Isu Viral Sepatu Sekolah Rakyat: Tuduhan, Penjelasan Resmi, dan Pesan Penting

Penulis: Zalur Rahman, Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG) Surabaya 

Isu Viral Sepatu Sekolah Rakyat: Tuduhan, Penjelasan Resmi, dan Pesan Penting. Belakangan ini, linimasa media sosial di Indonesia lagi ramai membahas dugaan penggelembungan harga sepatu untuk siswa dalam program Sekolah Rakyat.

Awalnya sih dari sebuah postingan yang beredar cukup luas. Di situ disebutkan kalau harga sepatu yang dibagikan jauh lebih tinggi dari harga pasaran, jadi muncul dugaan ada penyalahgunaan anggaran negara.

Yang bikin makin ramai, postingan itu juga disertai foto. Isinya momen saat pejabat tinggi menyerahkan sepatu ke para siswa. Foto itu kemudian langsung dikaitkan dengan tuduhan tadi, seolah-olah jadi bukti.

Bacaan Lainnya

Nggak butuh waktu lama, informasi ini menyebar ke mana-mana. Reaksi publik pun beragam ada yang marah, kecewa, sampai mendesak supaya kasus ini segera diselidiki.

Wajar sih, apalagi program Sekolah Rakyat memang ditujukan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Jadi kalau benar ada penyimpangan, dampaknya jelas akan sangat merugikan mereka.

Di tengah polemik itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul akhirnya memberikan klarifikasi.

Ia menyampaikan pernyataan dalam konferensi pers di kantor Kementerian Sosial pada Selasa, 5 Mei 2026.

Intinya, ia membantah informasi yang beredar dan menyebutnya tidak benar, bahkan cenderung sebagai bentuk disinformasi.

Ia juga menjelaskan soal foto yang viral tadi. Ternyata, gambar itu bukan dari kegiatan terbaru, melainkan diambil dari acara lama tepatnya Dialog Pilar-Pilar Sosial se-Malang Raya pada 2 Mei 2025.

Artinya, foto tersebut tidak berkaitan dengan proses pengadaan sepatu yang sedang dibicarakan sekarang.

Selain itu, Gus Ipul menegaskan bahwa proses pengadaan dalam program Sekolah Rakyat dilakukan sesuai prosedur dan berada dalam pengawasan pihak berwenang.

Jadi, menurutnya, tuduhan penyimpangan itu tidak berdasar. Klarifikasi ini kemudian disebarkan juga lewat berbagai kanal resmi supaya masyarakat mendapat informasi yang lebih jelas.

Kalau dipikir-pikir, kejadian ini lagi-lagi menunjukkan betapa cepatnya informasi menyebar di era digital. Masalahnya, cepat belum tentu benar.

Banyak orang langsung percaya, bahkan ikut menyebarkan, tanpa sempat mengecek ulang. Apalagi kalau informasinya dikemas dengan cara yang menarik atau menyentuh emosi.

Padahal dampaknya bisa luas. Bukan cuma soal nama baik seseorang atau lembaga, tapi juga soal kepercayaan publik secara keseluruhan.

Karena itu, kejadian ini bisa jadi pengingat sederhana pentingnya untuk lebih hati-hati. Sebelum percaya atau membagikan sesuatu, sebaiknya dicek dulu sumbernya.

Minimal, kita nggak ikut memperkeruh keadaan dengan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

(***)

Baca juga:

Mengapa Berpikir Kritis Menjadi Fondasi Keputusan yang Rasional?

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *