SUARA PANTAU – Kolaborasi dosen Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, Dr. Elinda Rizkasari dan dosen Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) Prima Trisna Aji melahirkan inovasi baru berupa Standar Operasional Prosedur (SOP) berbasis Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Dalam keterangan yang diterima Suara Pantau, inovasi ini, telah diimplementasikan langsung di Sekolah Dasar Negeri di Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Hasil implementasi, ditemukan bahwa inovasi ini dinilai memiliki tingkat kebaruan
(novelty) yang kuat karena mengintegrasikan pendekatan kesehatan dan pendidikan secara
aplikatif di lingkungan sekolah dasar.
Rilis inovasi sendiri dilaksanakan pada hari Ahad (7/12/2025) berjudul SOP Inovasi pengembangan School Health Literacy Tool-Kit untuk Sekolah Dasar.
Diketahui, Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd, dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, bersama Prima Trisna Aji, dosen Program Studi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang.
Dr. Elinda Rizkasari menyampaikan bahwa inovasi SOP ini lahir dari kebutuhan nyata di
sekolah dasar terkait penguatan layanan kesehatan berbasis edukatif yang terstruktur dan
mudah diterapkan oleh guru serta tenaga kependidikan.
Baca Juga: Dosen PGSD UNISRI Surakarta Terbitkan Jurnal Penelitian Multidisiplin
Menurutnya, inovasi ini merupakan bentuk pengembangan dari kolaborasi dua bidang keilmuan yang berbeda, namun saling melengkapi.
“Inovasi SOP ini merupakan salah satu inovasi pengembangan dari kolaborasi bidang
pendidikan dan kesehatan. Kami tidak hanya berhenti pada tataran konsep, tetapi sudah
menerapkannya langsung di sekolah dasar negeri di Surakarta. Ke depan, inovasi ini akan
terus dikembangkan agar dapat diterapkan lebih luas,” ujar Dr. Elinda.
Ia menambahkan, keberadaan SOP yang terstandar dan dilindungi HKI menjadi penting
untuk memastikan praktik kesehatan di sekolah berjalan sistematis, aman, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat literasi kesehatan sejak usia dini.
Sementara itu, Prima Trisna Aji mengungkapkan rasa syukur atas terselesaikannya inovasi
SOP pengembangan tersebut dengan baik.
Prima Trisna Aji menilai kolaborasi lintas disiplin ini menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kami bersyukur inovasi SOP ini dapat diselesaikan dengan baik dan memberikan manfaat
nyata. Inovasi ini juga telah dipresentasikan pada seminar internasional di Malaysia dan
mendapat respons positif karena menggabungkan keilmuan kesehatan klinis dengan
pendekatan pendidikan,” kata Prima.
Menurutnya, keterlibatan dosen spesialis medikal bedah memastikan bahwa SOP yang
disusun memiliki dasar ilmiah dan klinis yang kuat, namun tetap disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan sekolah dasar.
Inovasi SOP berbasis HKI ini tidak hanya diterapkan di tingkat lokal, tetapi juga telah
diperkenalkan dalam forum internasional, menunjukkan bahwa gagasan tersebut memiliki relevansi global, khususnya dalam penguatan promosi dan pencegahan kesehatan berbasis
sekolah.
Para pengembang berharap inovasi ini dapat menjadi model nasional dalam
membangun sinergi antara sektor pendidikan dan kesehatan.
Kolaborasi ini sekaligus menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam menghasilkan
inovasi yang aplikatif dan berkelanjutan.
Melalui pengembangan SOP berbasis HKI, dosen dari dua disiplin ilmu berbeda berhasil menghadirkan solusi konkret yang tidak hanya memperkuat layanan kesehatan di sekolah, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan peserta didik sejak usia dini.
(rls)




