Pentingnya Literasi Digital dalam Dunia Pendidikan di Era Revolusi Industri 5.0

Artificial Intelligence. Pixabay

PENTINGNYA Literasi Digital dalam Dunia Pendidikan di Era Revolusi Industri 5.0. Dalam era terkini, kemajuan pesat teknologi artificial intelligence (AI) membawa implikasi besar terhadap sektor pendidikan.

Sejarah panjang evolusi teknologi telah menciptakan peluang baru dan, sekaligus, tantangan yang tak terelakkan.

Perkembangan AI yang pesat membuka pintu untuk inovasi signifikan di sektor pendidikan. Dengan kecerdasan buatan, proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan individual siswa, menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal dan terfokus.

Baca Juga: Nazwar: Evaluasi Masifnya Artificial Intelligence

Namun, di balik kemungkinan luar biasa ini, kita juga dihadapkan pada pelbagai tantangan yang mengiringi integrasi teknologi ini dalam dunia pendidikan.

Dua pertanyaan mendasar perlu kita jawab: Apa saja potensi positif dan bahaya yang terkait dengan pemanfaatan AI di dunia pendidikan? Bagaimana kita dapat mengatasi risiko yang mungkin muncul dan memastikan bahwa pemanfaatan teknologi ini membawa dampak positif?

Transformasi Pembelajaran Menggunakan AI

Pemanfaatan AI menjanjikan transformasi mendasar dalam pendekatan pembelajaran. Pertama, kecerdasan buatan dapat membentuk pengalaman pembelajaran yang lebih personal dan sesuai kebutuhan siswa.

Baca Juga: Pihak Google Dalami Oknum Tim Artificial Intelligence yang Bocorkan Data

Dengan analisis data yang cermat, sistem dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan setiap siswa, memungkinkan pendekatan pembelajaran yang difokuskan.

Kedua, AI memungkinkan pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik. Dengan memanfaatkan teknologi seperti augmented reality atau virtual reality, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang memikat, meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan.

Kasus pembelajaran adaptif di Finlandia memberikan gambaran nyata tentang bagaimana AI meningkatkan keberhasilan belajar siswa. Sebagai ilustrasi, “Kide Science,” platform pembelajaran yang memanfaatkan AI, secara efektif memperluas pengalaman belajar sains anak-anak, membantu guru menyajikan materi dengan cara yang lebih menarik dan relevan.

Baca Juga: 10 Manfaat Jasa Managed SOC Amankan Perusahaan dan Data Digital dari Serangan Siber

Perkembangan teknologi AI yang pesat juga terwujud dalam implementasi platform pembelajaran adaptif seperti “DreamBox” yang berhasil meningkatkan kemampuan matematika siswa secara signifikan.

Dalam kata-kata Thomas Arnett, seorang pakar pendidikan, “Penggunaan AI memungkinkan personalisasi pembelajaran secara langsung, membantu siswa memahami konsep-konsep kritis dengan cara yang lebih mendalam.”

Selain itu, pemanfaatan AI dalam penilaian dapat membawa keakuratan dan objektivitas yang lebih tinggi.

Proses penilaian yang didasarkan pada analisis data dapat mengurangi bias dan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kemajuan siswa.

Dalam konteks penilaian, sistem AI seperti “Edulastic” membantu menciptakan pengalaman penilaian yang lebih adil.

Baca Juga: Aulia Arigierta: Peran Teknologi Terhadap Pembelajaran di Sekolah Dasar

Seperti diungkapkan oleh Susan Whitford, seorang guru, “Edulastic memberikan analisis yang lebih mendalam dan objektif, memungkinkan kita merespon kebutuhan individual siswa dengan lebih baik.”

Terakhir, efisiensi dan efektivitas pembelajaran dapat ditingkatkan melalui penggunaan AI. Automatisasi tugas administratif guru dapat memberikan lebih banyak waktu untuk fokus pada interaksi langsung dengan siswa, menciptakan pengalaman belajar yang lebih kaya.

Dalam merayakan potensi positif dan menghadapi tantangan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) di dunia pendidikan, kita tidak bisa mengabaikan kasus-kasus nyata yang memberikan gambaran konkret tentang dampaknya.

Sejumlah peristiwa nyata menggambarkan keberhasilan dan risiko yang terkait dengan integrasi AI di ruang kelas.

Baca Juga: Transformasi Big Data: Strategi Adaptasi Perubahan Iklim

Peran Literasi Digital

Seiring dengan kemajuan ini, kita juga harus mempertimbangkan kasus kekhawatiran terhadap ketidaksetaraan akses. Seperti disorot oleh UNESCO, “Pemanfaatan AI dalam pendidikan dapat meningkatkan kesenjangan digital jika tidak dielola dengan bijak.”

Pemanfaatan AI dalam pendidikan juga menghadirkan bahaya yang perlu diwaspadai. Pertama-tama, ada risiko ketidakadilan dalam akses pendidikan.

Sistem AI yang kurang cermat dapat menciptakan kesenjangan yang lebih besar dalam pendidikan, mengabaikan kebutuhan kelompok-kelompok tertentu.

Kedua, ketergantungan berlebihan pada AI dapat menciptakan ketergantungan yang merugikan. Penting untuk menjaga keseimbangan antara teknologi dan interaksi manusiawi agar pembelajaran tetap holistik.

