Sofyan Basri (Dosen Prodi Teknologi Pendidikan FIP UNM)
Setiap 1 Mei, kita merayakan Hari Buruh seperti merayakan sebuah ingatan yang tak pernah selesai diperdebatkan. Di jalan-jalan, di spanduk, hingga di orasi, kata “buruh” selalu tampil sebagai identitas yang tampak sederhana—yang sebenarnya menyimpan sejarah panjang tentang tubuh—yang bekerja, waktu yang dijual, dan martabat yang kerap diperas oleh kita menyebutnya sistem yang tidak luput dari satu kata—ketidaksetaraan. Dan, di balik keramaian itu, ada satu kelompok yang seringkali terperangkap: dosen.
Dosen, dalam kerangka status sosial umum, sering ditempatkan pada posisi yang tinggi. Dalam konteks ini—khusus pribadi penulis, ketika beberapa tahun lalu saya menjalani profesi ini—seringkali dinilai dalam derajat yang tinggi di dalam korelasi keluarga. Saya tidak tahu mengapa hal ini dapat menjangkiti pikiran begitu cepat. Tapi, faktanya memang demikian.
Pada posisi itu, saya seringkali dinilai sebagai intelektual, pengajar, dan penjaga pengetahuan. Bahkan, juga sering diasosiasikan sebagai peracik masa depan. Tapi disisi lain, ketika salah seorang anggota keluarga yang memiliki anak yang hendak masuk kampus, saya seringkali dijadikan tempat konsultasi. Pada titik ini, saya seperti tidak punya pilihan lain untuk menolak. Sebab jika itu terjadi, maka pelabelan yang telah saya dapatkan tanpa saya minta itu akan runtuh seketika itu juga.
Di dalam kampus juga sama. Ketika berada di ruang kelas, di seminar, di ruang sidang, dan di lorong-lorong kampus—yang justru di situlah akar persoalannya bermula. Orang seringkali berbahasa secara simbolistik—bukan pada dasar yang sejujurnya dan seharusnya. Misalkan, ketika memberikan nilai kurang kepada mahasiswa—yang sejujurnya seringkali dituntut lebih untuk lebih manusiawi. Bukankah ini tidak lebih dari sekedar petugas administratif?
Oleh karena itu, baik di luar maupun di dalam kampus—posisi dosen sebagai pekerja seringkali diabaikan. Bukan tanpa alasan, seperti yang telah diuraikan sebelumnya—tapi juga karena terlalu abainya kita pada hal yang substansial—bahwa sebenarnya dosen adalah buruh. Yang dalam konteks ini, tidak menjadi perbincangan yang hangat karena simbolisasi dan imajinasi yang terlalu tinggi terhadap profesi ini.
Dengan begitu—mulai dari pelabelan, bahasa simbol, dan abstraksi profesi—menjadikan dosen juga lupa akan tubuhnya sendiri sebagai pekerja atau buruh. Hal ini diperparah dengan pelabelan lain yang juga doktrinasi bahwa dosen adalah pegawai, lebih khusus pegawai pemerintah—atau pegawai negeri sipil dengan segala imajinasi kenikmatannya. Akibatnya, pikiran yang dipakai dan waktu yang dihisap sebagaimana buruh lain yang ada di pabrik dikurung oleh sistem yang sangat terstruktur.
Akibat dari kehilangan identitas ini, dosen melupakan semua hal yang menjerat tubuh dan pikirannya. Sebab, ia kemudian dipuaskan oleh imajinasi pelabelan dan bahasa simbolik yang merusak daya dobrak untuk mempertanyakan tentang dirinya sendiri. Kesenangan untuk ikut arus dan menyebut diri sebagai pegawai seperti ruang aman. Padahal, kesenangan itu bukan lahir konflik yang amat kuat dan menjerat terlalu dalam.
Sementara jika ingin jujur, kesenangan yang didapatkan itu adalah sebuah kebohongan. Bukankah status pegawai itu tetaplah politis. Bahwa kerja dosen di kampus dan di luar kampus hanyalah persoalan absensi, SK, tunjangan, rapat dan jabatan—yang secara gamblang memberikan penjelasan tentang pertentangan kelas—sama halnya dengan kasus buruh di pabrik. Pegawai dan bukan buruh adalah doktrin yang sangat menyesatkan pikiran.
Padahal “pegawai” adalah salah satu bentuk orde baru yang paling halus—ia tidak selalu datang dengan wajah kekerasan—hadir sebagai tata bahasa kekuasaan. Mengubah pekerja menjadi pelaksana, mengubah pikiran menjadi kepatuhan, mengubah ketidakpastian menjadi prosedur, dan mengubah kritik menjadi tata krama. Dalam bahasa pegawai; keberatan sering dipandang sebagai gangguan, kesadaran sering dicurigai sebagai pembangkangan, buruh bukanlah subjek sejarah, melainkan kategori yang diletakkan di bawah meja, jauh dari cermin yang dipakai kaum terdidik untuk melihat dirinya sendiri.
Karena itulah, kepada para dosen yang masih berkeras menyebut diri sebagai pegawai, perlu dikatakan dengan jernih: dosen adalah buruh. Bukan dalam arti merendahkan, melainkan dalam arti memulihkan kenyataan. Seorang dosen bekerja dengan jam yang tak pernah benar-benar selesai; di ruang kuliah ia mengajar, di rumah ia memeriksa tugas, di malam hari ia menulis artikel, proposal, laporan, akreditasi, dan berbagai teks yang kadang lebih banyak melayani mesin birokrasi daripada ilmu itu sendiri. Menghadapi target, penilaian, beban administratif, dan tuntutan produktivitas yang semakin menyerupai pabrik pengetahuan.
Bedanya mungkin hanya pada alat kerja. Buruh pabrik bekerja dengan mesin. Dosen bekerja dengan kata, pikiran, dan kesabaran. Tetapi alat kerja yang berbeda tidak menghapus kenyataan bahwa keduanya berada dalam relasi yang sama: tenaga dikonversi menjadi nilai, dan nilai itu tidak selalu kembali sebagai martabat.
Bahkan dalam banyak hal, dosen justru lebih mudah dikuasai karena ia telah dipasangi bahasa kehormatan. Ia diberi gelar, seragam simbolik, dan imajinasi kemuliaan, sehingga ia kadang tidak sadar bahwa dirinya sedang digiring untuk menerima beban yang makin berat dengan senyum yang makin sopan.
Maka kesalahan terbesar dosen bukanlah kelelahan. Kelelahan adalah akibat. Kesalahan terbesarnya adalah ketika ia berhenti melihat dirinya sebagai pekerja yang memiliki kepentingan, dan mulai melihat dirinya sebagai pejabat kecil dalam struktur yang lebih besar. Saat itulah ia kehilangan solidaritas. Mulai menjauh dari nasib mereka yang ia ajar. Bicara tentang pemberdayaan, tetapi lupa memberdayakan dirinya sendiri. Mengajar tentang kesadaran kritis, tetapi tak pernah menguji kesadarannya terhadap posisi kerja yang mengekangnya. Ia menjadi penafsir dunia, tetapi bukan pengubahnya.
Hari Buruh seharusnya mengingatkan dosen bahwa pengetahuan tak boleh menjauh dari kerja. Bahwa universitas bukan menara gading, melainkan bagian dari masyarakat yang juga mengenal eksploitasi. Gagasan tentang kebebasan akademik akan kosong bila dosennya sendiri dibebani ketakutan, status yang rapuh, dan sistem kerja yang membuatnya mudah patuh. Tidak ada kemerdekaan berpikir yang benar-benar merdeka jika kehidupan material para pengajarnya terus diposisikan sebagai urusan belakang layar.
Karena itu, menyebut dosen sebagai buruh bukanlah penghinaan. Itu adalah pengembalian nama—nama yang telah disembunyikan oleh kesombongan simbolik, nama yang mungkin tak nyaman bagi sebagian orang—tetapi justru karena tak nyaman, ia jujur. Dan kejujuran, dalam dunia yang gemar menyebut ketertiban sebagai kebenaran, sering dianggap mengganggu.
Dosen adalah buruh. Kalimat itu sederhana, tetapi kesederhanaannya seperti pisau—memotong kabut dan menolak ilusi. Ini sebagai pengingat bahwa di balik meja dosen, di balik toga, di balik gelar, ada manusia yang bekerja. Dan, bila bekerja adalah cara manusia bertahan di dunia, maka mengakui diri sebagai buruh bukanlah turun derajat. Itu justru cara pertama untuk berdiri tegak. (*)




