kursi.

Saya happy raihan kursi Gerindra bertambah. Tapi rasa happy ini kurang maksimal karena jumlah kursi yang diraih tak sesuai prediksi dan espektasi. Meski demikian, perjuangan sudah maksimal dan tetap harus disyukuri.

Sebenarnya, ada satu hal lagi yang membuat hati ini kurang happy. Meski raihan kursi bertambah, Gerindra harus kehilangan sejumlah kursi incumbent khususnya di kantong-kantong pemilih dari kalangan minoritas seperti Bali, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Saya berkesimpulan, Gerindra menjadi korban dari kejamnya politik SARA.

Ya, dalam pertempuran kemarin Gerindra kerap diframing lawan politik sebagai partai pendukung khilafah, pendukung Islam garis keras, dan sejenisnya. Setidaknya pernyataan ini pernah terlontar dari mulut seorang kepala daerah dari partai sebelah kala berpidato di sebuah forum.

Padahal, Gerindra adalah partai yang lahir dari rahim nasionalis. Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, merupakan pribadi yang tumbuh dari lingkungan pluralis. Ayahnya seorang Muslim dan Ibunya penganut Nasrani. Pun dengan para saudara kandungnya yang memiliki keyakinan beragam.

Gerindra memiliki berbagai sayap partai lintas keyakinan. Ada Gerakan Muslim Indonesia Raya (Gemira), Gerakan Kristen Indonesia Raya (Gekira) dan Gerakan Masyarakat Sanathana Dharma Nusantara(Gema Sadhana) yang menaungi para pemeluk Hindu dan Budha. Bahkan, Gerindra memiliki sayap partai bernama Persatuan Tionghoa Indonesia Raya (Petir). Itulah jatidiri Gerindra sebenarnya.

Saya sedih mendengar sahabat Pius Lustrilanang dari Dapil NTT 1 gagal kembali ke Senayan. Padahal kontribusi dia kepada masyarakat NTT khususnya di bidang kesehatan sudah sangat besar. Saya sedih mendengar Fary Djemy Francis dari dapil NTT 2 tak lagi terpilih.

Padahal selama menjadi Ketua Komisi V, dia sangat berperan dalam menentukan kebijakan pembangunan di kawasan Indonesia Timur.

Saya sedih mendengar Ida Bagus Putu Sukarta dari dapil Bali tidak kembali terpilih. Padahal dia tokoh masyarakat yang selalu menjunjung tinggi dan memperjuangkan adat istiadat setempat. Saya sedih mendengar Wenny Warouw dari Dapil Sulawesi Utara tidak kembali terpilih. Padahal, purnawirawan jenderal yang tempo hari ruang kerjanya pernah tertembak peluru nyasar ini seorang Nasrani taat dan aktivis gereja.

Tapi sudahlah, pertarungan di pileg sudah berakhir. Prabowo berpesan, kita tidak boleh berkecil hati. Inilah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Menang kalah itu biasa, tapi semangat perjuangan harus tetap terjaga.

Catatan ini bukan untuk meratapi kesedihan, tetapi untuk kembali menegaskan bahwa Partai Gerindra adalah partai nasionalis yang mengayomi semua golongan. Partai Gerindra bukan partai kanan atau kiri, tetapi partai yang berdiri di tengah, yang ingin Indonesia tetap memiliki marwah.

Gerindra akan selalu mengayomi mayoritas dan melindungi minoritas. Karena alasan utama Gerindra dilahirkan bukan untuk mempersoalkan satu golongan atau meributkan perbedaan, melaikan untuk mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kedaulatan.

Tetap semangat, karena perjuangan belum tamat. Kita evaluasi, kita konsolidasi dan bersiap menghadapi palagan tempur selanjutnya. Gerindra adalah barisan para pejuang, bukan kumpulan orang cengeng dan bukan kaleng-kaleng.

Lawan politik SARA!

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Close
Close