Pius Lustrilanang: Belajar dari Kasus KM Lambelu

SUARAPANTAU.COM – Pada saat China mengkarantina Wuhan tgl 23/1/20, penderita Covid-19 berjumlah 830 orang. Warga yg terpapar namun belum menunjukkan gejala banyak yg sudah menyebar ke daerah2 lain utk merayakan tahun baru, dan mungkin sebagian tetap bepergian keluar negeri.

Lalu wabah ini pun menyebar ke seluruh dunia menjadi pandemi. Perlu waktu 70 hari sebelum jumlah penduduk dunia yg terpapar Covid-19 menembus angka 1 juta pada tgl 2/4/20. Hari ini jumlah penderita Covid-19 sdh menembus angka 1.453.120. Tampaknya penambahan 1 juta lagi akan memakan waktu tidak sampai 2 minggu.

Seandainya, PSBB diterapkan di Jabodetabek sejak kasus positip Covid 19 baru mencapai angka 893 pada tanggal 26/3/20, dan pemerintah menjamin kebutuhan minimal warga yg terkena PSBB, mungkin fenomena pulang kampung warga pendatang yg mencari nafkah di wilayah Jabodetabek dapat dihindari.

Mereka terpaksa pulang ke kampung halaman di seluruh penjuru Indonesia karena sdh tidak dapat lagi bertahan hidup di Jakarta. Mereka berdesak-desakan menggunakan angkutan publik. Kasus KM Lambelu menyadarkan kita betapa mudahnya penularan Covid-19 di antara para pengguna angkutan publik yg tidak menerapkan social distance dan memakai protokol kebersihan.

KM Lambelu memang tidak melayani tujuan dari Jakarta. Rutenya adalah Nunukan, Tarakan, Donggala, Balikpapan, Pare2, Makassar, Maumere, Kupang. Adalah gugus tugas penanganan Covid 19 di Nunukan yg pertama kali mendeteksi 4 penumpang yg turun di Nunukan terpapar Covid-19. Anehnya KM Lambelu tetap dibiarkan berlayar menyelesaikan rutenya.

Hal yg sama bisa saja terjadi di bus, kereta api, kapal, bahkan pesawat udara yg dipakai utk mudik selama ini. Apalagi tidak ada rapid test yg tersedia sejak pemudik gelombang pertama pulang baik di titik berangkat maupun titik kedatangan. Padahal, setiap orang yg keluar dari zona merah apalagi yg sdh jadi episentrum seharusnya ditetapkan sebagai Orang Dalam Pemantauan.

Tracking massif harus dilakukan segera oleh Pemda yg menjadi tujuan warga utk pulang kampung. Data penumpang yg pulang kampung dalam 2 minggu terakhir harus dilacak. Mau tidak mau semua manives angkutan publik harus diperiksa. Mereka harus dijadikan prioritas rapid test dan “dipaksa” melakukan isolasi mandiri dan dipantau pergerakannya.

Semoga saja setiap Bupati dan Walikota tempat para pemudik ini tinggal sadar akan bahaya penyebaran covid-19 dan mampu melakukan langkah cepat sebelum terjadi ledakan penyebaran covid-19. Setiap pengabaian terhadap bahaya ini di masa-masa awal akan dibayar mahal di kemudian hari. AS, Italia, Spanyol, paling tidak adalah contoh negara yg abai di masa-awal akan bahaya penyebaran Covid-19. Mereka sekarang menjadi 3 negara peringkat atas dunia dalam jumlah kasus Covid-19.

*Pius Lustrilanang (Pemerhati Sosial)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pos terkait