Dampak Kenaikan BBM, Abdul Wachid Prihatin Dengan Kondisi Petani di Daerah

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Abdul Wachid

SUARAPANTAU.COM, JAKARTA – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Abdul Wachid sangat mengkhawatirkan kondisi petani di daerah akibat dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Legislator yang juga menjabat Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) ini mennyebut naiknya harga BBM telah membuat kehidupan para petani di daerah-daerah semakin nelangsa.

“Efek domino kenaikan bbm jelas berpengaruh terhadap Harga Pokok Produksi (HPP) petani dan tentu saja petani semakin berat menghadapi kondisi semacam ini. Kenaikan bbm membuat para petani menjerit bapak presiden,” lirih Ketua DPD partai Gerindra Jawa Tengah (Jateng) itu kepada wartawan, Kamis 8 September 2022.

Abdul Wachid menambahkan, pasca kenaikan harga bbm Pertalite dan Solar para petani kebingungan menghadapi kondisi yang semakin kompleks ini. Dan mereka tidak tahu harus mengadu ke siapa akan nasibnya.

“Petani padi, tebu, sayuran nelayan, tambak dan lain-lain mereka hidup di desa-desa pinggir laut di gunung-gunung jauh dari para elit dan tidak tahu cara menyuarakan jeritan hatinya,” ujar Wachid yang sesekali menyeka air mata.

Saat ini saja, kata Wachid, harga bbm jenis Solar yang sering dipakai para petani untuk mengolah kebun dan berlayar di laut langsung naik tinggi.

“Dari harga semula Rp5,150 liter naik Rp1.650 liter menjadi Rp6.800 liter, jelas sangat memberatkan para petani. Kenaikan bbm akan memberatkan beban biaya sarana produksi, upah buruh tani pasti naik, biaya angkut minta naik, beban biaya hidup naik, belum lagi harga pupuk naik, obat-obatan naik. Sedangkan di petani harga tidak ikut naik, bahkan kadang kalau harga di petani naik sedikit saja sudah ribut di media, seakan-akan petani tidak boleh mendapatkan keuntungan,” ungkapnya.

Wachid meminta agar presiden Jokowi memperhatikan nasib para petani yang terimbas kenaikan harga bbm.

“Presiden Jokowi bisa saja meluncurkan program kredit murah, pupuk subsidi di sediakan yang cukup. Harga bbm di kembalikan ke harga semula, sehingga nasib para petani di desa bisa terangkat kesejahteraannya,” tandas Ketua Bidang Produksi dan Pemasaran Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu.

(red)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait