Dedi Iskandar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ke Pengurus Al-Washliyah di Medan

Anggota DPD RI, Dedi Iskandar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ke Pengurus Al-Washliyah di Medan
Anggota DPD RI, Dedi Iskandar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ke Pengurus Al-Washliyah di Medan

Empat Pilar Kebangsaan Menangkal Budaya Asing

“Menanamkan kecintaan kepada NKRI sangatlah penting, karena saya melihat gejala generasi muda sekarang banyak yang termakan pengaruh ekspansi budaya asing,” imbuhnya.

Dedi Iskandar menyebutkan, banyak generasi yang lebih senang mengindentifikasi diri dengan bangsa asing.

Seperti, bersikap dan berbahasa layaknya warga negara asing.

“Ironi ini tidak boleh dibiarkan, karena NKRI begitu luas dan kaya akan budaya. Begitu banyak kesnian dan tradisi Indonesia yang dikagumi dunia. Tapi akan terlihat aneh jika generasi muda Indonesia mulai melupakan tradisi mereka sendiri,” jelas Dedi yang juga menjabat sebagai Ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara.

Bacaan Lainnya

Dedi tidak tampil sendiri sebagai pemateri dalam sosialisasi 4 Pilar. M. Darwis, salah seorang kader senior juga memberikan materi. Keduanya berbagi porsi penjelasan.

Dedi Iskandar Batubara lebih menitikberatkan paparannya pada masalah NKRI dan Pancasila, maka M Darwis mendetailkan pada 2 pilar yang lain, yaitu Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945.

Menurut Darwis, semua keluarga Al Washliyah punya tanggung jawab yang besar untuk menerapkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, mematuhi terhadap UUD 1945, mencintai NKRI, dan menjiwai Pancasila.

Pasalnya, keempat pilar kebangsaan ini merupakan warisan idealisme dari para pendiri bangsa, yang salah satunya adalah para kader Al Washliyah.

“Para pendiri bangsa sudah merumuskan dasar-dasar berbangsa dan bernegara. Semuanya bersifat prinsipil dan ideal. Oleh karena itu, bagi warga Al Washliyah, terutama pengurus Majelis Pendidikan, tidak cukup dengan hanya menerapkannya saja,” ungkapnya.

“Lebih dari itu, harus berupaya mewariskannya kepada generasi penerus. Hal ini penting karena pada era globalisasi seperti sekarang, batas-batas territorial negara menjadi kabur, karena semua orang dari seluruh penjuru dunia bias berinteraksi secara virtual. Pada titik ini, kita tidak boleh kehilangan jadi diri dan identitas kebangsaan,” ujarnya.

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *