Menakar Ketergantungan Impor Kedelai Indonesia

Menakar Ketergantungan Impor Kedelai Indonesia

Penulis: Ratih Rodliyah, Mahasiswa Jurusan Komputasi Statistik Politeknik Statistika STIS

KEDELAI merupakan salah satu komuditas pangan utama selain padi dan jagung di Indonesia. Produksi asli kedelai maupun hasil olahannya seperti tahu, tempe, kecap dan lainnya berperan penting dalam perekonomian nasional.

Indonesia menjadi negara konsumsi kedelai tertinggi ke-2 di dunia setelah Tiongkok. Permintaan konsumen dalam negeri yang semakin tinggi akibat dari semakin meningkatnya kebutuhan kedelai terutama sebagai bahan utama dalam pembuatan makanan pokok tahu dan tempe.

Permintaan tersebut tidak sebanding dengan produksi kedelai yang mampu dihasilkan oleh Indonesia.

Apabila kita lihat perkembangan produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2014 hingga 2018, produksi kedelai mengalami fluktuasi.

Indonesia sempat mengalami penurunan produksi kedelai secara drastis dari tahun 2016 sebesar 859.183 ton menjadi 538.728 ton di tahun berikutnya.

Penyumbang produksi kedelai tertinggi diduduki oleh provinsi Jawa Timur pada periode 2014-2018 yakni sebesar 33,03%.

Berdasarkan data kementrian pertanian, produksi kedelai di Indonesia mengalami penurunan di tahun 2019 menjadi 424,19 ribu ton, walaupun pada tahun 2018 mengalami kenaikan.

Penurunan ini terus berlanjut hingga tahun 2021, dimana Indonesia hanya berhasil memproduksi kedelai sebesar 300 ribu ton. Bahkan penurunan ini diperkirakan akan terus terjadi hingga tahun 2024.

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan