Buku Adi Sasono Seribu Gagasan Seribu Tindakan

Buku Adi Sasono Seribu Gagasan Seribu Tindakan
Buku Adi Sasono Seribu Gagasan Seribu Tindakan

SUARA PANTAU – Profil Adi Sasono (16 Februari 1943 – 13 Agustus 2016) merupakan aktivis, tokoh lembaga swadaya masyarakat dan berbagai aktivitas kemasyarakatan lainnya.

Adi Sasono mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia pada era Kabinet Reformasi Pembangunan.

Semasa muda Adi Sasono menghabiskan waktunya sebagai aktivis dan organisatoris yang progresif.

Baca Juga: Profil H Eddy Salassa Ketua Umum DPP HIMAS Sinjai 2022-2027

Bacaan Lainnya

Aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI), Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Saat aktif di ICMI, Adi Sasono pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum pada tahun 1990-an.

Kerjakan yang engkau tahu nanti Allah memberi tahu apa yang engkau tidak tahu – petikan Hadis Qudsi yang menjadi pegangan Adi Sasono dalan berkarya.

Baca Juga: Profil Maryani Djojohadikusumo Kakak Kandung Prabowo Subianto

Belajar dari Adi Sasono

Bagi Adi Sasono, seseorang tidak boleh hanya berwacana, tetapi apa yang ada dalam pikiran kemudian mengerucut menjadi ide, harus diimplementasikan, dijalankan.

Sedikit apapun yang kita tahu, tetap jalankan, nanti Allah akan memberi tahu yang kita tidak tahu.

Saya berpikir bahwa pada akhirnya tujuan hidup adalah mencari mati yang baik.

Baca Juga: 4 Etika Politik Prabowo yang Perlu Dicontoh Tokoh Lain

Untuk mencari mati yang baik, maka seseorang hendaknya hidup yang baik. Secara personal saya berpendapat bahwa hidup yang baik itu berarti memberi manfaat kepada sesama.

Tetapi juga memaafkan orang lain yang berbuat khilaf kepada kita, menyayangi orang yang tidak suka kita, dan memberi kepada yang kikir kepada kita.

Ajaran mulia tersebut tentu berarti menekan ego kita yang cenderung ingin diakui dan dihormati.

Juga mungkin cenderung pula ingin mengambil dari kehidupan sekitar daripada memberi serta berhasrat memiliki lebih dari yang ada atau lebih dari yang diperlukan.

Saya tidak merasa mampu untuk itu meski saya mencoba dari waktu ke waktu.

Saya rasa akhlak yang mulia bukan suatu formula sekali jadi. Ia berangkat dari kekurangan atau cacat untuk menempuh kemungkinan-kemungkinan baru, yang semoga lebih baik dari sebelumnya.

(***)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *