Nilai yang menjadi perbedaan antara agama adalah tentang konsep tuhan/sosok supranatural. Perbedaan menjadi masalah yang sangat besar dalam kehidupan beragama. Terutama pada negara-negara yang mempunyai banyak perbedaan, seperti perbedaan antar suku, agama, tradisi, bahasa dan lainnya. Seperti halnya yang terjadi di Indonesia.
Dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, sikap keberagamaan yang ekslusif yang hanya mengakui kebenaran dan keselamatan secara sepihak, tentu dapat menimbulkan gesekan antar kelompok agama (Agus Akhmadi, 2019: 49). Tindakan-tindakan seperti itu pasti didasari oleh pemahaman dan sudut pandang tentang kebenaran.
Mereka beransumsi bahwasannya hanya mereka lah yang mempunyai hak dan kebenaran, tidak memikirkan terhadap pihak lain, tidak sadarnya atas sifat saling menghormati dan menghargai. Oleh karena itu, konsep moderasi beragama dapat menjadi solusi atas hal tersebut.
Moderasi Beragama dan Problematika Pemahamannya
Kata “moderasi” berasal dari bahasa Latin “moderatio”, yang berarti ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Di dalam KBBI moderasi berarti pengurangan kekerasan, penghindaran keekstreman. Jadi, ketika kata “moderasi” disandingkan dengan kata “beragama”. Jadi dapat didefinisikan sebagai cara pandang ,sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama (Kementrian Agama RI, 2019: 15-17).
Jika dilihat, banyak pelajar atau mahasiswa yang memahami sikap moderat dalam sudut pandang dalam beragama bersifat tengah-tengah atau tidak ke kanan dan tidak kekiri, muncullah istilah beragama itu biasa saja mereka berpandangan terhadaap orang yang taat kepada agama adalah sikap yang tidak moderat.
Maka dalam hal ini tidak sesuai ajaran yang ada dalam islam, karena islam memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam beragama, tidak setengah-setengah. Seperti yang tertera dalam surat QS. Al-Baqarah ayat 208:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Menjadi kekhawatiran terhadap pemahaman moderat yang di artikan seperti itu, maka perlu kalimat atau kata untuk lebih mudah di pahami bagi orang-orang yang baru saja belajar tentang moderasi beragama.
Kata “tengah-tengah” bisa di ganti dengan kata penengah, karena kata penengah lebih sepesifik sifatnya, dalam KBBI penengah mempunyai arti menengahi, pelerai, pemisah, pendamai.
Sejalan dengan tujuan moderasi yaitu mendamaikan antara pihak satu dengan pihak yang lain dan juga lebih mudah di pahami dari pada di artikan tengah-tengah.




