Berpolitik dengan Akal

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah 2020-2023

“Jangan sekali-kali kalian terkagum dengan seseorang yang baik dalam sambutannya (retorika), tetapi seseorang yang menunaikan amanah dan menahan diri dari pembicaraan kehormatan orang lain, dialah orang yang benar-benar mulia,” – Umar bin Khattab

POLITIK akhir-akhir ini gegap dengan isu tidak substansi. Seperti soal utang A ke B, si A lebih baik dari si B dan lain sebagainya.

Saking gaduhnya sebagian orang mungkin kesulitan melihat, apakah yang hari ini jadi “narasumber” pemberitaan berbagai media memang benar politisi ataukah mereka politisi abal-abal, yang suka mengumbar selentingan dan gunjingan.

Publik, tentu saja berbeda-beda level dalam memahami politik. Oleh karena itu sikap politisi sangat penting untuk mengedukasi mereka yang tidak tahu menjadi peduli dengan politik dengan bekal akal, bukan emosional.

Bacaan Lainnya

Namun, publik juga penting menjemput bola dalam hal memahami politik, sehingga tidak seperti buih yang ke kanan dan kiri tanpa landasan kesadaran diri. Ke Timur atau ke Barat tanpa memahami apa dasar manfaat dan maslahat. Semua benar-benar dikendalikan oleh pihak lain.

Mengenai cara memahami politik, ungkapan Umar bin Khattab yang termaktub dalam Sunan Al-Kubra Imam Baihaqi, bisa jadi metode kita. Karena selain sederhana bahasanya juga sangat operasional dalam kehidupan kita berpolitik di negeri ini.

“Jangan sekali-kali kalian terkagum dengan seseorang yang baik dalam sambutannya (retorika), tetapi seseorang yang menunaikan amanah dan menahan diri dari pembicaraan kehormatan orang lain, dialah orang yang benar-benar mulia.”

Kata mulia bisa kita transformasikan menjadi sosok layak memimpin. Jadi, dalam berpolitik carilah orang yang layak memimpin, itu adalah orang yang benar-benar mulia. Bukan karena ia kaya dan punya kemampuan mengolah kata, tetapi memang mampu memegang amanah setia. Dalam kehidupan politik pun akhirnya kita mengenal istilah rekam jejak.

Apabila dalam ruang publik terjadi seliweran pendapat, yang satu sama lain bergesekan bahkan berbenturan. Maka langkah paling logis yang publik bisa lakukan adalah membaca data, mana sosok yang memang punya rekam jejak sebagai pemimpin yang amanah. Cukup!

Arah Akal

Publik dalam berpolitik (memilih calon pemimpin baik legislatif maupun walikota/bupati bahkan presiden) harus mengarahkan akalnya pada kemaslahatan. Jadi pilihan politik tidak lagi karena ada “hasutan” yang melemahkan satu sama lain. Kita sendiri yang harus aktif membaca dengan data.

Jika tidak, maka “jualan” politik menjelekkan pihak lawan, mengolok-olok dan lain sebagainya masih akan menjadi senjata andalan para politisi yang bermasalah secara akhlak dan pemikiran. Kita harus jauhkan Indonesia dari hadirnya politisi yang tidak kompeten seperti itu.

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Komentar