Sebab, merusak masa depan satu anak tidak akan bisa dikembalikan dengan kata maaf dan hukuman pejara atau denda semata. Bila hukuman yang diterapkan ialah hukuman mati atau penjara seumur hidup akan membuat para pelaku akan berpikir bagaimana nasibnya bila berbuat demikian.
Nasib bangsa akan bergantung bagaimana siswa yang saat ini menempuh pendidikan, bagaimana jadinya jika di sekolah anak didik dirusak secara fisik dan bathin tentu tidak akan ada semangat hidup meneruskan keberlanjutan diri dan keluarga bahkan bangsanya.
Penekanan Nilai Agama Dan Budaya
Dalam nilai-nilai agama dan budaya diajarkan bagaimana bertutur kata dengan baik dan bertingkah laku selayaknya sebagai seorang anak kepada orang tua, teman dan yang lebih muda.
Perpaduan antara ajaran agama dan budaya untuk mengatur tatanan kehidupan bagi peserta didik terutama yang tealh menginjak usia remaja akan melahirkan pribadi yang terjaga dari berbagai kejahatan yang akan mencelakakan dirinya.
Tidak sedikit kekerasan seksual yang dilakukan oleh para pelaku didahului oleh tingkah laku atau busana yang tidak pada tempatnya baik terhadap guru atau orang lain.
Perilaku yang baik serta busana yang sopan akan meminimalisir kejahatan dari pelaku yang berniat berbuat tidak senonoh pada siswa.
Satu hal yang barangkali menjadi masukan untuk para guru di sekolah atau pembuat kebijakan di pendidikan untuk membuat batasan atau aturan khusus bagi siswa di sekolah untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual.
Berawal adri kedekatan personal guru dan murid dan berakhir dengan saling bercerita tentang kehidupan dan guru dengan mudah merasuki pikiran siswa. Memperbanyak ruang terbuka dan tidak membiarkan adanya pertemuan guru dan siswa dalam ruangan tertutup dengan dalih konseling.
Modus yang seringkali digunakan ialah akan menyelesaikan masalh siswa namun berujung pada menambah masalah dan masa depanya.
Pengawasan Orang Tua Dan Teman
Semua hal yang terjadi pada siswa harus diketahui oleh orang tua seharusnya, namun tidak sedikit orang tua yang cuek pada keseharian anak bahkan terkesan membiarkan seoalh anaknya robot yang tidak membutuhkan perhatian dan pemecahan masalah yang ia hadapi.
Kebanyakan anak yang menjadi korban kekerasan seksual tidak mau orang lain tahu dan bahkan menutupi agar ia tidak dipermalukan.
Karakter anak untuk selalu terbuka kepada orang tua harus dibiasakan sejak dini, sebab tidak semua hal anak mampu mengatasi masalahnya.
Perhatian kepada anak menjadi penjamin bahwa anak selalu dalam kondisi prima dan tidak mudah dibujuk rayu oleh siapapun termasuk gurunya.
Salah satu hal yang perlu ditegaskan oleh anak ialah harus dan selalu terbuka apapun yang terjadi, karena anak yang selalu tertutup terbuka kemungkinan terutama yang perempuan ia ditelah diganggu atau diancam oleh orang lain agar tidak mengadu kepada siapapun.
Teman menjadi salah satu temapt untuk bercerita bila rasanya tidak sanggup bercerita kepada orang tua maka teman tempat meluapkan semua masalah dan sudah barang tentu teman akan mencarikan jalan keluar agar masalah dan pelaku segera ditangkap.
Penulis: Sabarnuddin (Mahasiswa Universitas Negeri Padang)




