Hericium erinaceus dan Kesehatan Kognitif pada Lansia: Menilik Potensi Miselium yang Diperkaya Erinacine A pada Alzheimer Tahap Awal
Penulis: Angela Olivia Wibowo¹, Emi Kuo², Chin-Chu Chen². ¹ National Taiwan University (NTU), Taipei, Taiwan, ² Grape King Bio Ltd, Taoyuan, Taiwan
INDONESIA sedang memasuki fase penuaan penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas mencapai 12,00% pada 2024.
Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa proporsi lansia Indonesia diperkirakan terus meningkat hingga sekitar 20% pada 2045.
Pertambahan jumlah lansia membawa tantangan baru dalam kesehatan masyarakat, termasuk menjaga fungsi kognitif.
Dalam pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sejak Februari 2025, sekitar satu juta lansia telah mengikuti pemeriksaan dan sekitar 30% peserta lansia tersebut ditemukan mengalami penurunan kemampuan kognitif.
Angka tersebut merupakan hasil skrining pada peserta CKG, sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai prevalensi gangguan kognitif pada seluruh lansia Indonesia.
Fenomena ini juga menjadi perhatian global. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa pada 2021 terdapat sekitar 57 juta orang yang hidup dengan demensia di seluruh dunia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahun.
Alzheimer merupakan bentuk demensia yang paling umum dan diperkirakan berkontribusi terhadap 60–70% kasus demensia.
Demensia bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan. Karena itu, upaya untuk memahami faktor yang dapat mendukung kesehatan otak dan fungsi kognitif menjadi semakin penting.
Salah satu bahan yang menarik perhatian dalam penelitian tersebut adalah Hericium erinaceus, atau yang lebih dikenal sebagai lion’s mane mushroom.
Erinacine A: Senyawa yang Menjadi Perhatian dalam Penelitian Kesehatan Otak
Hericium erinaceus merupakan jamur yang telah banyak diteliti karena kandungan senyawa bioaktifnya.
Salah satu kelompok senyawa yang menjadi perhatian adalah erinacine, khususnya Erinacine A yang banyak dikaitkan dengan miselium H. erinaceus.
Miselium merupakan bagian vegetatif jamur yang tumbuh membentuk jaringan seperti benang halus.
Berbeda dengan fruiting body atau tubuh buah yang biasa terlihat sebagai bagian jamur yang dikonsumsi, miselium dapat dikultivasi melalui proses fermentasi.
Erinacine A menarik perhatian karena penelitian sebelumnya menunjukkan kaitannya dengan stimulasi produksi Nerve Growth Factor (NGF). NGF merupakan protein yang berperan dalam pertumbuhan, pemeliharaan, dan fungsi sel saraf.
Grape King Bio juga mengembangkan bahan baku miselium H. erinaceus yang kaya Erinacine A dan mengaitkannya dengan kemampuan menginduksi produksi NGF.
Namun, mekanisme biologis tersebut tidak berarti bahwa Erinacine A secara otomatis dapat mencegah atau mengobati penyakit Alzheimer.
Hubungan antara mekanisme molekuler, hasil penelitian praklinis, dan manfaat klinis pada manusia perlu dibedakan. Bukti pada manusia tetap membutuhkan penelitian klinis yang terkontrol.
Dalam salah satu penelitian klinis, EAHE (Erinacine A-Enriched Hericium erinaceus) dibuat melalui fermentasi cair dan distandarisasi dengan kandungan Erinacine A sebesar 5 mg per gram miselium.
Bahan tersebut kemudian digunakan dalam bentuk kapsul untuk penelitian pada pasien dengan Alzheimer ringan.
Mengenal Grape King Bio Ltd

Studi mengenai Erinacine A-Enriched Hericium erinaceus (EAHE) yang dibahas dalam artikel ini merupakan hasil kolaborasi penelitian yang melibatkan Biotech Research Institute milik Grape King Bio Ltd. bersama sejumlah institusi akademik di Taiwan, termasuk Chung Shan Medical University dan National Taiwan University.
Kolaborasi tersebut mencerminkan investasi jangka panjang Grape King Bio dalam bidang bioteknologi kesehatan.
Grape King Bio merupakan perusahaan bioteknologi asal Taiwan yang berkantor pusat di Taoyuan dan telah berdiri sejak 1969. Sejak awal 1990-an, perusahaan ini berfokus pada penelitian jamur obat tradisional Tiongkok serta pengembangan teknologi fermentasi miselium.
Pada 1999, Grape King menjadi produsen pertama di dunia yang memproduksi miselium Antrodia cinnamomea secara massal.
Kemudian pada 2015, perusahaan tersebut kembali mencatatkan tonggak penting dengan menjadi perusahaan pertama yang memproduksi Erinacine A secara massal dari Hericium erinaceus atau lion’s mane mushroom.
Untuk mendukung kegiatan penelitian dan produksinya, Grape King membangun fasilitas fermentasi kedua di Longtan, Taoyuan, yang selesai pada 2018.
Fasilitas tersebut meningkatkan total kapasitas fermentasi perusahaan menjadi 506 ton dan menjadi kapasitas fermentasi terbesar di Taiwan untuk industri ini.
Grape King juga mendirikan Grape King Biotech Research Institute dengan investasi sebesar NT$1,6 miliar. Institusi tersebut didukung oleh lebih dari 150 peneliti bergelar PhD, ahli gizi, serta food technologist.
Laboratoriumnya telah memperoleh sertifikasi dari Taiwan Accreditation Foundation (TAF), sementara fasilitas Longtan menjadi fasilitas pertama di sektor bioteknologi Taiwan yang memperoleh tiga sertifikasi pabrik ramah lingkungan secara bersamaan.
Apa yang Ditunjukkan oleh Penelitian EAHE?
Salah satu penelitian yang menjadi dasar pembahasan mengenai EAHE adalah studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Aging Neuroscience pada 2020.
Penelitian tersebut merupakan pilot study dengan desain acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo pada pasien dengan Alzheimer ringan.
Penelitian diawali dengan periode skrining tanpa obat selama tiga minggu, kemudian dilanjutkan dengan periode intervensi selama 49 minggu.
Peserta secara acak menerima tiga kapsul EAHE atau kapsul plasebo setiap hari. Setiap kapsul EAHE mengandung 350 mg miselium dengan kandungan Erinacine A sebesar 5 mg per gram.
Sebanyak 68 peserta pada awalnya direkrut. Setelah proses seleksi dan pengunduran diri, 49 peserta masuk tahap randomisasi dan 41 peserta menyelesaikan penelitian. Data akhir terdiri atas 20 peserta dalam kelompok EAHE dan 21 peserta dalam kelompok plasebo.
Para peneliti mengevaluasi beberapa parameter, termasuk fungsi kognitif menggunakan Cognitive Abilities Screening Instrument (CASI) dan Mini-Mental State Examination (MMSE). Serta kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari melalui Instrumental Activities of Daily Living (IADL).
Pemeriksaan penglihatan, biomarker darah, dan pencitraan otak juga dilakukan selama penelitian.
Setelah 49 minggu, kelompok EAHE menunjukkan peningkatan skor MMSE dibandingkan kondisi awal, sedangkan kelompok plasebo menunjukkan penurunan skor CASI pada salah satu periode pengamatan.
Penelitian juga menemukan perbedaan skor IADL antara kelompok EAHE dan plasebo pada minggu ke-49.
Selain itu, kelompok EAHE menunjukkan hasil sensitivitas kontras yang lebih baik dibandingkan kelompok plasebo pada akhir penelitian.
Meski demikian, hasil tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Untuk CASI dan MMSE, penelitian tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara keseluruhan antara kelompok EAHE dan kelompok plasebo.
Dengan kata lain, peningkatan MMSE yang diamati pada kelompok EAHE tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa EAHE secara signifikan lebih efektif daripada plasebo pada seluruh ukuran fungsi kognitif tersebut.
Hal ini penting karena penelitian merupakan pilot study dengan jumlah peserta yang terbatas. Studi tersebut memberikan gambaran awal mengenai potensi EAHE, tetapi belum cukup untuk menjadi bukti definitif mengenai efektivitasnya sebagai intervensi Alzheimer.
Namun, Apa yang Perlu Diperhatikan?
Hasil penelitian EAHE memang menarik, tetapi beberapa keterbatasan perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan yang lebih luas.
Pertama, penelitian hanya melibatkan pasien dengan Alzheimer ringan.
Oleh karena itu, hasil penelitian tidak dapat secara otomatis diterapkan pada pasien dengan tahap Alzheimer yang lebih lanjut atau pada orang lanjut usia yang tidak memiliki diagnosis Alzheimer.
Kedua, penelitian berlangsung selama 49 minggu. Durasi tersebut menunjukkan periode ketika intervensi diamati, tetapi penelitian ini tidak secara khusus membandingkan penggunaan jangka pendek dengan jangka panjang.
Karena itu, hasil penelitian belum dapat digunakan untuk menentukan berapa lama EAHE harus dikonsumsi agar memberikan manfaat tertentu.
Ketiga, ukuran penelitian relatif kecil. Penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan apakah hasil yang diamati dapat direplikasi pada populasi yang lebih luas.
Penulis penelitian sendiri menyatakan bahwa penelitian lebih besar diperlukan untuk menentukan manfaat EAHE pada pasien dengan gangguan kognitif ringan maupun Alzheimer ringan.
Dari sisi keamanan, penelitian melaporkan bahwa sebagian besar peserta dapat mengikuti intervensi dengan baik. Namun, terdapat peserta yang mengalami efek samping seperti ketidaknyamanan perut, mual, dan ruam kulit, serta beberapa peserta yang keluar dari penelitian.
Karena itu, istilah “aman” dalam konteks penelitian perlu dipahami sebagai hasil pengamatan dalam penelitian tersebut, bukan sebagai jaminan bahwa produk serupa pasti aman untuk semua orang.
Dengan demikian, penelitian EAHE lebih tepat dipandang sebagai bukti awal yang menunjukkan potensi untuk diteliti lebih lanjut, bukan sebagai bukti bahwa Hericium erinaceus atau Erinacine A telah terbukti mengobati penyakit Alzheimer.
Peluang Pangan Fungsional untuk Mendukung Kesehatan Otak
Seiring meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia dan tingginya angka indikasi gangguan kognitif dalam skrining kesehatan nasional, inovasi pangan fungsional yang ditujukan untuk mendukung kesehatan otak menjadi salah satu kategori yang menarik untuk diperhatikan oleh industri pangan Indonesia.
Dari sisi ilmiah, mekanisme seperti stimulasi NGF oleh erinacine A memberikan dasar penelitian yang lebih spesifik dibandingkan sekadar menggunakan klaim umum seperti “mendukung kesehatan otak”.
Potensi tersebut juga membuka peluang untuk pengembangan berbagai format produk, mulai dari kapsul suplemen hingga minuman fungsional yang ditujukan bagi konsumen usia lanjut.
Namun, pengembangan produk tetap perlu mempertimbangkan bukti ilmiah yang tersedia serta regulasi dan ketentuan klaim yang berlaku. Hasil satu penelitian juga perlu dipahami dalam konteks desain, populasi, durasi, dan keterbatasan penelitian tersebut.
Pengalaman Langsung di Grape King Bio
Sebagai bagian dari program magang penelitian, saya berkesempatan bergabung dengan Grape King Bio dari 1 Juli hingga 31 Agustus 2026 di Biotech Research Institute yang berlokasi di Longtan, Taoyuan, Taiwan.
Selama magang, saya memperoleh pengalaman langsung dalam berbagai teknik dasar bioteknologi yang berkaitan dengan kultivasi miselium jamur.
Saya juga berkesempatan mengamati proses yang berkaitan dengan produksi Hericium erinaceus, mulai dari persiapan kultur secara aseptik, analisis mikrobiologi, pengendalian parameter pada proses fermentasi, hingga pengujian bahan baku sebelum digunakan dalam pengembangan produk.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa pengembangan bahan fungsional tidak berhenti pada penemuan suatu senyawa.
Di dalam prosesnya terdapat tahapan kultivasi, fermentasi, pengendalian mutu, analisis bahan, dan pengembangan formulasi.
Setiap tahapan diperlukan untuk memastikan bahan yang dihasilkan memiliki karakteristik yang konsisten sebelum digunakan lebih lanjut.
Melalui kegiatan di laboratorium dan kunjungan fasilitas bersama mentor, saya juga dapat melihat hubungan antara penelitian dan proses produksi dalam industri bioteknologi.
Pengalaman tersebut membantu saya memahami bahwa penerapan hasil penelitian membutuhkan proses yang panjang, mulai dari penelitian dasar hingga pengembangan bahan dan produk.
Bagi saya, pengalaman ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana ilmu bioteknologi dan ilmu pangan dapat saling terhubung.
Penelitian mengenai Hericium erinaceus tidak hanya berkaitan dengan senyawa bioaktif, tetapi juga dengan bagaimana teknologi fermentasi dapat digunakan untuk menghasilkan bahan yang dapat dipelajari lebih lanjut dalam konteks kesehatan manusia.
Penutup
Studi mengenai EAHE pada pasien Alzheimer tahap awal menunjukkan bagaimana penelitian mengenai jamur obat kini mulai bergerak lebih jauh dari sekadar klaim tradisional menuju bukti klinis yang dapat diuji dan direplikasi secara ilmiah.
Di balik penelitian tersebut, ekosistem penelitian dan produksi yang terintegrasi, seperti yang dikembangkan Grape King Bio di Longtan, Taoyuan, menunjukkan pentingnya infrastruktur bioteknologi yang matang dalam mendukung pengembangan pangan fungsional berbasis bukti.
Bagi industri pangan Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa potensi suatu bahan pangan fungsional perlu dinilai berdasarkan penelitian ilmiah yang relevan, terutama penelitian primer, dan tidak hanya berdasarkan klaim pemasaran.
Dengan semakin meningkatnya populasi lansia di Indonesia, penelitian dan inovasi di bidang pangan fungsional untuk mendukung kesehatan kognitif menjadi area yang menarik untuk terus dikembangkan.
Referensi
- Li, I.-C., Chang, H.-H., Lin, C.-H., Chen, W.-P., Lu, T.-H., Lee, L.-Y., Chen, Y.-W., Chen, Y.-P., Chen, C.-C., & Lin, D. P.-C. (2020). Prevention of Early Alzheimer’s Disease by Erinacine A-Enriched Hericium erinaceus Mycelia Pilot Double-Blind Placebo-Controlled Study. Frontiers in Aging Neuroscience, 12, 155.
- Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024. Data Susenas Maret 2024 menunjukkan bahwa penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai 12,00% dari populasi Indonesia.
- World Health Organization. (2026). Dementia. Data WHO menunjukkan bahwa pada 2021 terdapat 57 juta orang yang hidup dengan demensia di seluruh dunia.
- ANTARA News. (2025). Kemenkes: Populasi lansia bisa dijadikan bonus demografi kedua. Artikel tersebut mengutip Kementerian Kesehatan mengenai sekitar satu juta lansia peserta Cek Kesehatan Gratis sejak Februari 2025 dan sekitar 30% peserta yang ditemukan mengalami penurunan kemampuan kognitif.
- Grape King Bio. Biotech Research Institute. Informasi mengenai fasilitas fermentasi, kapasitas produksi, pengembangan Erinacine A, dan teknologi bahan baku.
- Grape King Bio. Research and Development Management. Informasi mengenai Biotech Research Institute dan pengembangan miselium Hericium erinaceus yang kaya Erinacine A.
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah dan informasi resmi yang tersedia, serta pengalaman penulis selama mengikuti program magang penelitian di Grape King Bio. Hasil penelitian EAHE dibahas berdasarkan penelitian klinis primer, sedangkan informasi mengenai perusahaan dan fasilitas merujuk pada informasi resmi Grape King Bio.




