Doktrin Kematian atau Penghancuran Ego

  • Whatsapp
Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Kematian Ego mengajak dengan rendah hati, menyusuri bersama kearifan kaum mistikus menemukenali hakikat dirinya dan “tercelup secara ontologis” dalam Samudera Mahacinta-Nya yang tak terperi. “Kematian” Ego.

Dalam tradisi sufistik, doktrin “kematian” ego, lazim dikenal sebagai fanâ’: sebilah pengalaman spiritual yang diandaikan Junayd (w. 910) sebagai “kualitas inner-space sang mistikus yang membutuhkan rumah-transenden”. Lebih jauh Junayd mendaku, “Dalam esensinya, fanâ’ adalah sifat Tuhan, tapi secara lahiriah ia sifat sang sufi itu sendiri.” Wujud fanâ’ : musnahnya ontologi-ego ke dalam Ontologi-Tuhan yang tak tepermanai.

Iklan PU Makassar

‘Ayn al-Qudhât Hamazhânî (l.1098) dapat dipandang sebagai sufi yang paling ekstensif mengenalkan doktrin “kematian” ego. Baginya, “tak ada keasyikan terpuncak dalam perjalanan ruhani kecuali mengalami ‘pembinasaan’ dan ‘peleburan’ ontologis dalam Realitas Tertinggi.” Pengalaman doktrin kematian ego ‘Ayn al-Qudhât, kelak dituangkan dalam Tamhidât, sebuah karya genial-teosofi mistik yang bermain dengan diksi-diksi simbolik, galaksi kode, dan semesta metafor: sehelai dunia-senyap, tapi amat benderang pada langit intuisi batin (zawq).

“L’esthetique soufie, chez Ayn al-Qudhât,” ungkap Christiane Tortel, yang mengomentari gaya meta-bahasa Tamhidât.
“Jika ‘ketiadaan-ego’ adalah perbendaharaan untuk penglihatan terhadap Tuhan (visio Dei),” demikian ‘Ayn al-Qudhât mengawali pencerahannya, maka ‘egolah’ yang menjadi selubung utama dalam pembinasaan.” Di titik inilah, semua doktrin “kematian” ego agama-agama menyatu di atas dasar yang sama.

Doktrin “kematian ego” ‘Ayn al-Qudhât, didasarkan pada penghancuran “ego-tak-autentik”.

Tanpa pembinasaan ego-tak-autentik—begitu ‘Ayn al-Qudhât mengalirkan petuah mistikal—kesadaran ego-autentik (rûh) tidak akan pernah terbit. Dalam ungkapan teosofia: orang tak dapat dikatakan telah merengkuh jiwa tercerahkan (muthmainnah) kecuali jika dia telah melintasi tingkatan “Tiada Tuhan…” (Lâ Ilâha) dan mencapai tingkat “kecuali Allah” (illâ Allâh). Jadi, proses kenaikan ‘ego-transenden-autentik’ mengandaikan penegasian ego-tak-autentik. Jalan penegasian ini mirip “theologia via negativa” Dionysian atau noche oscura San Juan de la Cruz.

Doktrin Nûr Muhammad, juga tampak kental dalam Tamhidât. Ekposisi puitik yang ditampilkan ‘Ayn al-Qudhât pada kitab ini sepenuhnya mengusung serangkaian larik puisi cinta yang panjang dan himpitan kerinduan mutlak penulisnya kepada Sang Nabi. ‘Ayn al-Qudhât mendaku: semua pengetahuan-ego bersumbu pada ‘pengenalan Ontologi Muhammad’. Itu sebab, ia mengandaikan ma’rifah Zat Ilahi hanya bisa direngkuh via Muhammad. Di sini ‘Ayn al-Qudhât menegaskan jika di balik semua “epistemologi” tersimpan “profetologi”.

Ramadhan atau “ramdhan” semakna dengan ‘peniadaan’ ego-tak-autentik: di alas sadar ini, ego-autentik yang fithri ditemukan kembali dan patut dirayakan.

 

Penulis: Dr. Mohammad Sabri, M.A/Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Facebook Comments
  • Whatsapp