Baca Juga: Prodi Dikdas PPs UNJ Gelar Seminar Nasional Transformasi Pendidikan Menyongsong SDM Era 5.0 

Selain itu, persebaran informasi yang salah juga menjadi risiko signifikan. Jika algoritma yang digunakan tidak transparan, kemungkinan penyebaran informasi yang tidak akurat atau bias dapat meningkat.

Bahaya penyalahgunaan data siswa juga menjadi perhatian serius. Perlindungan data pribadi siswa harus menjadi prioritas utama dalam penerapan teknologi AI di pendidikan.

kita juga harus memperhatikan kasus yang menyoroti bahaya potensial. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penggunaan sistem rekomendasi berbasis AI dalam seleksi kursus dapat memperdalam kesenjangan sosial. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Chris Gilliard, seorang peneliti etika teknologi, “Algoritma dapat menciptakan umpan balik berantai, mengarah pada ketidaksetaraan yang lebih besar.”

Contoh salah satu insiden adalah ketika sistem AI salah mengidentifikasi jawaban siswa yang salah sebagai benar, mengakibatkan penyebaran informasi yang tidak akurat.

Baca Juga: Cara Mudah Pemasaran Digital Content Placement di Media Online Nasional

Dalam kata-kata Dr. Audrey Watters, seorang peneliti pendidikan teknologi, “Ketidakakuratan algoritma dapat merusak integritas pendidikan.”

Untuk mengatasi risiko-risiko tersebut, langkah-langkah penanggulangan perlu diambil dengan serius. Pertama-tama, masyarakat pendidikan perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang bagaimana AI beroperasi.

Pendidikan tentang kecerdasan buatan harus menjadi bagian integral dari kurikulum untuk memastikan bahwa siswa dan guru memiliki pengetahuan yang cukup.

Berbicara tentang solusi, kasus di Estonia menunjukkan efektivitas kebijakan dan regulasi yang ketat terkait penggunaan AI di pendidikan.

Pemerintah Estonia telah menerapkan pedoman etika yang jelas dan mengintegrasikan pelatihan etika AI dalam kurikulum sekolah.

Kemudian, perlunya kebijakan dan regulasi yang ketat dalam penggunaan teknologi AI. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus bersinergi untuk menciptakan kerangka kerja yang memberikan panduan jelas terkait etika dan tanggung jawab penggunaan AI di dunia pendidikan.

Penting juga untuk melakukan pengembangan kompetensi guru dan siswa dalam menghadapi perubahan teknologi. Pelatihan terus-menerus diperlukan agar mereka dapat memahami, mengelola, dan memanfaatkan teknologi AI secara efektif.

Pengembangan kompetensi guru dan siswa juga terwujud dalam pengalaman di Singapura. Melalui program pelatihan yang holistik, guru dan siswa di Singapura telah mampu memanfaatkan teknologi AI dengan lebih baik, menjadikan mereka lebih mampu mengelola risiko dan memaksimalkan potensi positifnya.

Melalui telaah kasus dan refleksi terhadap pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan, Indonesia memiliki peluang besar untuk merajut masa depan pendidikan yang inklusif dan adaptif. Agar visi ini terwujud, sasaran konkret perlu ditetapkan, melibatkan semua elemen pendidikan di tanah air.

Sebagai langkah awal, pemerintah Indonesia perlu menetapkan kebijakan yang mendukung implementasi teknologi AI dalam kurikulum nasional.

Peningkatan kerjasama dengan lembaga-lembaga riset dan industri teknologi di dalam negeri dapat mempercepat integrasi ini, menghasilkan kurikulum yang relevan dan responsif terhadap perkembangan AI.

Pada tingkat sekolah, pengembangan kompetensi guru dalam mengimplementasikan teknologi AI menjadi esensial. Program pelatihan yang terarah dan terukur akan memastikan bahwa setiap guru memiliki pemahaman yang memadai dan dapat mengoptimalkan potensi AI sesuai kebutuhan siswa.

Tidak kalah penting, melibatkan sektor swasta untuk berperan aktif dalam penyediaan infrastruktur teknologi AI di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia akan memastikan akses yang merata. Kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan teknologi lokal dapat membentuk ekosistem pendidikan yang berkelanjutan dan inklusif.

Dalam rangka melindungi data siswa dan menjaga etika penggunaan AI, pemerintah perlu merumuskan regulasi yang ketat. Transparansi dan keterbukaan dalam pengumpulan dan penggunaan data menjadi landasan utama untuk menciptakan kepercayaan dalam penggunaan teknologi AI di dunia pendidikan.

Sebagai negara berpenduduk besar dengan ragam budaya, Indonesia berdiri di persimpangan masa depan pendidikan yang dipengaruhi oleh teknologi Artificial Intelligence (AI).

Melalui pengkajian kasus diatas dan refleksi mendalam dari kasus diatas tadi, kita dapat membayangkan suatu pendidikan yang tidak hanya cerdas secara buatan, tetapi juga cerdas dalam memanfaatkan potensi setiap siswa.

Kesimpulannya, Indonesia memiliki peluang  untuk mengukir terobosan pendidikan melalui pemanfaatan teknologi AI.

Dengan menetapkan sasaran konkret yang melibatkan semua elemen pendidikan, dari pemerintah hingga tingkat sekolah, kita dapat membentuk masa depan pendidikan yang memastikan setiap generasi mendapat manfaat maksimal dari inovasi teknologi AI, menjadikan Indonesia sebagai pelopor dalam pembelajaran adaptif dan inklusif di dunia.

Penulis: Muhammad Ridwan Hanafie (Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait