Opini: Media Nasional Tenggelamkan Isu Reuni 212

Pratitis Mukti Tami - SUARAPANTAU.COM/ISTIMEWA

Melihat media massa saat ini, yang memilih-milih berita, bolehlah dibilang jika media di Indonesia saat ini sedang melakukan aksi bunuh diri massal.

Saya setuju dengan tulisan Hersubeno Arief, seorang Konsultan Media dan Politik, mengenai “Aksi ‘Bunuh Diri Massal’ Pers Indonesia”. Bisa dibilang memasuki Pilpres 2019, membawa media dan dunia kewartawanan di Indonesia memasuki episode terburuk sepanjang sejarah pasca reformasi. Bahkan situasinya lebih buruk dibandingkan dengan era Orde Baru.

Mengapa demikian? Kooptasi dan tekanan hukum oleh penguasa, sikap partisan pemilik media dan wartawan, serta hilangnya idealisme di kalangan para pengelola media dan wartawan, membuat mereka tanpa sadar melakukan ‘bunuh diri’ secara massal.

Saya sepakat jika pers Indonesia memasuki masa gawat darurat! Pada era Orde Baru, media melakukan dengan terpaksa karena tekanan rezim. Kendati begitu dengan berbagai cara, media tetap melakukan perlawanan, tetap menjaga idealismenya.

Bacaan Lainnya

Menarik, tulisan Hersubeno yang mengatakab saat ini banyak yang melakukan secara sukarela. Motifnya bermacam-macam. Menjadi bagian rezim dan menikmati rezeki kekuasaan, sekadar kepentingan bisnis, dan pragmatisme untuk mendapatkan remah-remah dari para penguasa.

Para wartawan, redaktur, maupun pimpinan media yang masih berakal sehat dan bersikap kritis harus mengalah kepada para pemilik media. Ini konskuensi dari media di era industri.

Pers bukan lagi medan perjuangan. Publik kehabisan akal, apatis, marah, dan menjadi kehilangan kepercayaan terhadap media-media di Indonesia. Di era kelimpahan informasi, dan menguatnya media sosial sebagai media alternatif, bila tidak segera berubah, media konvensional terancam ditinggalkan publik.

Ada memang yang tetap waras di tengah kegilaan massal itu. Namun mereka minoritas. Kebanyakan hanya media pinggiran dan bukan arus utama (mainstream). Media-media arus utama sebagian besar larut dalam sebuah ‘kejahatan besar’ yang disebut sebagai framing (membingkai berita), atau di Indonesia dikenal dengan istilah ‘pemelintiran’ dan ‘menggoreng isu’.

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *