SUARAPANTAU.COM – Tradisi lisan Sinrilik, salah satu khazanah budaya takbenda masyarakat Bugis-Makassar, kini tengah menghadapi tantangan eksistensial di tengah derasnya arus modernisasi.
Seorang praktisi seni pertunjukan, Muhammad Thahir M, menyoroti bahwa seni pertunjukan menjadi jembatan vital agar tradisi ini tidak sekadar diawetkan sebagai artefak masa lalu, melainkan dihidupkan kembali sebagai warisan abadi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Hal ini mengemuka dalam sebuah paparan tematik bertajuk “Sinrilik di Persimpangan Zaman” yang baru-baru ini menjadi perbincangan di kalangan pelaku seni dan akademisi dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) budaya, di Minihall FKIP Unismuh Makassar, Rabu, 17 Juni 2026.
Kegiatan FGD budaya ini merupakan forum diskusi budaya terkait Sinrilik yang dirancang sebagai upaya pemajuan kebudayaan yang ada di Indonesia, khususnya di kabupaten Gowa.
Suyuti selaku koordinator tim kerja FGD sangat berharap melalui forum diskusi ini lahir sebuah rekomendasi yang nantinya menjadi perhatian semua pihak. “Kami sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat pada kegiatan FGD ini, terlebih lagi jika mampu memberikan usulan rekomendasi terkait bagaimana bentuk pelestarian dan pewarisan Sinrilik, bagaimana model pendokumentasiannya, serta bagaimana kebijakan dan dukungan pemerintah,” jelasnya.
Dalam paparannya, Muhammad Thahir mengingatkan bahwa Sinrilik bukanlah sekadar hiburan rakyat, melainkan sebuah arsip pengetahuan kolektif yang menyimpan sejarah, nilai-nilai moral, filosofi hidup, hingga identitas budaya komunitas Bugis-Makassar.
Sejalan dengan pengakuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), tradisi lisan dan seni pertunjukan merupakan komponen penting dari warisan budaya takbenda yang harus diwariskan secara berkesinambungan antargenerasi.
Namun, eksistensi Sinrilik saat ini terancam oleh berbagai tantangan kompleks. Mulai dari krisis regenerasi penutur atau pasinrilik, semakin sempitnya ruang pertunjukan, kurangnya dokumentasi sistematis, hingga rendahnya apresiasi dari generasi muda terhadap budaya lokal.
Thahir menegaskan bahwa tanpa intervensi serius, tradisi lisan ini berpotensi kehilangan penutur aslinya dan berubah menjadi kenangan sejarah semata.
Menghadapi krisis tersebut, Thahir mengajukan sebuah konsep pergeseran paradigma, dari sekadar pelestarian menuju revitalisasi. Ia berargumen bahwa tradisi tidak cukup hanya disimpan dalam museum atau catatan kaki, tetapi harus dihidupkan kembali melalui praktik budaya yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masa kini. “Seni pertunjukan menjadi ruang transfer nilai, pengetahuan, pengalaman budaya, dan identitas kolektif,” ujarnya, menekankan bahwa panggung pertunjukan adalah ruang hidup utama bagi keberlanjutan tradisi lisan.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya transformasi tanpa kehilangan identitas. Inovasi dalam bentuk dan media pertunjukan dinilai perlu dilakukan, selama nilai-nilai dasar Sinrilik tetap terjaga. Thahir melihat digitalisasi sebagai peluang emas, bukan ancaman.
Pemanfaatan teknologi, atau yang ia sebut sebagai Digital Heritage, dapat membuka akses luas untuk dokumentasi, diseminasi, dan edukasi budaya kepada khalayak yang lebih besar, termasuk generasi digital native.
Untuk mewujudkan visi revitalisasi ini, Thahir menekankan perlunya membangun ekosistem kebudayaan yang kolaboratif. Ia merekomendasikan adanya sinergi lintas sektor yang melibatkan para maestro, praktisi seni, perguruan tinggi, pemerintah, komunitas budaya, media massa, hingga partisipasi aktif generasi muda.
Rekomendasi strategis yang diajukan mencakup pendokumentasian mendalam terhadap para maestro, pembangunan arsip digital yang terintegrasi, penguatan pendidikan budaya di kurikulum formal dan nonformal, penyelenggaraan festival rutin, serta program regenerasi terstruktur bagi calon pasinrilik.
Menutup paparannya, Thahir memberikan pesan mendalam bahwa masa depan Sinrilik sepenuhnya bergantung pada kesediaan kita bersama. “Tradisi diwariskan oleh manusia. Masa depan Sinrilik bergantung pada kesediaan kita untuk menuturkannya, mempertunjukkannya, mendokumentasikannya, dan mewariskannya,” tegasnya.
Tanpa gerakan kolektif yang sadar dan terencana, kekayaan budaya lisan ini terancam punah di era digital. Sebaliknya, dengan inovasi dan kolaborasi, Sinrilik berpotensi bangkit menjadi simbol kebanggaan budaya yang abadi. (*)

