Kursi Khusus Untuk Dubes

Penulis: Andi Zulkarnain, Sekretaris Dubes RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan

KEMARIN saya dan beberapa tim ke kantor untuk menyiapkan ruang rapat baru di bagian belakang KBRI. Suasana alam khas musim panas masih bisa dinikmati di ruangan tersebut, sebelum musim salju datang menyapa.

Hal ini juga sebagai tafsir atas arahan Presiden Jokowi bahwa dalam situasi krisis, kita harus mampu mengubah frekuensi kita dari frekuensi yang normal ke frekuensi yang extraordinary.

Cara kerja yang berubah, dari cara kerja yang rutinitas menjadi cara kerja yang inovatif dan selalu mencari smart shortcut. Semoga suasana rapat yang berbeda bisa melahirkan ide-ide cemerlang untuk kemajuan organisasi, terutama peningkatan pelayanan publik.

Terkait penataan ruangan, saya mendapatkan usulan menarik dari salah satu staf di KBRI. Katanya, sebaiknya kursi Pak Dubes dibedakan dengan kursi staf lain yang akan rapat.

Tentu saya bisa memahami gagasan tersebut berangkat dari niat yang sangat tulus untuk menghormati dan melayani pimpinan.

Sebagai sekretaris, saya kemudian menjawab dengan penuh hormat bahwa Bung Dubes Fadjroel lebih suka yang egaliter. Semua disamakan sebagai manusia. Asal kursi nyaman, maka itu sudah lebih dari cukup bagi beliau. Sudah 17 tahun saya melihat beliau menikmati hidupnya dengan cara itu.

Demikian halnya saat akan melakukan perjalanan dinas menggunakan pesawat, beliau meminta kepada bagian administrasi kantor agar dipesankan kelas ekonomi saja agar sisa dana bisa digunakan untuk menjalankan program yang lain. Katanya, naik pesawat itu sama saja, yang penting sampai dengan selamat.

Pada momen peresmian Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kazakhstan tanggal 19 Juli 2022, Bung Fadjroel menyampaikan bahwa beliau lebih senang dipanggil Bung. “Saya lebih senang dipanggil Bung. Sejak di kampus saya dipanggil Bung. Saya tidak senang dengan hirarki. Dulu saya dipanggil Bung Jubir, sekarang Bung Dubes.

Panggilan Bung diperkenalkan oleh para pendiri bangsa kita karena mereka mau mendirikan negara yang egaliter. Bagi saya jabatan atau apapun yang namanya hirarki, itu hanya atribut. Malam ini saya bisa selesai menjadi Dubes dan kembali menjadi orang biasa. Jadi mari kita bersahabat sebagai manusia biasa yang setara”.

Semua Duta Besar dipanggil Yang Mulia, termasuk Bung Fadjroel. Panggilan ini berlaku seumur hidup. KBBI memberi 3 opsi pengertian dari kosakata “Mulia”, yakni 1 tinggi (tentang kedudukan, pangkat, martabat), tertinggi, terhormat: yang – para duta besar negara sahabat; 2 luhur (budi dan sebagainya); baik budi (hati dan sebagainya): sangat — hatinya; 3 bermutu tinggi; berharga (tentang logam, misalnya emas, perak, dan sebagainya): logam –;hendak — bertabur urai, pb jika orang ingin mendapatkan kemuliaan atau ingin mulia di mata orang lain, hendaklah berani mengeluarkan uang, jangan kikir. Bung Dubes Fadjroel, sepertinya ingin lebih fokus pada pengertian dan penggunaan yang ke 2 dan 3.

Saya melanjutkan percakapan dengan staf tadi, bahwa Bung Fadjroel hanya mencoba terus konsisten pada spirit untuk mendorong demokrasi di negeri yang dulu otoriter, dimana nilai kemanusiaan manusia saat itu, tidak seperti saat ini. Demikian halnya, sebagai alumni Nusakambangan (saat menjadi tahanan politik Orde Baru) beliau belajar banyak arti kesamaan nilai manusia.

Oleh sebab itu, saat beliau diberi amanah oleh negara, beliau berusaha tidak melupakan nilai-nilai yang dulu diperjuangkannya, termasuk bagaimana pejabat digaji untuk melayani, bukan untuk menikmati fasilitas mewah dari uang rakyat yang terkumpul di APBN.

Dipilihnya tagline baru #NurSultanTheServingEmbassy juga merupakan bagian dari ikhtiar menjadikan melayani sebagai habitus seluruh tim KBRI.

Salam

Nur-Sultan, 21 Agustus 2022

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait