Sekolah Lupa Menjadi Tempat Aman

Sofyan Basri (Dosen Teknologi Pendidikan UNM)

Saya selalu percaya bahwa sekolah adalah ruang paling manusiawi. Tempat di mana dunia bisa mulai kembali dari awal, dengan kata-kata sederhana yang dipelajari anak-anak: hormat, empati, kebersamaan. Tapi hari ini—dan entah sudah berapa lama—kita seperti melihat sekolah berubah menjadi arena lain yang menyalin dunia di luar: keras, terburu-buru, penuh kompetisi, dan tak jarang, penuh kekerasan.

Bullying, kata yang lahir dari bahasa asing itu, tiba-tiba menghuni ruang-ruang kelas kita. Ia duduk di samping meja guru, ikut berlari di lapangan, mengintip di balik gawai para siswa. Kita membiarkannya masuk, kadang tanpa sadar, seperti angin kecil yang kemudian berubah menjadi badai.

Dan angka-angka—yang biasanya dingin dan tak punya emosi—tiba-tiba menjadi suara peringatan. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan bahwa kasus bullying tahun demi tahun tak surut. Dari 2011 hingga 2019, ribuan anak melapor, dan angka itu terus naik, seolah ada sesuatu yang tak beres dalam cara kita merawat dunia kecil bernama sekolah. Pada 2023, ratusan kasus kekerasan di sekolah tercatat, dengan bullying sebagai salah satu penyumbang terbesar. Lalu pada 2024, jumlahnya melonjak lagi: lebih dari 573 kasus, dengan perundungan yang kini melampaui sekadar dorongan atau ejekan—ia sudah menjelma jadi kekerasan mental yang merayap lewat layar ponsel.

Bacaan Lainnya

Ketika angka naik, kita mungkin bertanya: apa yang sesungguhnya hilang dari pendidikan kita?

Saya teringat kata-kata seorang guru tua yang pernah saya temui di sebuah sekolah pelosok: “Anak-anak sekarang lebih sering melihat tangan orang lain sebagai ancaman, bukan sebagai sapaan.” Ia mengatakan itu sambil menatap halaman sekolah yang penuh ilalang, seakan halaman itu menyimpan jawabannya sendiri.

Barangkali kita telah mengubah sekolah menjadi sesuatu yang terlalu besar, terlalu penuh beban, terlalu mirip pabrik. Kita mengajarkan persaingan lebih cepat daripada mengajarkan belas kasih. Kita mengeraskan suara untuk menuntut capaian, tapi melirihkan suara ketika anak datang dengan cerita tentang sakit yang tak terlihat.

Bullying tumbuh dari celah-celah kecil: dari candaan yang tak dibatasi, hukuman yang menormalisasi rasa takut, dan sistem yang sibuk mengejar nilai tetapi abai terhadap nilai-nilai.

Di banyak sekolah, seorang anak yang menangis dianggap lemah. Seorang anak yang mengadukan temannya dianggap pencari perhatian. Seorang anak yang berbeda dianggap masalah. Sementara guru—yang juga hidup dalam tekanan administrasi dan beban yang tak manusiawi—kadang kehilangan energinya untuk melihat luka yang tersembunyi.

Akhirnya, sekolah hanya jadi bangunan dengan jam masuk dan jam pulang, tanpa ruang untuk mendengar. Di kelas, saya pernah mendengar kalimat ini dari mahasiswa yang sedang praktik mengajar: “Kadang, Pak, anak-anak lebih takut pada temannya daripada pada gurunya.”

Saya membayangkan ketakutan itu mengendap dalam diri seorang anak yang setiap hari harus masuk kelas yang sama, duduk di bangku yang sama, berhadapan dengan orang-orang yang ia tahu akan mengulang luka yang sama. Tak ada tempat sembunyi dalam sekolah yang ia hapal setiap sudutnya.

Di titik itu, kita tahu bahwa bullying bukan lagi masalah perilaku; ia adalah kegagalan kolektif. Namun di balik semua itu, saya masih percaya bahwa sekolah dapat diperbaiki. Selalu ada ruang bagi harapan, sebagaimana ruang kelas yang selalu menyediakan kursi kosong bagi seseorang yang ingin belajar kembali tentang dunia.

Yang kita butuhkan mungkin bukan hukuman yang lebih keras, melainkan kehadiran yang lebih lembut. Bukan sekadar SOP anti-kekerasan, melainkan budaya yang mengajarkan bahwa setiap manusia—bahkan yang paling kecil—punya martabat.

Kita perlu guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga mendengar. Kita perlu siswa yang tidak hanya cerdas, tapi juga peka. Kita perlu orang tua yang tidak hanya menuntut anaknya unggul, tetapi juga manusiawi. Dan kita perlu sistem yang tidak hanya menghitung angka, tapi juga menjaga jiwa.

Suatu hari, saya berharap seorang anak dapat kembali berjalan di lorong sekolah dengan langkah yang ringan. Bukan karena ia kuat menahan ejekan, tetapi karena tak ada lagi ejekan di sana. Bukan karena ia terbiasa menghadapi dunia yang keras, tetapi karena dunia kecilnya—sekolah—menjadi tempat yang lunak, penuh kehangatan.

Sekolah tidak harus menjadi pabrik. Ia bisa menjadi rumah. Dan rumah, seharusnya, tidak pernah menjadi tempat seseorang merasa takut untuk pulang.

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suarapantau.com menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027

Pasang Iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *