Di negeri yang tanahnya menyimpan rindu pada kejayaan masa silam, politik sering kali dipandang seperti cuaca yang tak menentu: kadang mendung oleh janji, kadang terik oleh perdebatan.
Namun, jika kita menilik lebih dalam ke balik jendela gedung-gedung tinggi di ibu kota, ada sebuah tarian intelektual yang sedang dimainkan dengan rapi dalam lakon Asta Cita.
Ada sosok-sosok yang kami sebut sebagai Ilmuwan Politik. Mereka adalah para penjaga kompas. Mereka tidak silau oleh hingar bingar tepuk tangan, melainkan duduk menekur di depan peta-peta tua sejarah dan data.
Di sebuah negeri yang garis pantainya adalah barisan puisi yang tak habis dibaca, politik sering kali menyerupai pasar malam yang gaduh.
Namun, jika kita sejenak menjauh dari keriuhan itu dan duduk di kursi kayu yang reyot sambil memandang ufuk, kita akan menyadari bahwa membangun sebuah bangsa yang besar tak ubahnya seperti merawat sebuah kebun raksasa yang tanahnya penuh dengan misteri dan harapan.
Dalam awal langkah roda pemerintahan ini, di bawah panji visi besar yang disebut Asta Cita, kita sedang menyaksikan sebuah simfoni yang ganjil namun menakjubkan antara dua jenis manusia: sang Ilmuwan Politik dan sang Insinyur Politik.
Para Penjaga Kompas yang Tekun
Ilmuwan Politik adalah mereka yang menghabiskan malam-malam panjang dengan dahi berkerut, menatap konstelasi bintang di langit sosiologi.
Mereka adalah para pemikir konstelasi dasar. Bagi mereka, gejala sosial-politik bukan sekadar peristiwa yang lewat begitu saja seperti angin muson.
Tidak, kawan! Baginya, setiap kericuhan, setiap kelaparan, dan setiap ketimpangan adalah sebuah pesan rahasia dari struktur sejarah yang mendalam.
Mereka bicara tentang kedaulatan dengan nada yang mistis namun logis. Mereka membedah anatomi bangsa ini hingga ke tulang sumsumnya, mencari tahu mengapa jantung ekonomi kita kadang berdegup kencang namun darahnya tak sampai ke ujung jari-jari di pelosok 3T.
Mereka memberikan diagnosa yang dingin, seakurat seorang ahli matematika yang sedang menghitung jarak bumi ke matahari. Tanpa mereka, bangsa ini akan berjalan seperti orang buta di tengah badai punya semangat, tapi tak tahu arah.
Para Pemegang Palu yang Berkeringat
Namun, di sisi lain, ada sosok-sosok yang lebih gemar berbicara dengan tindakan daripada kata-kata bersayap. Inilah para Insinyur Politik. Jika sang Ilmuwan adalah orang yang menggambar peta, maka sang Insinyur adalah orang yang menebas semak belukar agar jalan itu benar-benar bisa dilewati.
Mereka tidak punya waktu untuk berdebat tentang estetika sebuah kebijakan di atas kertas yang wangi. Fokus mereka adalah solusi praktis. Mereka adalah praktisi yang tangannya kasar oleh kerja-kerja teknis.
Ketika gejala sosial berupa anak-anak yang lesu di sekolah muncul di hadapan mereka, para insinyur ini tidak hanya menulis makalah.
Mereka segera merakit mesin logistik, menghitung kalori, dan memastikan program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar slogan di baliho yang luntur kena hujan, melainkan menjadi piring-piring penuh protein di meja kayu anak-anak sekolah yang matanya berbinar penuh mimpi.
Asta Cita: Jembatan yang Dibangun dengan Cinta
Kini, Presiden Prabowo berdiri di tengah dua kekuatan ini. Beliau sedang menjalankan kepemimpinan yang mencoba mengawinkan teori-teori agung tentang kemandirian bangsa dengan ketangkasan tangan seorang teknokrat.
Pencanangan awal pemerintahan ini adalah sebuah pembuktian bahwa Asta Cita bukan hanya soal angka-angka pertumbuhan ekonomi yang kaku di atas meja kerja para menteri.
Ia adalah sebuah usaha untuk merancang kembali nasib.
Ia adalah tentang bagaimana “insinyur-insinyur” di kementerian menerjemahkan “ilmu” dari sang pemikir menjadi beras, menjadi jembatan, menjadi sekolah, dan menjadi martabat bagi rakyat jelata.
Kita melihat sebuah bangsa yang sedang bersolek, namun bukan kecantikan yang semu. Kita sedang memperbaiki fondasi bangunan yang selama ini mungkin agak miring tertiup angin zaman.
Dari Sumatera hingga ujung Papua, roda-roda itu mulai berputar.
Dan di setiap putarannya, ada doa dari orang-orang kecil yang berharap bahwa perpaduan antara kecerdasan berpikir dan ketulusan bekerja ini akan membawa mereka menuju sebuah gerbang yang selama ini hanya berani mereka impikan: Indonesia Emas.
Sebab pada akhirnya, politik yang paling agung adalah politik yang mampu mengubah air mata menjadi senyuman, dan mengubah keraguan menjadi keyakinan yang seteguh gunung batu.
Kita sedang melukis masa depan, dan kali ini, kita menggunakan tinta yang takkan luntur oleh sejarah.
(***)




