Meluruskan Logika Sesat Dibalik Skeptisme Terhadap MBG

menu Makan Bergizi Gratis (MBG)
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG)

Meluruskan Logika Sesat Dibalik Skptisme Terhadap MBG. Penulis: Muzakkir, Pemerhati Isu Sosial dan Kebijakan Publik

Belakangan ini, jagat media sosial riuh dengan narasi sinis yang mereduksi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sekadar urusan “buang air besar”.

Logika yang dilemparkan cukup sederhana namun fatal: buat apa menghabiskan anggaran triliunan rupiah jika ujung-ujungnya makanan tersebut hanya akan menjadi kotoran (tai)?

Sekilas, parodi ini tampak lucu sebagai bentuk kritik. Namun, jika kita membedahnya lebih dalam, narasi ini mencerminkan betapa dangkalnya pemahaman sebagian dari kita mengenai investasi sumber daya manusia.

Bacaan Lainnya

Antara Nutrisi dan Ampas: Ilmu Biologi
Bagi netizen yang berpikir makanan hanya mampir untuk dibuang, mari sejenak kembali ke pelajaran biologi tingkat dasar. Tubuh manusia bukanlah saluran pipa yang hanya mengalirkan air dari hulu ke hilir. Tubuh adalah sebuah “reaktor kimia” yang canggih.

Ketika seorang anak menyantap sepiring makanan bergizi, terjadi proses ekstraksi besar-besaran. Protein diambil untuk membangun neuron di otak agar mereka mampu memahami logika matematika. Zat besi diserap agar oksigen sampai ke kepala dan mereka tidak mengantuk di kelas.

Vitamin dan mineral diserap untuk membentengi imun agar negara tidak perlu membayar tagihan BPJS yang membengkak di masa depan karena rakyatnya penyakitan.

Apa yang keluar di toilet hanyalah residu atau ampas yang memang tidak dibutuhkan tubuh.

Mengukur keberhasilan program gizi dari apa yang keluar di toilet sama saja dengan mengukur kualitas bensin sebuah mobil balap hanya dari asap knalpotnya, tanpa peduli seberapa kencang mobil itu melaju.

Menghancurkan “Kemiskinan Kognitif”

Program MBG bukan sekadar soal mengenyangkan perut yang lapar, melainkan memutus rantai stunting dan “kemiskinan kognitif”.

Netizen yang mampu menulis komentar nyinyir di ponsel pintar mungkin beruntung karena masa kecilnya tercukupi gizi. Namun, bagi jutaan anak di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), protein adalah barang mewah.

Tanpa intervensi gizi, kita sedang membiarkan generasi masa depan tumbuh dengan kapasitas otak yang tidak maksimal.

Jika itu terjadi, maka Indonesia Emas 2045 benar-benar hanya akan menjadi dongeng, karena kita gagal memberi “bahan bakar” pada mesin utama pembangunan: otak manusia.

Kritik Eksekusi, Bukan Esensi

Tentu saja, skeptisisme netizen tidak sepenuhnya salah jika diarahkan pada tata kelola.

Kita wajib curiga jika anggaran gizi justru “dimakan” oleh oknum dan birokrat nakal, atau jika kualitas makanan yang sampai ke tangan siswa jauh dari standar kesehatan. Itulah yang seharusnya dikawal habis-habisan.

Namun, menyerang esensi gizi dengan analogi kotoran adalah bentuk sesat pikir yang berbahaya. Kita harus belajar membedakan antara mengkritik kebijakan yang buruk dengan menghina kebutuhan dasar pertumbuhan manusia.

Kesimpulan

Jangan sampai karena kita terlalu sibuk menertawakan parodi “kotoran”, kita lupa bahwa tanpa gizi yang baik, bangsa ini hanya akan menghasilkan manusia yang pandai mengeluh namun lemah dalam berpikir.

Program MBG adalah investasi untuk “isi kepala”, bukan sekadar untuk “isi perut” atau apa yang keluar darinya.

Mari menjadi masyarakat yang cerdas: kawal anggarannya, pelototi distribusinya, tapi jangan remehkan protein yang sedang membangun otak masa depan bangsa ini.

(***)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *