Ironi Tempe Mendoan: Catatan Kecil Antara Kehangatan Tradisi dan Getirnya

Penulis: M Japar, Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

BERKUNJUNG ke Pekalongan sambil menunggu kolega yang belanja batik, saya duduk bersama teman-teman di warung sederhana, sebagian minum kopi dan sebagian menikmati tempe mendoan yang hangat.

Saat menikmati tempe mendoan itulah teringat bahwa bahan dasar tempe mendoan adalah kacang kedelai yang Indonesia masih impor.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Banyumas dan sekitarnya, tempe mendoan adalah lebih dari sekadar gorengan.

Bacaan Lainnya

Kelembutan dan cita rasanya yang khas seolah mewakili kehangatan rumah, kesederhanaan, dan memori masa lalu.

Ironi Tempe: Pangan Lokal

Namun, siapa sangka, di balik keotentikan kuliner rakyat ini, ada sebuah fakta yang sangat ironis: bahan baku utamanya, kedelai, justru didatangkan dari luar negeri.

Hal Ini bukan lagi sekadar soal makanan, melainkan potret nyata rapuhnya kedaulatan pangan kita.

Ketergantungan Indonesia pada kedelai impor ini bukan kebetulan, melainkan buah dari kebijakan yang kurang matang selama puluhan tahun. Data terbaru menunjukkan betapa besar ketergantungan kita.

Hingga Juli 2025 saja, impor kedelai Indonesia sudah mencapai 1,47 juta ton, dengan Amerika Serikat masih menjadi pemasok utama.

Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan produksi kedelai domestik yang hanya mampu memenuhi sekitar 10-20% dari total kebutuhan nasional.

Perbedaan signifikan ini membuat petani lokal tak berdaya menghadapi harga kedelai impor yang lebih murah, dan produktivitas yang belum optimal. Mereka pun terpaksa beralih ke komoditas lain.

Permasalahan impor ini tidak hanya berhenti di level makro. Efeknya langsung terasa di dapur-dapur para perajin tempe dan tahu, yang notabene adalah pelaku ekonomi mikro.

Saat harga kedelai global bergejolak akibat pelemahan rupiah atau isu geopolitik, merekalah yang pertama kali terkena dampaknya.

Kenaikan harga kedelai membuat perajin harus mengambil keputusan pahit: menaikkan harga jual dan berisiko kehilangan pembeli setia, atau mengecilkan ukuran produk demi menutupi biaya.

Situasi ini, yang kerap memicu aksi mogok produksi, menunjukkan betapa rentannya fondasi ekonomi kerakyatan kita.

Ironi tempe mendoan sejatinya adalah isu kedaulatan pangan.

Sebuah bangsa yang tidak mandiri dalam urusan pangan utamanya akan selalu dalam posisi tawar-menawar yang lemah.

Di tengah ancaman krisis pangan global yang semakin nyata, mengandalkan pasokan dari negara lain untuk komoditas sepenting kedelai adalah sebuah pertaruhan besar.

Mengapa kita sebagai negara agraris dengan lahan subur dan petani yang ulet, justru membiarkan kedaulatan pangan kita ditentukan oleh pasar global?

Sudah saatnya kita menghentikan ironi ini. Kita butuh solusi yang bukan sekadar kebijakan instan, tetapi sebuah strategi jangka panjang yang berkelanjutan.

Solusi ini dapat mengadopsi langkah-langkah yang sudah terbukti atau sedang diuji di beberapa daerah potensial:

Revitalisasi Sektor Kedelai Lokal: Pemerintah perlu fokus pada inovasi pertanian, seperti riset benih unggul, perbaikan sistem irigasi, dan pendampingan petani untuk meningkatkan produktivitas.

Beberapa varietas unggul seperti Anjasmoro dan Grobogan dapat ditingkatkan pengembangannya.

IPB University juga telah mengembangkan teknologi Budidaya Jenuh Air (BJA) yang berhasil meningkatkan produktivitas kedelai di lahan pasang surut, seperti di pesisir.

Membangun Ekosistem Pasar yang Adil: Petani kedelai lokal butuh insentif yang jelas, seperti jaminan harga beli yang menguntungkan dan akses pasar yang lebih mudah.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) bisa memperkuat Cadangan Kedelai Pemerintah (CKP) dengan menyerap kedelai lokal.

Di daerah, skema kontrak tani antara perajin tempe dengan kelompok tani lokal, seperti yang sudah berjalan di Banyumas, dapat direplikasi.

Reformasi Kebijakan Impor: Aturan impor harus ditinjau ulang agar lebih cerdas dan tidak membunuh semangat para petani lokal.

Pemerintah dapat menerapkan kuota impor, terutama saat panen raya kedelai lokal, untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

Edukasi dan Promosi Kedelai Lokal: Kita perlu mengkampanyekan keunggulan kedelai lokal kepada masyarakat, agar semakin banyak yang peduli dan mau mendukung produk dalam negeri.

Potensi peningkatan produksi kedelai ada di beberapa daerah yang sudah terbukti. Jawa Timur, khususnya Kabupaten Banyuwangi, menjadi contoh nyata keberhasilan peningkatan produksi dengan panen yang mencapai 3 ton per hektar.

Jawa Tengah, dengan daerah sentra seperti Grobogan, juga telah menunjukkan praktik baik melalui sistem tanam tumpang sari.

Selain itu, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selatan juga merupakan daerah potensial yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Kunci keberhasilan terletak pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perajin, dan petani, sehingga mata rantai produksi kedelai lokal menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.

Tempe mendoan, dengan kesederhanaan yang mendalam, sesungguhnya adalah alarm bagi kita semua.

Ia mengingatkan bahwa kelezatan sejati berasal dari bahan-bahan yang ditanam di tanah sendiri.

Ia juga adalah penanda bahwa kemandirian pangan adalah fondasi dari sebuah bangsa yang berdaulat.

Sudah saatnya kita akhiri ironi ini. Mari kita kembalikan tempe mendoan ke habitat aslinya, terbuat dari kedelai yang ditanam dan dipanen oleh tangan-tangan anak bangsa.

(***)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *