SUARAPANTAU.COM – Di balik setiap tendangan keras seorang atlet Taekwondo perempuan, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan melawan batasan sosial yang telah lama mengakar.
Olahraga bela diri yang kerap dilekatkan dengan citra maskulinitas dan dominasi laki-laki, sering kali menjadi ruang yang tidak sepenuhnya ramah bagi perempuan.
Stereotip bahwa perempuan lemah, emosional, dan tidak cocok berada di arena pertarungan masih membayangi dunia olahraga termasuk Taekwondo. Tetapi, keadaan lapangan menunjukkan cerita yang berbeda.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak atlet perempuan yang tampil dan meraih prestasi di cabang olahraga bela diri. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap atau simbol representasi, melainkan bukti nyata bahwa kekuatan, ketangguhan mental dan prestasi tidak ditentukan oleh jenis kelamin.
Arena Taekwondo pun perlahan berubah menjadi ruang artikulasi perlawanan terhadap konstruksi gender yang membatasi peran perempuan.
Fenomena ini menarik untuk dibaca melalui kacamata feminist theory. Teori feminis tidak hanya berbicara tentang kesetaraan hak, tetapi juga tentang bagaimana tubuh perempuan, identitas dan pengalaman hidup mereka menjadi medan negosiasi sosial dan budaya.
Dalam konteks olahraga, setiap gerakan, kemenangan, dan kehadiran atlet perempuan di arena kompetisi dapat dimaknai sebagai bentuk komunikasi simbolik. Sebuah pesan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk diakui, dilihat, dan dihargai.
Kisah Lia Karina Mansur, Latifah Irsyadiyah, dan Dinda mencerminkan dinamika yang nyata dalam dunia Taekwondo. Meskipun ketiganya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, mereka bersatu oleh satu tujuan yaitu keberanian untuk melampaui batasan gender dalam olahraga ini.
Mereka bukan hanya atlet berprestasi, tetapi juga simbol perubahan sosial yang menantang dominasi patriarki dalam olahraga bela diri.
Lia Karina Mansur: Hijabers dengan Segudang Prestasi
Lia Karina Mansur adalah mantan atlet taekwondo andalan dari Yogyakarta yang sekarang sudah menjadi pelatih untuk para atlet-atlet taekwondo Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sedang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024.
Namanya dikenal sebagai salah satu atlet Taekwondo berhijab yang menginspirasi banyak orang. Dalam wawancara dengan Kumparan Woman, Lia menceritakan bagaimana ia menembus batasan sosial dengan tetap konsisten berprestasi meski membawa identitas keislamannya di arena olahraga.
Di skala nasional, Lia mengawali karirnya dengan mendapatkan medali perak di ajang PON 2008 silam, lalu pada PON tahun 2012 mendapatkan medali emas dan yang terakhir di PON 2016 juga mendapatkan medalibemas.
Untuk prestasi skala internasional, Lia mengaku pernah mendapat mendapatkan perak di ajang SEA Games 2009 silam. Selain itu Lia juga pernah mengikuti pra-kualifikasi olimpic London tahun 2012.
Hijab yang ia kenakan bukanlah sebuah hambatan tetapi menunjukkan bahwa perempuan dapat menunjukkan mengekspresikan diri tanpa harus mengorbankan identitas budaya dan agama mereka.
Dari perspektif feminisme liberal, Lia adalah wujud perempuan yang menuntut hak setara untuk dapat tampil di ruang publik olahraga. Ia membuktikan bahwa kompetisi internasional bukan hanya hak laki-laki.
Sementara dari sudut feminisme kultural, identitasnya sebagai Wanita pengguna hijab memperkaya makna keberagaman dalam olahraga, menghadirkan nilai empati dan representasi budaya yang kuat.
Latifah Irsyadiyah: Wisudawan Terbaik dan Atlet Berprestasi
Kisah Latifah Irsyadiyah dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) juga tak kalah inspiratif. Latifah Irsyadiyah, wisudawan terbaik Fakultas Agama Islam (FAI) dan berprestasi non-akademik Universitas Ahmad Dahlan (UAD), merupakan sosok inspiratif yang berhasil mengembangkan potensinya meski sempat mengalami masa perkuliahan daring akibat pandemi.
Selama empat semester awal, Latifah belajar dari rumah, tetapi hal tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk menyesuaikan diri dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan kampus.
Saat perkuliahan mulai kembali aktif di kampus, ia bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo di UAD.Ia berhasil menjadi wisudawan terbaik Fakultas Agama Islam sekaligus atlet Taekwondo berprestasi.
Meski sempat menghadapi tantangan kuliah selama pandemi, Latifah tetap konsisten berlatih dan membawa nama kampus di berbagai ajang.
Dalam kerangka feminisme radikal, Latifah menunjukkan bahwa tubuh perempuan bukan sekadar objek pasif, melainkan arena perlawanan.
Dengan menguasai teknik Taekwondo, ia menegaskan bahwa kekuatan fisik bukan monopoli laki-laki. Latifah juga menjadi contoh nyata bagaimana perempuan bisa meraih prestasi akademik sekaligus olahraga, menolak dikotomi lama yang membatasi peran perempuan hanya di ranah domestik.
Dinda: Atlet Senior Putri Terbaik
Sementara itu, Raden Roro Dinda Florensia Kusuma Salindra, mahasiswa Program Studi Hukum angkatan 2023 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), baru-baru ini berhasil meraih prestasi gemilang di ajang Walikota Cup sebagai atlet terbaik senior putri.
Keberhasilannya sebagai atlet taekwondo tidak hanya mengharumkan namanya, tetapi juga membawa kebanggaan bagi kampusnya. Gelar ini bukan hanya soal medali, tetapi juga pengakuan atas dedikasi dan konsistensinya sebagai atlet senior.
Dinda menjadi role model bagi mahasiswa lain, membuktikan bahwa perempuan bisa bersaing dan unggul di arena kompetisi bela diri.
Dari perspektif feminisme sosialis, prestasi Dinda mengkritisi struktur patriarki dalam organisasi olahraga yang sering didominasi laki-laki.
Ia membuka jalan bagi perempuan lain untuk ikut berpartisipasi, sekaligus menegaskan bahwa olahraga bukanlah ruang eksklusif bagi satu gender.
Feminist Theory sebagai Lensa
Ketiga kisah ini menunjukkan bagaimana teori feminis dapat digunakan untuk membaca pengalaman perempuan dalam Taekwondo:
Feminisme Liberal: menuntut akses setara bagi perempuan di ruang publik olahraga.
Feminisme Radikal: tubuh perempuan sebagai arena perlawanan terhadap stereotip.
Feminisme Kultural: identitas perempuan memperkaya nilai empati dan solidaritas dalam komunitas olahraga.
Feminisme Sosialis: kritik terhadap struktur patriarki dan kapitalisme dalam dunia olahraga.
Dalam konteks masyarakat, seperti yang dijelaskan dalam materi kuliah teori komunikasi, setiap tindakan komunikasi termasuk ekspresi tubuh dalam olahraga adalah bagian dari pola sosial yang lebih besar. Atlet perempuan dalam Taekwondo tidak hanya berkomunikasi melalui gerakan fisik, tetapi juga menyampaikan pesan ideologis bahwa perempuan berhak atas ruang, kekuatan, dan pengakuan.
Lia, Latifah, dan Dinda adalah tiga srikandi yang membuktikan bahwa Taekwondo bukan sekadar olahraga, melainkan arena perjuangan ideologis.
Dengan feminist theory sebagai lensa, kita memahami bahwa setiap sabuk hitam yang mereka raih adalah simbol perlawanan terhadap patriarki dan langkah menuju kesetaraan.
Mereka mengajarkan kita bahwa keberanian perempuan dalam Taekwondo bukan hanya soal medali, tetapi juga tentang meruntuhkan tembok stereotip gender. Tendangan mereka adalah suara yang lantang bahwa perempuan bisa, perempuan kuat, dan perempuan berhak berada di panggung olahraga.
Penulis : Najwa Alya Putri Rahmadhani
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Dian Nuswantoro




