SUARAPANTAU.COM, MAKASSAR – Yayasan Sustain Aqua Indonesia (YSAI) bekerjasama dengan Walton Family Foundation menyelenggarakan Workshop Nasional yang mengangkat tema, “Kerjasama Sinergis Untuk Mempromosikan Budidaya Udang Yang Harmonis Dan Berkelanjutan Di Kawasan Mangrove”.
Workshop ini diselenggarakan di Makassar dan Pinrang pada 21 hingga 23 Oktober 2021 lalu.
Workshop Nasional ini dihadiri oleh 17 peserta yang merupakan perwakilan NGO dari berbagai provinsi di Indonesia.
Acara tersebut dibuka di Fave Hotel Makassar oleh Rizki Dwinanto, selaku Ketua Yayasan Sustain Aqua Indonesia (YSAI).
Dalam sambutannya, Rizki menyampaikan bahwa Workshop ini mengangkat isu yang sensitif karena seringkali budidaya udang tidak mampu berjalan seiring dengan pengembangan kawasan mangrove, bahkan cenderung merusak ekosistem mangrove yg sudah ada.
Selain sesi presentasi dari seluruh peserta mengenai profil dan kontribusi yang telah dilakukan, Workshop Nasional ini juga menyajikan presentasi dari empat narasumber yakni Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel, Muh. Saenong.
Hadir pula Akademisi/Dosen UMI, Harry Yuli, Praktisi/ PT Alter Trade Indonesia, dan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Balai Perikanan Budidaya Air Payau Kabupaten Takalar, Supito.
Setelah sesi presentasi dan tanya jawab dari keempat narasumber, peserta berangkat ke Kabupaten Pinrang untuk melakukan kunjungan lapangan.
Kunjungan lapangan tersebut dilakukan di salah satu tambak udang windu yang telah mencoba untuk melakukan harmonisasi dengan kawasan mangrove yang terletak di Kampung Barakka, Desa Jampue, Kelurahan Larinsang, Kec. Larinsang dan Desa Kasiee, Kec. Suppa.
Daerah tersebut merupakan lokasi kawasan pengembangan budidaya udang windu ramah lingkungan.
Adapun NGO lokal yang turut membersamai kunjungan sekaligus telah melakukan pendampingan tambak udang windu di lokasi tersebut adalah Kontinu Indonesia yang bekerjasama dengan PT. Atina (Alter Trade Indonesia) yang juga salah satu pemilik label Ecoshrimp di Indonesia.
Agenda dalam sesi kunjungan lapangan terdiri atas mengamati proses panen udang windu, proses pembuatan pakan alami, kegiatan di tempat pembibitan dan penangkaran benih (nursery), serta Penanaman mangrove.
Lalu ditutup dengan Diskusi mengenai hasil-hasil pengamatan selama di lapangan. Selepas dari agenda tersebut, juga terdapat Kunjungan ke pabrik pengolahan udang PT. Atina.
Perwakilan dari PT Atina, Harry Yuli Susanto menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kerjasama dari YSAI dan Walton Family Foundation yang telah mengunjungi sekaligus memberikan berbagai masukan untuk pengembangan budidaya udang windu yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“Kami menyadari bahwa Atina bukan ekspertis namun karena kesadaran itu, kami mengundang beragam pihak untuk terlibat bersama dalam mengedukasi, mendukung, hingga memitigasi risiko yang berpotensi hadir,”
“Oleh karenaya, kedepan beragam masukan akan kami coba untuk terapkan, sertapartisipasi masyarakat akan kami lebih dorong untuk terciptanya mata rantai yang melibatkan stakeholder strategis di masyarakat,” tutupnya.
(*)




