Opini

Belajar dari Kisah Hidup Lee Myung Bak, Pemuda Miskin Terpilih Jadi Presiden Korsel

Oleh: Anco

SUARAPANTAU.COM – Pada Pukul 03.00 dini hari saya masih menikmati dan menelaah bait- bait kalimat Buku karangan H.A.R. TILAAR yang berjudul KEBIJAKAN PENDIDIKAN. Prof. Dr. Tilaar mempunyai sejuta gagasan yang disumbangkan kepada bangsa dan negara terutama di Bidang Pendidikan. Prof. Tilaar adalah Dosen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Beliau merupakan Guru Besar yang sangat Produktif, buktinya beliau sudah menulis puluhan buku dan jurnal nasional maupun internasional.

Terbesit dalam Pemikiran saya bahwa apakah saya bisa menjadi seorang pendidik yang produktif seperti beliau, yang nota bene sudah menulis puluhan buku dan jurnal. ataukah harapan saya hanya sebuah mimpi yang tidak akan tercapai. Saya termenung beberapa saat sembari merefleksi diri. Tiba- tiba saya teringat kisah seorang pemuda miskin yang menjadi PRESIDEN Korea Selatan (Lee Myung Bak)

Perjalanan hidup beliau (Lee Myung Bak) menjawab keraguan dan kesangsian saya. Kisah Presiden yang nota bene anak petani tesebut membuat semangat saya membara, bahwa tidak ada yang mustahil, kalau kita memiliki niat yang kuat untuk belajar, tidak ada alasan untuk tidak belajar karena kita masih diberikan kesempatan untuk hidup di Dunia ini.

Selagi masih bisa bernapas berarti kita masih bisa berkarya, dimanapun kita berada, seperti kisah seorang pemuda yang dulunya miskin, siapa sangka Lee Myung Bak bisa menjabat Presiden Korea Selatan pada tanggal 25 Februari 2008 yang nota bene pemuda tersebut merupakan anak dari seorang petani di Korea Selatan.

Semasa Remaja Lee Myung-bak menjalani hari- harinya dengan mengkonsumsi ampas gandum gratis dan mengganjalnya dengan banyak air, di usia remaja, ia menjadi pengasong makanan murahan dan es krim, lalu menjadi buruh bangunan. Satu hal yang menjadi prinsip hidup Lee Myung-bak yakni memiliki motivasi dan tekat yang kuat.

Pada tanggal 25 Februari 2008 ia dilantik menjadi orang nomor SATU di Korea Selatan, dia membuktikan sekalipun berasal dari keluarga miskin, tapi dia mempunyai sejantah yang ampuh yakni tekat dan kemauan yang kuat untuk menghantarkannya pada puncak kesuksesan.

Dari kisah pemuda miskin tersebut, saya yakin seorang anak petani, nelayan, buruh pubrik, pumulung dan anak kos- kosan yang puasa senin kamis, seperti yang dilakoni kebanyakan mahasiswa Buton dijakarta punya kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan. ada pesan dari Senior saya yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri YUMARDIN KEDANG pernah bepesan kepada saya bahwa, jangan pernah puas dengan apa sudah anda nikmati saat ini, karena masih ada gunung yang lebih tinggi yang harus kita kalahkan.

Menuju keberhasilan harus ada harga yang harus dibayar, proses demi proses harus kita lewati demi mencapai sebuah keberhasilan, JANGAN PERNAH KATAKAN BAHWA SAYA ORANG MISKIN DAN TIDAK BISA BERBUAT APA- APA, orang miskin bisa jadi jadi Guru, Dosen, Anggota DPR Bahkan Presiden. tidak ada yang mustahil, apapun itu proses dan dididkan yang harus kita lewati.

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Close
Close
%d blogger menyukai ini: