Senada dengan itu, salah satu Peneliti Polinet dalam FGD tersebut juga membeberkan fakta yang ditemukan diantaranya soal safety atau keamanan operasional di lingkungan Depo Pertamina.
“Kemudian kontrol dan safety system yang digunakan masih manual, padahal harusnya sudah automasi. Sebab sistem manual sangat mengancam masyarakat sekitar karena sangat potensial untuk terjadi ledakan dan kebakaran,” ungkap Nayla.
Polinet juga mengungkapkan, suatu keharusan bagi pihak pertamina untuk membuka data berkaitan dengan beberapa temuan tersebut ke publik.
“Termasuk hasil evaluasi dari pihak terkait seperti (Dirjen Migas) untuk menilai akurasi kelayakan operasional DEPO Pertamina Makassar,” bebernya.
Polinet menemukan, jika melihat konstruksi Depo Pertamina Makassar ditemukan hal-hal yang fundamental tidak sesuai design. Maka bukan tidak mungkin akan mendatangkan bencana dikemudian hari seperti kejadian meledaknya depo pertamina yang ada di Plumpang Jakarta Utara.
Seperti diketahui, pada tahun 2009 terjadi kebakaran di depo Pertamina Makassar, 1 orang meninggal. lalu Pada 2017, salah satu tiang penyangga tangki Depo Pertamina rubuh dan awak mobil tangki berlarian keluar dari lokasi depo Pertamina.
Olehnya itu, Polinet meminta kepada Pemerintah Kota Makassar, dalam hal ini Walikota Makassar dan DPRD Kota Makassar untuk mengambil langkah-langkah antisipasi demi menyelamatkan warga kota Makassar dari ancaman dan bahaya akibat keberadaan Depo Pertamina.
“Kami juga mendorong Pertamina dan PT. Pelindo untuk benar-benar memberi solusi sesuai tugas pokok masing-masing dalam menyelesaikan persoalan ini,” pungkas Nayla.
Sebelumnya, Doddy Wijaya selaku Perwakilan GM PT Pertamina MOR VII Makassar mengaku memiliki data bahwa Depo dan warga lokasinya memang sudah berdampingan sejak lama.
“Dari (tahun) 1995-an, dari foto lama itu kita sudah melihat memang posisi Depot sama posisi warga (sudah) berdampingan,” tutur Doddy saat RDP (Rapat Dengar Pendapat) di Komisi D DPRD Sulsel, pada Jumat (8/9/2023) lalu.



