Opini

Mari Kita “Tertawai” Amerika

Jika mendengar kata Amerika. Maka secara umum dipikiran orang adalah sebuah negara adikuasa. Itu tidak salah. Sebab memang demikianlah adanya. Amerika hampir menjadi corong seluruh negara; dalam segala hal. Apakah itu tentang kemajuan ekonomi, teknologi, pendidikan, tingkat kesejahteraan rakyat dan lain-lain. Khusus untuk pendidikan, universitas terbaik dunia, hampir seluruhnya ada di negara Paman Sam itu.

Lalu, bagaimana kondisi Amerika hari ini. Tentu masih sama. Tidak ada beda sama sekali. Masih menjadi negara adikuasa. Tapi, untuk hari ini, sebagai orang yang lahir dan besar di Indonesia. Saya patut berbangga. Bahkan, bisa dikata wajib saya tertawai Amerika. Rupanya, tidak semua hal, dimiliki atau lebih dulu dilakukan oleh Amerika. Buktinya, tanggal 6 Januari ini. Ratusan warga Amerika menggruduk gedung parlemen; Capitol Hill.

Ratusan warga itu mengaku sebagai pendukung fanatik Presiden Amerika, Donald Trump. Mereka ini melampiaskan kekesalan atas hasil Pilpres Amerika November 2020 lalu. Mereka ini seperti magic-nya Trump yang tidak mengakui kekalahan pada Pilpres melawan Joe Biden. Karena itu, Trump dalam media sosialnya, pada tanggal ketika ratusan orang menggeruduk gedung itu, melakukan “provokasi” secara terbuka dan berkala.

Setidaknya, itulah penilaian pihak Twitter dan Facebook sehingga memutuskan untuk menonaktifkan akun Trump. Apalagi, dalam media sosial itu, cukup jelas Trump menyampaikan “provokasi”-nya. “Kalian tidak akan bisa mengambil alih negara ini dengan bersikap pasif. Kalian harus menunjukkan kekuatan” begitu kalimat yang disampaikan Trump. Bahkan Twitter lebih keras lagi; siap memblokir permanen akun Trump.

Dari peristiwa ini, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi alasan rasional untuk dapat “menertawai” Amerika. Pertama, mengenai aksi gruduk gedung parlemen; Capitol Hill. Sepanjang sejarah berdirinya negara Amerika, baru pada awal tahun 2020 ini gedung parlemen diduduki oleh warga Amerika. Gedung ini memang sebelumnya juga pernah diduduki. Tapi kondisinya berbeda dengan hari ini; tahun 1812 ketika negara itu masih dilanda perang.

Karenanya, sejumlah Senator Amerika menilai bahwa peristiwa geruduk Capitol Hill adalah sejarah kelam yang diwariskan Trump. Bahkan, kritikan itu datang dari partai Trum sendiri; Republik. Salah satunya yang bersuara adalah Liz Cheney. Kata Liz, penyerbuan Gedung Capitol momen kelam. Senator Republik lain, Richard Burr juga menyampaikan hal yang sama. “Presiden Trump turut bertanggung jawab atas terjadi insiden hari ini, karena dia terus mempromosikan teori konspirasi yang menghasut massa,” kata Richard.

Peristiwa ini pun mengingatkan kita pada pendudukan gedung DPR RI pada tahun 1998 silam di Jakarta. Ketika itu, para mahasiswa menuntut mundur Presiden Soeharto yang telah berkuasa 32 tahun secara otoriter. Latar belakang dua peristiwa ini pun cukup mirip; terkait politik. Bedanya, jika di Amerika menolak hasil Pilpres, di Indonesia menuntut mundur Presiden Soeharto yang dinilai tidak pro terhadap demokrasi.

Selain itu, sejumlah media menyorot peristiwa itu karena terjadi secara “barbar”. Karena beberapa pintu dan jendela dikabarkan pecah. Tidak hanya itu, ada juga beberapa aset kongres yang dijarah. Itu terbukti dengan sejumlah foto-foto yang tersebar yang dipotret langsung oleh fotografer Win McNamee dan Drew Angerer. Sungguh peristiwa sangat memungkinkan men-downgrade Amerika sebagai negara paling demokratis.

Kedua, penjarahan. Amerika yang selama ini dipandang sebagai negara dengan populasi warga yang sangat beradab sungguh tidak mencerminkan itu dalam peristiwa ini. Sebab pada peristiwa penggerudukan gedung Capitol Hill, dikabarkan terjadi penjarahan. Sungguh peristiwa ini membuat kita kembali berpikir; ada hal-hal yang tertutupi oleh gemerlapnya negara adidaya itu. Yah, terkait kerakusan orang, tidak hanya ada di Indonesia tapi juga di Amerika.

Stigma ini bisa jadi berdampak terhadap Amerika itu sendiri. Terutama dari negara-negara yang selama ini menjadikan Amerika sebagai negara paling beradab. Ini juga bisa jadi membuat orang-orang sadar bahwa keserakahan manusia itu nyata adanya. Walau manusia itu menetap dan hidup dengan negara yang tingkat kesejahteraan tinggi seperti Amerika.

Ketiga, hal yang bisa “ditertawai” dari Amerika adalah arus politik yang mengungkung menjadi dua kubu yang saling serang. Terutama pada Pilpres lalu baik di Indonesia maupun di Amerika. Jika di Indonesia, ada kubu Kampret atau Kadrun dan Cebong. Maka di Amerika ada fanatik dua partai yang saling berseteru yakni Demokrat dan Republik. Akibatnya, arus pemikiran juga berdampak atas berdirinya dua kubu yang tentu sangat berbahaya.

Misalnya di Amerika; perdebatan mengenai menyerakkan irisan nanas pada pizza atau tidak. Perdebatan itu dimulai ketika Chris Krebs; orang nomor satu di CISA yang dipecat Trump, lalu pada 22 November mentwit tentang dua pilihan itu. Ini kemudian merembes ke dalam pusaran politik. Akibatnya, warga terbelah. Padahal jika dipikir-pikir konten dari perdebatan itu sangatlah receh.

Hal yang sama lebih dulu terjadi di Indonesia. Tepatnya, pada Juli 2020 lalu. Ketika orang-orang receh ini berdebat soal, jika makan bubur ayam diaduk atau tidak. Perdebatan itu juga bahkan tranding dibeberapa platform media sosial. Sungguh perdebatan yang ufaedah sama sekali. Tapi, dampaknya begitu sangat berbahaya. Setidaknya, itu adalah kesimpulan Guru Besar Teknologi Bandung, Iwan Pranoto.

Dan yang terakhir, keempat adalah politisasi agama. Rupanya, perdebatan mengenai agama dan politik itu juga sudah menjalar ke Amerika. Di Indonesia, tentu saja perdebatan itu sudah sangat lama terjadi. Lalu di Amerika baru ketahuan ketika Pilpres November lalu. Yang paling banyak disorot ketika penasihat Rohani Presiden Amerika Serikat, Paula White, pada 5 November lalu ketika sedang mendoakan kemenangan Donald Trump.

Oleh karena itu, empat alasan inilah setidaknya menjadi alasan bagi warga Indonesia “menertawai” Amerika; kami lebih dulu bos. Setidaknya itu kita banggakan; HAHAHA. Tidak semua hal bagi negara adidaya itu akan diikuti. Setidaknya, ada beberapa hal yang mereka ikuti, terutama peristiwa-peristiwa di Indonesia. Kupikir demikian, salam cinta, aku mencintaimu.

**Penulis adalah Ketua Harian Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Check Also
Close
Suara Pantau
%d blogger menyukai ini: