Bahkan paman saya sendiri, Kapten Soebianto Djojohadikusumo, wafat terbunuh oleh penjajah demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tiap kali saya melihat wajah-wajah mereka, saya selalu merasa ditagih hutang. Mereka seakan-akan bertanya pada saya: Prabowo, apa yang telah kamu lakukan untuk membalas pengorbanan kami? Saya ini bekas tentara loh. Saya khan sudah menyerahkan nyawa saya untuk Republik ini. Namun itu saja tidak cukup.
Saya merasa saya harus berbuat lebih untuk Bangsa Indonesia. Mereka para pahlawan meminta saya untuk terus berjuang sampai akhir hayat saya, membawa rakyat Indonesia menjadi adil dan makmur.
Itulah alasan saya, Prabowo Soebianto mengumpulkan kalian semua kader-kader Partai Gerindra untuk berjuang menciptakan Indonesia menjadi negara yang sejahtera sesuai dengan cita-cita para pahlawan.
Pernyataan Prabowo dalam dua momen yang berbeda itu, membuat saya berpikir. Apabila kita tarik kembali peperangan-peperangan sebelumnya, Cut Nya’ Dien di Aceh telah membuat pasukan Belanda kerepotan.
Begitu juga dengan Pangeran Diponegoro dan pasukannya mampu membuat kas keuangan Belanda kosong akibat peperangan yang dilakukan.
Masih banyak lagi pahlawan-pahlawan kita yang dengan gagah berani dan senjata seadanya mampu memberikan perlawanan yang luar biasa dahsyat ke musuh-musuh kita. Sama seperti yang dilakukan rakyat Ukraina saat ini menolak diinvasi oleh Russia.
Kenyataan ini membuat kita sebagai bangsa Indonesia berbangga, bahwa nenek moyang kita bukanlah pengecut. Nenek moyang kita adalah pemberani. Dalam darah kita mengalir darah pahlawan yang pemberani mengusir penjajah.
Memang, Bangsa Indonesia memiliki tradisi kuat sebagai bangsa yang berani. keberanian tersebut akan semakin menggumpal apabila menyangkut persoalan kemerdekaan. Dalam bertempur, Indonesia memiliki senjata pamungkas yang selalu digunakan.
Senjata tersebut adalah semangat juang yang dimiliki oleh bangsa indonesia. Senjata tersebut adalah senjata yang sangat ditakuti oleh penjajah.




