SUARAPANTAU.COM – Pendukung Joko Widodo dibuat naik pitam dan memviralkan tagar #UninstalBukalapak dengan unggahan pendiri dan CEO Bukalapak, Achmad Zaky tentang alokasi riset dan pengembangan (R&D) dalam era industri 4.0.
Dalam postingannya bos Bukalapak itu menyinggung daftar alokasi riset dan pengembangan sebuah negara. Dia mengutip daya alokasi riset dan pengembangan 2016 Indonesia yakni US$2 miliar dengan peringkat nomor 43.
Alokasi itu jauh kalah dengan negara maju seperti Amerika Serikat dengan alokasi US$511 miliar (peringkat pertama), maupun Singapura dengan alokasi US$10 miliar (peringkat 10).
Tujuan dari tweet saya adalah menyampaikan fakta bahwa dalam 20 sampai 50 tahun ke depan, kita perlu investasi di riset dan SDM kelas tinggi. Jangan sampai kalah sama negara2 lain.
— Achmad Zaky (@achmadzaky) February 14, 2019
Kendati mendapat respon reaktif dari pendukung Jokowi melalui tagar #UninstalBukalapak, unggahan Achmad Zaky tersebut juga mendapat dukungan dari warganet dengan tagar #DukungBukalapak.
Alhasil, peran tagar di jagat maya tersebut jadi perhatian serius. Salah satu pakar IT, Ismail Fahmi turut berkomentar atas sikap reaktif pendukung Jokowi.
#UninstallBukalapak vs #DukungBukalapak
Sekarang tagar tandingan muncul. Makin rame. Adu kuat.
Bela kubu atau bela anak bangsa? pic.twitter.com/EJduT47M4u
— Ismail Fahmi (@ismailfahmi) February 14, 2019
“#UninstallBukalapak vs #DukungBukalapak Sekarang tagar tandingan muncul. Makin rame. Adu kuat. Bela kubu atau bela anak bangsa?,” tulis Ismail Fahmi.
Hal tersebut, bukan tanpa alasan, mengingat Bukalapak merupakan e-commerce karya anak bangsa ditengah menjamurnya e-commerce asing di dalam negeri.(RN)


