Andi Syahwalil: Simfoni Gizi Dibawah Langit Khatulistiwa

​Disebuah pagi yang ranum di pelosok Sulawesi, ketika matahari baru saja menyembul dari balik perbukitan seperti koin emas yang dilemparkan Tuhan ke cakrawala, suara riuh rendah mulai terdengar dari dapur-dapur komunitas.

Itulah awal dari sebuah pergerakan besar sebuah sinkronisasi kebijakan yang bukan sekadar disusun di atas meja kayu para birokrat, melainkan dirajut dengan benang-benang harapan rakyat kecil.

​Kebijakan ini adalah sebuah keajaiban mekanis yang sinkron. Lihatlah bagaimana Asta Cita bekerja layaknya mesin jam besar yang presisi. Di satu sisi, ia menarik tuas kedaulatan di ladang-ladang jagung dan hamparan sawah bumi Pertiwi yang luasnya tak bertepi.

Di sisi lain, ia menggerakkan sendok-sendok perak di tangan anak-anak sekolah yang matanya berbinar-binar, menyimpan mimpi untuk menjadi astronot atau insinyur nuklir.

Bacaan Lainnya

​Dahulu, birokrasi kita mungkin nampak seperti hutan belantara yang pekat dan membingungkan. Namun kini, di bawah komando yang tegas dan tak kenal kompromi, sekat-sekat itu runtuh.

Negara hadir bukan sebagai penonton yang kaku, melainkan sebagai seorang ayah yang berdiri tegap di ambang pintu, memastikan tak ada satu pun anaknya yang berangkat sekolah dengan perut yang merintih perih.

​Ini adalah perayaan atas kedaulatan. Dari tangan petani yang tangannya pecah-pecah oleh kerasnya tanah, mengalir sari-sari nutrisi menuju tunas-tunas muda bangsa. Itulah sinkronisasi yang sejati: ketika keringat di sawah bertemu dengan kecerdasan di ruang kelas.

​Kita sedang menulis ulang takdir. Kita sedang mengubah narasi kemiskinan yang kelam menjadi sebuah bokeh yang artistik sebuah latar belakang yang kabur dan tertinggal jauh di belakang.

Fokus kita sekarang adalah satu: garis nasib yang tajam dan terang benderang di depan sana. Karena di negeri ini, kedaulatan pangan adalah harga diri, dan gizi adalah bahan bakar untuk melesat menuju bintang-bintang.

Penulis: Andi Syahwalil Akbar

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *