Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Ekowisata di Ujung Selatan Sumatra. Penulis: Zaky Maradan, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
TAMAN Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menawarkan destinasi pengalaman luar biasa bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus belajar tentang pentingnya pelestarian lingkungan.
Terletak di bagian selatan Pulau Sumatera, taman nasional ini membentang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, memiliki luas sekitar 313.572,48 hektare dan membentang di wilayah Provinsi Lampung hingga Bengkulu.
Kawasan ini sudah menjadi Suaka Margasatwa Sumatera Selatan sejak masa kolonial Belanda 1935 dilanjutkan pada tahun 1982 calon Taman nasional sebelum akhirnya mengalami penambahan luas sampai ke provinsi Bengkulu di tahun 1999.
Pada tahun 2004 kawasan ini menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra yang ditetapkan oleh UNESCO untuk konservasi jangka panjang karena keanekaragaman hayati khas dan banyaknya spesies yang terancam punah.
Surga Bagi Satwa Langka Indonesia
Keunikan Taman nasional bukit barisan selatan terletak pada keanekaragaman ekosistemnya.
Dalam satu kawasan, pengunjung dapat menemukan hutan hujan dataran rendah, hutan hujan bukit, hutan hujan pegunungan bawah dan atas, hingga hutan pantai kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
Keragaman ekosistem ini menjadikan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagai habitat ideal bagi ribuan spesies tumbuhan dan satwa endemik.
Menurut data pengelola taman nasional, kawasan ini memiliki lebih dari 514 jenis tumbuhan, 126 jenis anggrek, 26 jenis rotan, serta 25 jenis bambu.
Selain itu terdapat sekitar 450 spesies burung, ±123 jenis herpetofauna (reptil dan amphibia termasuk penyu), 53 jenis ikan, 221 serangga dan 450 jenis burung termasuk 9 jenis rangkong.
Salah satu daya tarik utama ekowisata di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah keberadaan satwa-satwa langka yang menjadi simbol konservasi Indonesia.
Kawasan ini dikenal sebagai habitat penting bagi tiga satwa kunci Sumatra, yaitu:
- Harimau Sumatra
- Gajah Sumatra
- Badak Sumatra
Ketiga satwa tersebut termasuk spesies yang terancam punah dan memerlukan perlindungan serius.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa TNBBS masih memiliki kualitas habitat yang baik dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan Sumatra.
Selain itu, pengunjung juga berkesempatan menjumpai berbagai jenis primata, rusa, beruang madu, burung rangkong, hingga aneka reptil yang hidup bebas di habitat alaminya.
Berbeda dengan wisata massal yang berfokus pada hiburan semata, ekowisata menekankan pengalaman belajar dan kepedulian terhadap lingkungan.
Di TNBBS, wisatawan dapat mengikuti berbagai aktivitas yang mendukung prinsip tersebut, seperti:
1. Trekking dan Pengamatan Satwa
Jalur trekking yang tersedia memungkinkan wisatawan menjelajahi hutan tropis sambil mengamati flora dan fauna secara langsung.
Aktivitas ini memberikan pengalaman mendalam tentang kehidupan satwa liar dan pentingnya menjaga habitat mereka.
2. Bird Watching
TNBBS merupakan habitat bagi ratusan spesies burung, termasuk beberapa jenis endemik Sumatra.
Kegiatan pengamatan burung menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan peneliti dari dalam maupun luar negeri.
3. Wisata Pendidikan Lingkungan
Kunjungan ke kawasan taman nasional dapat menjadi sarana edukasi bagi pelajar dan masyarakat untuk memahami fungsi hutan sebagai penyimpan air, penyerap karbon, dan habitat berbagai makhluk hidup.
4. Fotografi Alam
Bentang alam pegunungan, hutan hujan tropis, sungai, dan keanekaragaman satwa menjadikan TNBBS lokasi ideal bagi pecinta fotografi alam dan konservasi.
Melalui pengelolaan yang berkelanjutan, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus merusak hutan peluang usaha seperti jasa pemandu wisata, penyediaan homestay, kuliner lokal, transportasi, hingga penjualan produk kerajinan masyarakat.
Dengan demikian, konservasi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan secara seimbang. Hal ini sejalan dengan misi pengelolaan TNBBS yang menekankan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan ekowisata di TNBBS masih menghadapi berbagai tantangan.
Perambahan hutan dan konflik manusia dengan satwa liar, Salah satu kasus yang menjadi perhatian publik terjadi pada 25 Mei 2025, ketika seorang warga asal Jawa Tengah bernama Sudarso (59) meninggal dunia akibat serangan satwa liar saat berada di kawasan hutan.
Sehingga dibutuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi hutan dan tetap menjaga kelestarian alam.
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan bukan sekadar kawasan hutan biasa.
Kawasan ini merupakan benteng terakhir bagi berbagai spesies langka Sumatra sekaligus laboratorium alam yang menyimpan kekayaan biodiversitas luar biasa.
Sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO, keberadaannya memiliki nilai penting tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.
Melalui pengembangan ekowisata yang bertanggung jawab, masyarakat dapat menikmati keindahan alam tanpa mengorbankan kelestariannya.
Dengan demikian, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan akan tetap menjadi rumah bagi ribuan spesies dan sumber inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus menjaga alam Indonesia.
(***)




