Semakin banyak masyarakat dengan segenap keterbatasan pendidikan dan apapun namanya, sejauh bisa mengarahkan akal dalam politik, maka itu akan membuat politisi bekerja keras bagaimana memikat hati pemilih dengan kejujuran, bukan pencitraan dan tipu muslihat.
Jauhkan Adu Domba
Politik Indonesia akan jernih dan menggerakkan pembangunan jika rakyat dan politisinya sama, sama-sama menggunakan akal sehati.
Dengan begitu baik elit maupun rakyat sama-sama sadar bahwa menipu, berbohong, hanya akan menghasilkan kesengsaraan.
Kalau Anda seorang rakyat mendapat Rp. 1 juta untuk memilih calon tertentu, maka Anda telah menjadikan diri Anda sebagai domba. Yang sewaktu-waktu harus siap diadu dengan orang lain yang juga menjual dirinya menjadi domba politisi.
Ketika seseorang atau kelompok orang menjual dirinya sebagai domba dalam politik, maka ia membunuh akal sehatnya sendiri. Padahal, akal sehat itulah yang membuat kita pantas disebut sebagai manusia.
Manusia idealnya menggunakan akal, sehingga bisa melihat segala hal dari berbagai sudut pandang, sehingga lahir nalar dan sikap kritis, yang akhirnya para pembohong akan tersingkap akal bulusnya dan kita selamat dari kebohongannya.
Mungkin kita tidak akan semua sampai pada level berpikir seperti Socrates (469 M) namun setidaknya kita sadar bahwa dalam berpolitik kita butuh bekal nalar kritis, sebagaimana kita butuh bekal air minum untuk perjalanan panjang.
Jadilah pribadi yang bertanya, jangan mudah percaya dan pastikan semua tervalidasi dengan data yang kita miliki. Prinsipnya akal harus kita gunakan agar tidak tertipu berkali-kali dan merugi tanpa sadar.
Penulis: Imam Nawawi
**Ketua Umum Pemuda Hidayatullah





3 Komentar