Sofyan Basri (Dosen Teknologi Pendidikan FIP UNM)
Ada sebuah kecemasan yang datang diam-diam. Ia tidak datang dengan suara keras. Tidak pula melalui pidato yang menggelegar. Ia hadir dalam bahasa yang tampak masuk akal: efisiensi, relevansi, daya saing, kebutuhan industri, pasar kerja masa depan.
Kata-kata itu terdengar modern. Bahkan menjanjikan. Tetapi seperti semua bahasa kekuasaan, ia menyimpan sesuatu yang tidak selalu diucapkan.
Hari-hari ini kita mendengar wacana tentang perlunya pendidikan berorientasi STEM. Sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dianggap sebagai jalan utama menuju kemajuan bangsa. Di tengah perlombaan global, argumen itu mudah diterima. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menghasilkan teknologi yang lebih baik, energi yang lebih bersih, kesehatan yang lebih terjangkau, atau sistem produksi yang lebih efisien.
Saya tidak menolak STEM. Bagaimana mungkin kita menolak pengetahuan yang membantu manusia mengatasi penyakit, memperpendek jarak, atau meningkatkan kesejahteraan hidup?
Masalahnya bukan pada STEM. Masalahnya muncul ketika STEM diangkat menjadi satu-satunya bahasa yang dianggap sah untuk berbicara tentang masa depan. Di titik itu pendidikan mulai kehilangan sebagian jiwanya.
Sebab manusia tidak hanya hidup dengan angka. Tidak pula hanya dengan algoritma. Kita hidup dengan ingatan, dengan sejarah, dengan makna, dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu dapat dihitung melalui rumus atau diterjemahkan menjadi grafik pertumbuhan ekonomi.
Di ruang itulah ilmu-ilmu sosial dan humaniora bekerja. Mereka tidak menciptakan mesin. Tetapi mereka membantu kita memahami mengapa mesin itu dibuat dan untuk siapa ia bekerja.
Mereka tidak menemukan kecerdasan buatan. Tetapi mereka mengajukan pertanyaan yang lebih tua dan lebih sulit: apa yang terjadi ketika kecerdasan menjadi komoditas? Apa yang terjadi ketika manusia mulai dinilai sebagaimana perusahaan menilai aset?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak menghasilkan paten. Tetapi peradaban membutuhkan pertanyaan semacam itu.
Ketika sebuah bangsa mulai memandang pendidikan hanya dari sudut manfaat ekonomi yang dapat diukur, saat itulah pendidikan berubah menjadi pelatihan tenaga kerja. Universitas perlahan bergeser menjadi pabrik keterampilan. Mahasiswa dipandang sebagai investasi. Dosen menjadi operator. Pengetahuan berubah menjadi produk.
Segalanya memiliki harga. Dan apa yang tidak memiliki harga dianggap tidak berguna. Barangkali di sinilah kita perlu berhati-hati. Karena kapitalisme modern memiliki kemampuan luar biasa: ia dapat mengubah hampir semua hal menjadi komoditas. Bahkan mimpi, perhatian dan waktu luang.
Kini pendidikan pun tak luput dari godaan yang sama. Dalam logika ini, STEM tidak lagi dipahami sebagai sarana pembebasan manusia, melainkan sebagai instrumen untuk memperluas pasar. Teknologi tidak lagi ditanyakan manfaat sosialnya, melainkan potensi keuntungannya. Inovasi tidak lagi diukur dari kemampuannya memperbaiki kehidupan bersama, tetapi dari kemampuannya menciptakan nilai tambah bagi modal.
Akibatnya, universitas didorong untuk menghasilkan lulusan yang sesuai kebutuhan industri, bukan warga yang mampu membayangkan masyarakat yang lebih adil esok hari. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan teknologis tidak otomatis melahirkan kemajuan kemanusiaan.
Abad ke-20 menghasilkan pesawat terbang, komputer, dan energi nuklir. Tetapi abad yang sama juga menghasilkan kamp konsentrasi, bom atom, dan berbagai bentuk penghancuran manusia yang dilakukan secara sistematis. Teknologi berkembang. Kebijaksanaan tidak selalu ikut berkembang.
Karena itu pertanyaan tentang pendidikan sesungguhnya bukan pertanyaan tentang jurusan mana yang lebih penting. Bukan STEM atau humaniora. Bukan teknik atau filsafat. Bukan kecerdasan buatan atau sosiologi. Pertanyaannya adalah: pendidikan hendak membentuk manusia seperti apa?
Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang terampil tetapi kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan ketidakadilan, kita sedang menuju masyarakat yang efisien namun rapuh. Jika pendidikan hanya melahirkan pencipta teknologi yang tidak memahami konsekuensi sosial dari ciptaannya, kita sedang membangun masa depan yang canggih sekaligus berbahaya.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak pernah sekadar soal pekerjaan. Pendidikan adalah ruang tempat sebuah bangsa membicarakan dirinya sendiri: tentang cita-cita, tentang nilai, tentang arah yang ingin dituju.
Di ruang itu, STEM diperlukan. Tetapi demikian pula sejarah, sastra, antropologi, filsafat, pendidikan, dan seluruh ilmu yang membantu manusia memahami dirinya sendiri.
Sebab persoalan terbesar umat manusia bukanlah bagaimana menciptakan teknologi yang lebih kuat. Melainkan bagaimana memastikan bahwa kekuatan itu tidak membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.
Dan mungkin, justru pada saat dunia semakin dipenuhi mesin, kita semakin membutuhkan ilmu-ilmu yang mengingatkan bahwa di balik semua kemajuan itu masih ada manusia—yang dapat bermimpi, meragukan, mencintai, dan mempertanyakan.
Pendidikan yang baik tidak memaksa salah satu untuk mengalahkan yang lain. Ia mempertemukan keduanya. Teknologi yang cerdas dan kemanusiaan yang tetap sadar.




