Prabowo Perkenalkan Singkong Sebagai Alternatif Atasi Krisis Pangan Global

Pidato Prabowo Subianto di Global Food Security Forum (13/11/2022) -SUARAPANTAU.COM

Prabowo menegaskan demi menjaga ketahanan pangan dunia, Indonesia optimis dapat menjadi yang terdepan dalam menghasilkan pangan yang mengandung protein dan kalori bagi seluruh negara.

Dalam kaitannya komoditas singkong tersebut, Prabowo mengajak mitra dari dunia untuk bergabung. Prabowo yakin bahwa ke depannya, Indonesia akan menjadi peringkat pertama eksportir tepung terigu berbahan dasar singkong atau Mocaf.

Namun gagasan ini selain mendapatkan pujian dari berbagai pihak, juga mendapatkan tantangan. Pengamat Pangan IPB, Dwi Andreas Santosa menilai pidato Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang menyebut singkong bisa menjadi penyelamat bahan pangan pokok global sulit direalisasikan.

Baca juga: Ulang Tahun Prabowo, Gus Muhaimin Doakan Diberi Kesehatan Wujudkan Indonesia Adil Makmur dan Sejahtera

Bacaan Lainnya

Budidaya singkong telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Namun sampai sekarang upaya itu tidak berhasil menggeser empat bahan pangan pokok utama seperti gandum, jagung, beras, dan kentang. Beberapa alasan singkong sulit menjadi pilihan utama bahan pangan pokok.

Salah satunya, masa tanam singkong yang lebih lama, tidak ekonomis, rasanya yang tidak familiar dan persepsi “singkong” sebagai makanan orang miskin.

Memang betul, masih banyak yang skeptis dengan mimpi besar Prabowo menjadikan Singkong komoditas unggulan Indonesia selanjutnya. Namun pesan sebenarnya bukan pada tanaman singkong. “Singkong” bagi saya hanyalah gimmick yang ditampilkan oleh Menhan Prabowo.

Baca juga: Kukuhkan PPIR Soppeng, Henny Latif Beri Semangat Baru untuk Perjuangkan Prabowo Presiden 2024

Pesan Prabowo sebenarnya adalah mengundang investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Prabowo sebagai seorang konstruktivis tulen, berusaha mengkapitalisasi komoditas singkong sebagai alternatif pangan dunia. Usaha Prabowo tersebut justru harus kita dukung.

Kita tentu mengingat pada tahun 80an ketika Presiden Soeharto saat itu mendorong membuka lahan sawit besar-besaran di Sumatera dan Kalimantan.

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *