Imam Shamsi Ali: Makna Ramadhan dan Modal Utama Orang Sulsel

  • Whatsapp
Muhammad Syamsi Ali, Imam di Islamic Center of New York)

Ramadan adalah bulan yang patut disyukuri; puasa adalah vitamin bagi setiap pribagi yang ingin dekat dan mandapatkan anugerah rahmat dari Allah SWT.

Arti iman bagi seorang Muslim adalah menunjukkan rasa syukur dan ketaatan beribadah semata Allah karena merasa tidak mampu membalas bagitu banyaknya rahmat dan kemurahan nikmat dari Allah yang secara sadar kita nikmati dalam hidup ini.

Bacaan Lainnya

Kita juga bersyukur karena masih di pandemic Covid-19, tetap kita memiliki spirit untuk banyak beribadah kepada Allah. Di kota New York misalnya, hampir semua masjid sudah dibuka, orang-orang Muslim sudah ramai tarwih walau masih ada social distancing beberapa centi meter.

Apa yang kita harapkan di bulan Ramadan ini? Adalah dimulai dengan mengoreksi cara ber-Islam kita. Terkadang sebagian kita terlihat rajin beribadah, shalat misalnya, tapi pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan kita tidak nampak. Ini ada paradoks. Ramadan sepertinya dinilai sebagai tradisi ritual semata, bulan yang datang dan pergi. Kenapa ini terjadi? Karena sebagian kita merasa diri paling suci dan terbaik (ana khairun minni). Sikap klaim seperti ini sangat berbahaya dalam beragama, dan itu tidak boleh karena itu menyontoh sikap sombong Iblis ketika diminta oleh Allah untuk menghormati Nabi Adam AS.

Dalam beragama, idealnya kita menyontoh akhlak Nabi Ibrahim. Beliau bersama putranya, Ismail telah membangun Ka’bah tapi tetap rendah hati, tidak merasa paling mulia di hadapan Allah. Padahal semua orang yang beribadah sepanjang tahun di sekitar Ka’bah selalu mendoakan Ibrahim dan keluarganya. Ibrahim adalah teladan kita.

Persoalan kedua yang sering muncul dalam perilaku beragama kita adalah sikap parsial. Kita lebih sering pisahkan ibadah ritual dan social. Kita rajin ke masjid karena takut kepada Allah, berbeda ketika di luar masjid, ke pasar atau kantor misalnya, kita masih mudah tergoda untuk korupsi misalnya. Cara beragama seperti ini, saya sebut double standard personality.

Sejatinya, agama adalah pedoman kehidupan totalitas, makan minum, kawin, hingga wafat, semuanya telah diatur dalam Islam. Kesempurnaan dan keindahan ber-Islam seharusnya kelihatan dalam diri dan lingkungan kita dimana kita hidup atau mengabdi.

Salah satu fenomena yang salah dalam ber-Islam, menurut saya perlu segera diperbaiki adalah “konsep mati” di jalan Allah. Kita lihat ada sebagian orang ingin mati secara instan dan yakin masuk surga, ditemani oleh bidadari. Saya sering istilahkan mungkin mereka itu sering makan mie instan, makanya mereka ingin mati secara instan.

Kembali kepada makna esensial Ramadan, saya menyebutnya “ini bulan transformasi” atau inherent change. Kita patut jadikan Ramadan sebagai bulan madrasah, pendidikan. Kita menata ulang fitra kita, yakni ingin intim dengan Allah. Kita rela tanggalkan sebagian kecintaan kita pada dunia materi, makan dan minum karena ingin dekat Allah. Puasa adalah ibadah ritual yang sangat privasi, hanya Allah dengan orang yang puasa yang tahu.

Kita ini hidup di abad modern, Barat kelihatan maju peradabannya tapi mereka hidup tidak memiliki keseimbangan pemahaman terhadap dunia dan akhirat. Islam mengajarkan kita untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat. Kita bikin jembatan di dunia menuju akhirat yang kekal.

Hal kedua yang perlu kita perbaiki adalah akhlak kita, terhadap sesama, termasuk dengan non-Muslim. Teladan kita, Nabi Muhammad menyebut dirinya diutus untuk menyempurnakan akhlak umatnya.

Sebagai orang KKSS, kita patut bersyukur karena memiliki dua hal yang patut kita jaga: percaya diri dan rasa lalu yang tinggi (siri’). Kita bisa berkaca pada sosok Alm. BJ. Habibie dan Pak M. Jusuf Kalla. Mereka berbadan kecil seperi saya, tapi memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan kita harus selalu menjaga rasa malu, pada diri, keluarga, dan sesama.

Saya kira beberapa poin yang dapat saya sampaikan, semoga kita termasuk hamba-hamba yang beruntung, dapat meraih takwa di ujung bulan suci Ramadan ini.

Akhirnya, saya berterima kasih kepada seluruh Jemaah kuliah Ramadan KKSS atas berbagai pertanyaan malam ini yang membuat dialog dan silaturahmi kita menjadi lebih erat.

 

Penulis: Muhammad Syamsi Ali (Imam di Islamic Center of New York)

 

Facebook Comments

Pos terkait