Kepala BGN Sudaryono Sukses Bangun Kepercayaan Publik

Sudaryono

Kepala BGN Sudaryono Sukses Bangun Kepercayaan Publik, oleh Sulfikran, S.H – Pengamat Kebijakan Publik

SUARAPANTAU.COM – Langkah cepat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam merespons berbagai persoalan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi sinyal positif bagi penguatan kepercayaan publik terhadap lembaga tersebut.

Sejak dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin BGN, Sudaryono tidak hanya menghadapi pekerjaan untuk memastikan program berjalan luas, tetapi juga melakukan pembenahan terhadap sejumlah persoalan yang muncul dalam pelaksanaan di lapangan.

Sejumlah langkah korektif pun telah dilakukan. BGN menangguhkan atau menutup sementara 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai bermasalah dan tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.

Bacaan Lainnya

Pembenahan juga menyasar sumber daya manusia di lingkungan BGN. Sebanyak 261 pegawai non-ASN, terdiri dari 224 pegawai dan 37 tenaga ahli, diberhentikan. Selain itu, 9 ASN dikenai sanksi disiplin berat, sementara 39 ASN lainnya mendapatkan sanksi disiplin ringan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan Program MBG tidak hanya dilakukan melalui ekspansi layanan, tetapi juga dengan memastikan setiap unsur yang terlibat bekerja sesuai standar dan ketentuan yang berlaku.

Pengamat Kebijakan Publik Sulfikran, SH, menilai langkah tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan keberanian pemerintah melakukan pembenahan dari dalam lembaga.

Menurut Sulfikran, tindakan terhadap dapur yang tidak memenuhi standar maupun pegawai yang tidak disiplin merupakan bagian penting dari upaya membangun budaya kerja yang lebih bertanggung jawab.

“Yang penting bukan sekadar berapa banyak dapur yang ditutup atau berapa pegawai yang diberikan sanksi. Yang lebih penting adalah adanya pesan bahwa setiap pelanggaran harus ditindak dan setiap persoalan harus diperbaiki,” ujar Sulfikran.

Respons Cepat Jadi Modal Kepercayaan

Menurut Sulfikran, tantangan BGN tidak sederhana. Program MBG memiliki cakupan yang sangat luas dengan melibatkan penyedia bahan pangan, dapur SPPG, tenaga pelaksana, distribusi makanan hingga penerima manfaat di berbagai daerah.

SPPG Cijayanti Bogor, Jawa Barat

Karena itu, respons cepat terhadap persoalan yang muncul menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kualitas kepemimpinan sebuah lembaga.

“Publik tidak membutuhkan lembaga yang seolah-olah tidak pernah memiliki masalah. Publik justru membutuhkan lembaga yang ketika menemukan masalah mampu merespons, mengevaluasi dan memperbaikinya,” kata Sulfikran.

Persoalan keamanan pangan juga masih menjadi tantangan yang harus mendapatkan perhatian serius. Sejumlah kasus dugaan keracunan makanan, termasuk laporan yang terjadi di Papua, menjadi evaluasi penting bagi BGN untuk memperkuat pengawasan terhadap seluruh tahapan pelaksanaan MBG.

Dalam menghadapi persoalan tersebut, Sudaryono menegaskan bahwa setiap kejadian akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem.

Pengawasan terhadap SPPG, penerapan standar keamanan pangan, serta kepatuhan terhadap prosedur menjadi bagian yang perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Bagi Sulfikran, sikap responsif semacam itu menjadi penting karena persoalan dalam program berskala nasional tidak mungkin seluruhnya dapat diprediksi sejak awal.

“Yang menjadi ukuran bukan apakah sebuah program besar tidak pernah memiliki masalah. Ukurannya adalah bagaimana pemerintah merespons masalah tersebut dan apakah evaluasi yang dilakukan mampu mencegah persoalan yang sama terulang,” ujarnya.

Pembenahan Tidak Boleh Berhenti

Meski mengapresiasi langkah awal Sudaryono, Sulfikran mengingatkan bahwa pembenahan BGN tidak boleh berhenti pada tindakan korektif.

Menurutnya, langkah berikutnya adalah memastikan evaluasi yang dilakukan dapat diterjemahkan menjadi sistem dan standar kerja yang permanen.

BGN perlu terus memperkuat pengawasan terhadap SPPG, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memastikan standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten, serta membangun mekanisme evaluasi yang mampu mendeteksi persoalan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

“Respons cepat harus menjadi budaya organisasi, bukan hanya respons seorang pimpinan. Kalau sistemnya kuat, siapa pun yang memimpin nanti tetap bisa menjalankan standar yang sama,” kata Sulfikran.

Pandangan tersebut menjadi penting mengingat BGN merupakan lembaga yang masih terus membangun kapasitas kelembagaannya.

Besarnya cakupan Program MBG membuat penguatan organisasi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program dalam jangka panjang.

menu Makan Bergizi Gratis (MBG)
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG)

Komitmen Pemerintah Diuji Konsistensi

Langkah pembenahan yang dilakukan Sudaryono juga menunjukkan bahwa pelaksanaan program pemerintah tidak selalu berjalan tanpa hambatan.

Namun, persoalan yang muncul dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki sistem selama ditangani secara terbuka dan bertanggung jawab.

Apresiasi terhadap kinerja Sudaryono, menurut Sulfikran, tidak boleh dimaknai sebagai pemberian cek kosong kepada pemerintah.

Justru, apresiasi tersebut harus diikuti dengan harapan agar pembenahan dilakukan secara konsisten.

“Apresiasi tentu harus disertai harapan agar konsistensi tetap dijaga. Semakin besar program yang dijalankan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan masyarakat mendapatkan manfaat yang aman dan berkualitas,” tuturnya.

Ke depan, Sudaryono masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan BGN mampu menjadi lembaga yang profesional, responsif dan akuntabel.

Tidak hanya dalam menangani persoalan yang sudah terjadi, tetapi juga dalam membangun sistem pencegahan agar berbagai persoalan dapat diminimalkan.

Pada akhirnya, membangun kepercayaan publik bukan pekerjaan yang selesai dalam hitungan pekan.

Kepercayaan dibentuk melalui konsistensi kebijakan, respons terhadap persoalan dan keberanian melakukan koreksi.

Langkah Sudaryono dalam melakukan pembenahan internal sekaligus merespons persoalan di lapangan menjadi bagian dari proses tersebut.

Negara tentu masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Namun, selama setiap persoalan direspons dengan cepat, dievaluasi secara terbuka dan diikuti perbaikan yang nyata, upaya membangun lembaga publik yang lebih baik tetap memiliki ruang untuk terus berkembang.

 

***

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *