Rakyat Bersatu: Menggugat Kampanye Hitam Jelang Pemilu 2024

Tolak Kampanye Hitam (ilustrasi)
Tolak Kampanye Hitam (ilustrasi)

POLISI, Penyelenggara dan stakeholder pemilu (Gakkumdu) tidak perlu ragu dalam mengusut kampenye hitam Tabloid Achtung dan Penerbit Buku Hitam Prabowo Subianto.

Kedua alat kampanye hitam tersebut mencemarkan nama baik calon presiden Prabowo Subianto, menghasut masyarakat, menyebar kebencian, yang termasuk dalam ranah Pasal 310 dan 311 serta Pasal 156 dan 157 KUHP (menghasut, menyebar kebencian).

Pemilik percetakan Tabloid Achtung dan Penerbit Buku Hitam juga bisa diseret ke pengadilan berdasarkan delik percetakan (drukpresdelict), Pasal 483, 484, dan/atau 485 KUHP.

Baca Juga: Ketum DPP SETIA PRABOWO Sutomo Pimpin Deklarasi di Kalimantan Barat

Bacaan Lainnya

Dalam perspektif komunikasi politik, memang kampanye itu ada dua jenis, yakni kampanye positif (positive campaign) dan kampanye menyerang (attacking campaign).

Kampanye positif fokus pada upaya memengaruhi pemilih dengan mengaitkan persepsi dan emosi khalayak pada hal-hal positif yang terhubung dengan kandidat. Tujuannya, tentu untuk menaikkan tingkat popularitas, keterpilihan, kesukaan, dan penerimaan pemilih.

Kampanye yang baik, tentu saja ialah kampanye berkonsep dan tepat pada target yang dibidik. Kampanye modern yang positif tersebut lebih banyak menyosialisasikan sekaligus membuka ruang pertarungan gagasan dan program.

Inilah yang dilakukan Prabowo-Gibran yang di asosiasikan oleh relawannya dengan menerbitkan dan mempublikasikan Tabloid Setia Prabowo.

Baca Juga: Capres Anies Baswedan Tidak Minta Maaf Soal Hoaks Harun Al Rasyid

Kampanye Hitam Ancaman Demokrasi

Kampanye menyerang (attacking campaign) fokus untuk melemahkan lawan. Ada dua jenis kampanye menyerang yang sangat biasa digunakan, yakni kampanye negatif dan kampanye hitam. Kampanye negatif menyerang pihak lain dengan data atau fakta yang bisa diverifikasi.

Artinya, seluruh data atau fakta yang diangkat ke permukaan untuk mendelegitimasi lawan, memungkinkan untuk diperdebatkan, dikritisi, dikoreksi.

Sementara itu, kampanye hitam menyerang pihak lain dengan gosip atau rumor bahkan fitnah yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Sumber penyebar pesan kampanye kerap bergerak musiman pada saat pilpres saja.

Ada empat teknik propaganda yang dipakai dalam operasi kampanye hitam untuk menyerang prabowo lewat penyebaran hoax dan fitnah melalui penyebaran Tabloid Achtung dan Buku Hitam Prabowo Subianto.

Pertama, teknik name calling, artinya pemberian label buruk pada Prabowo. Misalnya melabeli Prabowo sebagai capres penculik, padahal itu sama sekali tidak benar. Stigma ini hanya di munculkan jelang Pilpres.

Kedua, teknik card stacking, yakni dengan mengeluarkan pernyataan yang memiliki efek domino di masyarakat. Gosip yang dikonstruksi biasanya sensitif seperti agama atau ras dan cenderung mengipas-ngipasi kebencian terhadap kandidat.

Ketiga teknik transfer, yakni menyebarkan propaganda lewat lambang-lambang otoritatif yang diberi penafsiran berbeda dengan konteks sesungguhnya.

Keempat, teknik testimonial dengan cara mengutip dan menyebarkan pernyataan orang-orang yang dikenal luas oleh khalayak. Kerap kali pernyataan tokoh tersebut juga sudah diberi bingkai tertentu dengan tujuan membangun persepsi buruk terhadap Prabowo.

Dalam konteks rivalitas pilpres, sudah saatnya strategi kampanye hitam itu ditinggalkan dan diganti dengan beragam strategi yang lebih kreatif, mendidik, dan menghormati keadaban publik. Dalam pandangan Leon Ostergaard, sebagaimana dikutip Klingemann (2002), paling tidak ada tiga tahapan dalam kampanye.

Pertama, mengidentifikasi masalah faktual yang dirasakan. Syarat kampanye sukses harus berorientasi pada isu/program (issues/program-oriented). Kampanye harus diterjemahkan dari tema besar yang serba elitis ke real world indicators.

Dengan demikian, berbagai rincian program itu dapat menarik dan menjadi bagian utuh kesadaran pemilih atau apa yang Walter Lippmann tulis sebagai the world outside and pictures in our head. Bukan saatnya lagi para kandidat tetap menggulirkan bola panas kampanye hitam!

Meskipun kita menganut sistem demokrasi, liberalisme dalam demokrasi pun sejatinya ada batasnya, yakni kebebasan yang dibatasi oleh hak orang lain. Kebebasan tidak bersifat absolut, tetapi limitatif.

Demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang memiliki nilai dasar ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan kesejahteraan seperti tecermin dalam lima sila ideologi Pancasila.

Tepatlah jika di era 1950-an Wakil Presiden Drs Moh Hatta (Bung Hatta) menulis buku Demokrasi Kita (1966) yang menggugat demokrasi Indonesia yang terlalu liberal melebihi praktik demokrasi di negara-negara Barat.

Padahal Bung Hatta sendiri jebolan pendidikan Barat. Bung Hatta telah merasakan denyut nadi praktik demokrasi di Timur dan di Barat, sehingga validitas gugatannya tak diragukan lagi.

Sampai artikel ini ditulis, belum jelas tindakan tegas macam apa yang akan diambil Polisi, Penyelenggara dan stakeholder pemilu (Gakkumdu) terhadap Tabloid Achtung dan Penerbit Buku Hitam di tengah pertanyaan besar masyarakat.

PP RELAWAN SETIA PRABOWO
DR. Sutomo (Ketua Umum)
George Edwin Sugiharto (Sekretaris Umum)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang IklanCalon Bupati Luwu 2024

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *