Contoh sederhana yang mungkin sering kita jumpai, di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar atau ibu kota provinsi lainnya.
Setiap kali kita hendak menuju ke suatu tempat pasti kita menggunakan aplikasi Google Maps tanpa kita sadari dengan fitur Global Positioning System atau sering disebut GPS yang ada pada smartphone kita itu sedang bekerja untuk mengirimkan data terkait perjalanan kita secara real time.
Sehingga melalui Analitik Big Data google mengkalkulasinya menjadi sebuah informasi, dimana bagian perjalanan kita yang lancar dan macet. Berangkat dari data tersebut maka pemerintah dapat mengetahui penyebab dari masalah tersebut, apakah karena kepadatan kendaraan?
Kapasitas infrastruktur jalan yang kurang besar? atau kesalahan dari rekaya lalulintas?. Berangkat dari analisis penyebab tersebut maka pemerintah dapat melakukan solusi atau mitigasi melalui pengambilan keputusan terkait kemacetan tersebut. Misalnya membuat kebijakan membatasi kepemilikan kendaraan, memperluas kapasitas infrastruktur jalan atau bahkan mengalihkan lalulintas.
Namun contoh pemanfaatan Big Data ini mungkin hanya berlaku di kota-kota besar saja yang memiliki masalah kemacetan. Lantas bagaimana dengan pemanfaatannya pada aspek lain dalam pemerintah? Misalnya aspek yang berdampak pada sosial maupun ekonomi di seluruh wilayah Indonesia?
Beberapa waktu yang lalu mungkin ibu atau istri kita kesulitan untuk membuat ”Sambel Tumis Bawang” karena tidak memiliki persediaan minyak goreng didapur. Kelangkaan minyak goreng menjadi masalah yang berdampak pada sosial dan juga ekonomi Indonesia.

