Representasi yang Tanggung: Tragedi Westerling dalam Film De Oost

Cuplikan Film De Oost Tragedi Westerling di Sulawesi Selatan
Cuplikan Film De Oost Tragedi Westerling di Sulawesi Selatan

Representasi yang Tanggung: Tragedi Westerling dalam Film De Oost. Penulis: Amanda Mayna Windiyani, Mahasiswa Sastra Belanda, Universitas Indonesia (UI)

HUBUNGAN Indonesia dan Belanda tentunya tidak selesai ketika Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945.

Belanda, selaku negara yang sudah menduduki tanah Hindia Belanda selama berabad-abad tidak serta merta merelakan tanah jajahannya merdeka.

Hal ini memicu terjadinya Revolusi Nasional Indonesia yang ditandai dengan kedatangan kembali pasukan Belanda ke Indonesia.

Bacaan Lainnya

Sayangnya, sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan jarang dibahas bahkan di sekolah-sekolah.

Di era modern ini, film menjadi salah satu media yang dapat mengangkat kembali peristiwa-peristiwa sejarah yang sudah jarang dibahas di buku sekolah.

Film juga menjadi media yang mudah diakses dan menyenangkan untuk belajar sejarah.

Table of Contents

Film De Oost

Salah satunya film “De Oost” dirilis tahun 2020 dengan berdurasi sekitar 2 jam 17 menit, diproduseri oleh Sander Verdonk, Julius Ponten, dan Shanty Harmayn. Film ini disutradarai oleh Jim Taihuttu.

Film “De Oost” berlatar di Hindia Belanda yang memfokuskan tentang sudut pandang salah satu tokoh bernama Johan de Vries (diperankan oleh Martijn Lakemeier).

Johan merupakan seorang tentara Belanda yang ditugaskan untuk berangkat ke Indonesia untuk rekolonisasi tanah Indonesia.

Alur cerita dari “De Oost” menggambarkan tentang pergulatan batin Johan ketika terlibat dalam pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan.

Pembantaian Westerling dipimpin oleh Raymond Westerling, seorang tentara Belanda keturunan Yunani yang dibesarkan di Istanbul.

Dalam film “De Oost”, Raymond Westerling ditugaskan untuk menjalani operasi militer di Sulawesi Selatan.

Saat tiba di sana, Westerling mengumpulkan warga desa secara paksa, warga yang namanya terdapat di daftar buku catatan milik Westerling langsung dieksekusi tanpa pengadilan.

Film ini memperlihatkan kekerasan tentara Belanda dan berfokus kepada rasa bersalah Johan de Vries akan hal-hal yang tentara Belanda lakukan.

Film “De Oost” memang tidak secara menyeluruh menampilkan tentang Tragedi Westerling, bahkan hanya ditampilkan secara garis besar.

Banyak detail dari sejarah sebenarnya tidak diperlihatkan dalam film seperti motivasi Belanda untuk membangun Negara Indonesia Timur (NIT) yang padahal menjadi asal muasal terjadinya Tragedi Westerling dan tragedi-tragedi pasca-kemerdekaan di Indonesia lainnya Meskipun memang terlihat ambisi untuk menertibkan Sulawesi Selatan dari para gerilyawan.

Film “De Oost” juga tidak memperlihatkan latar belakang dari pasukan-pasukan Westerling. Sejarah menyebutkan bahwa pasukan tersebut bernama Depot Speciale Troepen (DST), pasukan unggulan kejam yang dibentuk oleh Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).

Selain itu, dalam film hanya diperlihatkan adegan pembantaian di tiga desa yang berbeda padahal sebenarnya Pembantaian Westerling terdiri dari tiga tahapan operasi, yaitu di Batua, Polobangkeng, dan di Gowa sejak Desember 1946-Januari 1947.

Akhir dari Tragedi Westerling tidak diperlihatkan dalam film “De Oost”. Fakta sejarah menyebutkan berakhirnya Tragedi Westerling terjadi pada tanggal 21 Februari 1947 karena Jenderal Spoor merasa kondisi Sulawesi Selatan sudah terkendali.

Belanda memberlakukan Voorschrift voor de uitoefening van den politiek-politionele taak van het leger (VPTL) atau pedoman pelaksanaan bagi tentara untuk tugas di bidang politik dan polisional, kemudian pasukan DST resmi dimundurkan.

Sedangkan dalam film, adegan akhir Tragedi Westerling berfokus ke tokoh Johan yang berkhianat dengan ideologi Westerling.

Meskipun begitu, film “De Oost” tetap menjadi salah satu film penting yang dapat memberikan wawasan sejarah yang sudah lama terkubur oleh waktu terutama untuk generasi muda.

Referensi

Kurniawan, P. W., F., A. N., & Wibowo, W. D. (n.d.). Raymond Pierre Paul Westerling: Upaya Mendirikan Negara Indonesia Timur 1946-1947. Jurnal Ilmiah Dikdaya. 10.33087/dikdaya.v14i1.632

Taihuttu, J. (Director). (2020). De Oost [The East] [Film]. New Amsterdam Film Company.

(***)

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *