Nahdlatul Ulama dalam Pusaran Politik dan Demokrasi

Anggota Bawaslu Jakarta Timur, Ahmad Syarifudin Fajar

KADER Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan dapat terus menguatkan peran masing-masing di segala bidang. Hal itu diharapkan agar dapat menopang dakwah NU dalam berbagai sektor kehidupan.

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) kalau secara anggaran dasar, visi misi, tujuan berdirinya sebagai organisasi sangatlah mulia.

Oleh Sebab itu, tujuan mulia didirikannya Nahdlatul Ulama (NU), harus terus diingat. Sehingga, tidak ada alasan untuk tidak melakukan upaya total kepada NU, Berbagai sektor pun perlu terus dikuatkan.

Baca Juga: Berpolitik dengan Akal

Bacaan Lainnya

Memasuki Tahun 2024 sebagai tahun politik memang terasa sekali. Di berbagai penjuru wilayah Indonesia sudah bertebaran spanduk, pamplet, baliho para politisi yang ingin bersaing berebut simpati rakyat.

Mereka ada yang berniat menjadi calon legislatif (caleg) DPRD Kabupaten/kota, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD RI. Sedangkan calon anggota legislatif sangat banyak sekali dan tentu akan sangat susah diingat, baik dalam visi misinya ataupun profil personalnya.

Maka sudah sangat penting bagi rakyat Indonesia untuk teliti dalam pelaksanaan pemilu ini, terutama dalam memilih calon anggota legislatif, karena dari sisi kuantitas jumlahnya sangat banyak sekali.dari sisi kualitas tentunya pilihan kita harusnya adalah para caleg yang punya profil positif dan rekam jejak yang bagus.

Baca Juga: 76 Tahun HMI: Membumikan Paradigma Islam Empowering

Tentunya kita tidak asal pilih sesuai dengan hati nurani saja, namun harus memakai akal sehat logis, dalam tulisan ini logika tersebut menggunakan pendekatan teori maqashid as-syari’ah, yaitu memilih calon pemimpin /perwakilan kita di parlemen nanti, bisa kita gunakan konsep maqashid as-syari’ah sebagai parameter visi misi dan kebijakan mereka.

Konsep Maqashidusyariah As-Syatibi

Konsep maqashidusyariah dipopulerkan oleh As-Syatibi (abad ke 7 H.) sebagai tujuan (maqashid) munculnya norma-norma syariah di muka bumi ini.

As-Syatibi merumuskannya dalam lima poin. Pertama, Hifdu ad-Diin yaitu menjaga agama. Konsep ini merumuskan norma-norma syariah adalah untuk menjaga agama Islam ini supaya bisa tetap bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *