SUARA PANTAU – Seniman Sulawesi Selatan yang juga pendiri Sanggar Seni Sangdara Bone, Andi Muhammad Arfandi mengapresiasi Festival Budaya Maritim Lampu Toae yang berlangsung pada 27–29 September 2026.
Festival ini, merupakan rangkaian acara Gau Maraja Sulawesi Selatan Tahun 2026.
Andi Muhammad Arfandi atau Andi Vavan menyebut festival ini menghidupkan budaya maritim Sulawesi Selatan.
Rangkaian Festival Lampu Toae
Festival ini menghadirkan beragam kegiatan kebudayaan, termasuk lomba tari antarsekolah serta penampilan para pegiat seni dan budaya.
Kehadiran para pelajar dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui ruang kreativitas.
Bagi para pelaku seni, festival budaya bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya terdapat pesan tentang pentingnya menjaga identitas, nilai, dan warisan leluhur agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
Salah satu sanggar yang mendapatkan kepercayaan untuk terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Sanggar Sangdara Bone.
Seniman Sulsel ini, menyebut kepercayaan pemerintah daerah tersebut merupakan sebuah bentuk apresiasi yang memiliki makna penting bagi perjalanan sanggar dalam mengembangkan seni dan budaya.
“Kepercayaan yang diberikan pemerintah daerah kepada Sanggar Sangdara Bone merupakan salah satu apresiasi yang sangat tinggi bagi kami. Ini menjadi energi dan motivasi untuk terus berkarya serta menjaga budaya yang diwariskan oleh leluhur,” ujar Andi Vavan.
Menurut Andi Vavan, keterlibatan sanggar dan komunitas budaya dalam berbagai agenda daerah menjadi penting karena pelestarian kebudayaan membutuhkan ruang aktualisasi.
Terlebih, generasi muda perlu diberikan kesempatan untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku kebudayaan.
Ia menilai sekolah, sanggar seni, komunitas budaya, pemerintah daerah, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan budaya.
“Kalau kita ingin budaya tetap hidup, maka anak-anak muda harus diberi ruang untuk mengenal dan mencintainya. Mereka harus diberi kesempatan untuk belajar, berlatih, tampil, dan kemudian meneruskan apa yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya,” katanya.
Pesan Moral Festival Lampu Toae
Festival Budaya Maritim Lampu Toae menjadi gambaran bahwa kekayaan budaya Sulawesi Selatan masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.
Seni tari, musik, tradisi, dan berbagai ekspresi kebudayaan tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kehidupan generasi masa kini.
Andi Vavan berharap semangat tersebut dapat terus dipelihara dan kegiatan kebudayaan serupa semakin sering digelar dengan melibatkan lebih banyak generasi muda.
“Semoga kegiatan seperti ini terus dipelihara dan dikembangkan. Jangan sampai generasi kita mengenal budaya leluhurnya hanya dari buku sejarah.
Mereka harus melihat, merasakan, mempelajari, bahkan ikut menjadi bagian dari pelestariannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa menjaga budaya bukan berarti menolak perkembangan zaman. Sebaliknya, budaya harus mampu berjalan bersama zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
“Warisan leluhur tidak akan hidup hanya karena kita mengenangnya. Ia akan tetap hidup ketika generasi muda mau mempelajari, mencintai, dan meneruskannya,” pungkas Andi Vavan.
Festival Budaya Maritim Lampu Toae pun meninggalkan pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar seremoni, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu, kehidupan hari ini, dan masa depan generasi Sulawesi Selatan.
(***)
Baca Juga:
Pentas Seni Sangdara Bone Berlangsung Meriah
PSB Bone Sangdara Berbagi Galang Donasi untuk Warga Kajuara Kurang Mampu




