Konteks Londo Ireng dan Disinformasi Silsilah Presiden Prabowo 

Konteks Londo Ireng dan Disinformasi Silsilah Presiden Prabowo. Penulis: Andi Syahwalil

SEHUBUNGAN dengan maraknya perbincangan di media sosial mengenai potongan video pidato Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto yang menyebut istilah Londo Ireng.

Serta munculnya narasi keliru yang mengaitkan istilah “Londo Ireng” dengan silsilah keluarga/leluhur beliau baik dari garis ayah maupun garis ibu merupakan hal yang keliru atau ahistoris.

Konteks Metaforis Pidato Londo Ireng

Pernyataan Presiden H. Prabowo Subianto mengenai istilah “Londo Ireng” merupakan bentuk kategori sejarah dan kiasan politik kebangsaan.

Bacaan Lainnya

Bukan tuduhan personal ataupun bentuk antikritik terhadap lembaga mana pun.

Makna Metafora: Istilah tersebut ditujukan untuk mengkritik mentalitas sebagian elemen bangsa yang mengutamakan kepentingan pihak/donor asing di atas kedaulatan bangsa sendiri, mirip dengan peran pihak-pihak yang dimanfaatkan kolonial pada zaman dulu.

Bukan Antikritik: Sebagaimana ditegaskan di awal pidato (“Kita negara demokrasi, kita tidak antikritik”), Presiden menggarisbawahi pentingnya menjaga independensi dan rasa cinta tanah air di kalangan media, LSM, dan pengamat agar tidak menjadi alat kepentingan asing yang merugikan Indonesia.

Mengenal Silsilah Garis Ayah (Djojohadikoesoemo)

Tuduhan di media sosial yang mengaitkan kakek dan paman Presiden H. Prabowo Subianto dengan kelompok “Londo Ireng” adalah bentuk kebohongan publik dan pemutarbalikan sejarah perjuangan.

R.M. Margono Djojohadikoesoemo (Kakek): Merupakan pejuang kedaulatan ekonomi nasional dan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI 46) di era awal kemerdekaan.

Capt. Anumerta Subianto & Taruna Soejono Djojohadikoesoemo (Paman): Gugur sebagai pahlawan bangsa dalam Pertempuran Lengkong (1946) melawan pasukan kolonial demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Silsilah Garis Ibu (Dora Marie Sigar)

Selanjutnya narasi terkait latar belakang keluarga ibu beliau, Dora Marie Sigar, perlu dipahami konteks sejarah Nusantara secara jernih dan objektif:

Ibu Dora Marie Sigar (1919–2008): Lahir di Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara. Beliau adalah seorang perawat terdidik yang saat menempuh studi di Utrecht, Belanda, aktif dalam gerakan Indonesische Christen Jongeren (Mahasiswa Kristen Indonesia) yang turut mengobarkan semangat kebangsaan di luar negeri.

Konstruksi Sejarah Abad ke-19: Nenek moyang keluarga Sigar di Minahasa abad ke-19 (seperti Benjamin Thomas Sigar) hidup pada struktur era geopolitik kolonial sebelum terbentuknya konsensus kebangsaan “Indonesia” pada 1928.

Memakai kacamata politik masa kini untuk menilai realitas kesukuan abad ke-19 adalah kekeliruan anakhronistis.

Jejak Pergerakan Modern: Pada era pergerakan nasional hingga pasca-kemerdekaan, keluarga Sigar-Maengkom konsisten terlibat dalam birokrasi pergerakan, keilmuan, dan pengabdian bagi Republik Indonesia.

Pernikahan Dora Marie Sigar dengan Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo (arsitek ekonomi Indonesia) pada 1945 mencerminkan fondasi keberagaman suku, agama, dan persatuan Indonesia.

Warganet Harus Bijak Mencerna Informasi 

Dimbau kepada seluruh lapisan masyarakat dan warganet untuk.

Memahami Pernyataan Secara Utuh: Tidak terprovokasi oleh potongan video pendek di media sosial yang dipotong keluar dari konteks aslinya.

Bijak Membaca Sejarah: Membedakan antara kiasan politik masa kini dengan sejarah perjuangan bangsa, serta tidak menyebarkan hoaks yang mendiskreditkan jasa para pahlawan dan pendiri bangsa.

Mengutamakan Persatuan: Mengedepankan narasi yang memperkuat persatuan dan kesatuan nasional di atas segala bentuk manipulasi informasi.

Pesan Kebangsaan: Literasi Digital dan Etika Bermedia Sosial

“Di era digital yang serba cepat, kecepatan jempol tidak boleh mengalahkan ketelitian akal. Informasi tanpa verifikasi hanyalah provokasi, dan potong-memotong narasi adalah bentuk manipulasi.

Kebebasan berpendapat adalah pilar demokrasi, namun kebenaran dan keadilan adalah pondasinya. Mari kita jadikan ruang digital sebagai wadah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan membiasakan diri menyaring sebelum membagikan, membaca sebelum menilai, dan mengonfirmasi fakta sebelum menghakimi.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya dan menjaga lisan serta jempolnya dari narasi yang memecah belah.”

Referensi 

Arsip Sejarah BNI:

Bank Negara Indonesia (BNI). (1996). Sejarah Pembentukan BNI 1946 dan Peran R.M. Margono Djojohadikoesoemo dalam Ekonomi Nasional. Jakarta: BNI.

Arsip Militer & Kebangsaan:

Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat. (1982). Pertempuran Lengkong dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Dissehad.

Literatur Sejarah Daerah & Tokoh:

Kojongian, Adrianus. (2010). Minahasa: Sejarah dan Tokoh. Manado: Penerbit Lokal.

Wenas, Jessy. (2007). Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Manado: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.

Rujukan Dokumen Publik & Media:

Matanasi, Petrik. (2019). Kisah Dora Sigar, Ibunda Prabowo Subianto. Historia/Tirto.id.

Arsip Perpustakaan Nasional RI. Almanak van Nederlandsch-Indië (1870).

(***)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *