Matinya Kebebasan Akademik di Kampus

  • Whatsapp
Sofyan Basri, Dosen UKI Toraja

23 September 2019, seorang dosen menghubungi Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi (KPJKB). Namanya Dr. Ramsiah Tasruddin. Setelah berbicara melalui chat whatsapp, diputuskan untuk melakukan pertemuan hari itu juga. Saya dan beberapa kawan dari KPJKB menawarkan untuk bertemu di Sekretariat di Jalan Sungai Saddang, Kota Makassar.

Menjelang sore, Ibu Cia–begitu mahasiwanya di kampus menyapanya, datang bersama kerabatnya. Raut wajahnya ceria. Meski ketika itu, saya tahu Ibu Ramsiah sedang tidak baik-baik saja. Setelah berbicang cukup lama. Ibu Cia lalu mengeluarkan sejumlah berkas. Salah satunya surat panggilan pemeriksaan dari Polres Gowa. Seketika itu, ekspresi Ibu Cia berubah –mengalami tekanan yang cukup hebat.

Bacaan Lainnya

Ibu Cia lalu menjelaskan jika kasusnya diolah lagi. Nada dan tekanan suaranya jelas menunjukkan kegelisahan. Bahkan juga kekecewaan; bercampur disitu. Matanya mulai berbinar. Saya dan sejumlah kawan seperti ikut merasakan penderitaan dan ketidakadilan yang dialaminya. Sebab selama kasus yang dialami Ibu Cia bergulir. Dirinya seperti berjuang sendiri. Tak ada teman sejawat disisinya.

Respon kami jelas. Siap membantu sebisa kami. Salah satu yang kami tawarkan adalah melakukan aksi kamisan di depan Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Makassar. Kami tidak bisa terlibat terlalu jauh. Apalagi, masuk ke ranah hukum. Kami hanya akan memperkuat pada non litigasinya. Terutama memperkuat jaringan advokasi hingga ke Jakarta.

Selain itu, kami juga bergerak cepat. Tanggal 26 September 2021 kami putuskan untuk turun aksi kamisan. Segala persiapan dilakukan. Salah satunya menyiapkan bahan kampanye. Kami juga berkoordinasi dengan sejumlah organ kemahasiswaan. Utamanya dari Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar tempat Ibu Cia mengajar. Keperluan administrasi juga segera dibereskan.

Pada hari Kamis, tepat tiga hari setelah pertemuan kami dengan Ibu Cia, kami turun aksi. Tema yang kami angkat Save Dosen Ramsiah. Hari itu, kami semua merasakan betapa sangat sulitnya keadilan itu ditemukan. Juga betapa sulitnya kebebasan akademik di kampus itu diperjuangkan. Walau begitu, tekad dan semangat bersama Ibu Cia dan kawan-kawan terus tergelorakan –panjang umur perjuangan.

Aksi yang pertama itu membuat kasus ini mulai dilirik media. Bahkan media nasional juga ikut menyorot kasus ini. Karena itu, Ibu Cia kembali bersemangat. Life must go on. Kami juga terus memberikan dorongan kepada Ibu Cia agar tetap tabah dan tegar. “Saya menemukan kembali diri saya bersama kawan-kawan yang benar-benar serius membantu saya” kata Ibu Cia, ketika selesai aksi pertama itu.

Facebook Comments
  • Whatsapp

Pos terkait