“Indonesia masuk ke dalam derasnya arus informasi yang dipacu oleh kemajuan TIK, kemajuan tersebut harus dimanfaatkan untuk menguatkan dan mendukung UMKM,” kata Krisantus.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Krisantus menjelaskan bahwa saat ini UMKM di Indonesia berjumlah sekitar 64,2 juta dan berkontribusi sebanyak 60,51% terhadap PDB atau senilai dengan 9,580 triliun.
UMKM juga berkontribusi terhadap penyerapan lapangan kerja 97% dari total tenaga kerja yang ada dan dapat menghimpun sampai 60,4% dari total investasi.
“Namun saat ini rasio kewirausahaan di Indonesia masih rendah, yakni 3,47% dari total populasi, sedangkan rasio kewirausahaan untuk sebuah negara maju minimal 5% dari total populasi,” ujar Anggota Komisi I DPR RI Dapil Kalbar II.
Menurutnya, transformasi UMKM melalui pemanfaatan dan optimalisasi digital perlu dilakukan agar mampu menjadi super smart society dengan pelayanan yang lebih luas, cepat, efektif, dan efisien. Kemudahan yang di dapat tentu dapat digunakan untuk menciptakan strategi bersaing di era digital.
“Dengan semakin banyaknya usaha kecil dan menengah yang terlibat dalam ekonomi digital melalui road brand e-commerce, media sosial, dan mobile platform, maka UMKM dapat tumbuh lebih cepat dari segi pendapatan maupun penyediaan lapangan kerja, serta menjadi lebih inovatif dan lebih kompetitif untuk menghadapi masyarakat digital” tutupnya.
Tantangan Ekonomi Kreatif
Sementara itu narasumber berikutnya, Rosarita Niken Widiastuti selaku Dewan Pengawas PFN mengatakan, ekonomi kreatif Indonesia adalah konsep ekonomi yang mengutamakan kreativitas, penggunaan ide, pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan ekonomi khususnya pada bidang ekonomi dan industri kreatif.
Ia menyebutkan, ada enam ciri utama ekonomi kreatif, yaitu adanya kreasi intelektual, mudah diganti, distribusi secara langsung dan tidak langsung, membutuhkan kerjasama, berbasis pada ide, dan tidak memiliki batasan.
Adapun tantangan yang harus kita hadapi di era digital yaitu kita harus bisa cepat beradaptasi terhadap perubahan yang tidak terduga. Lingkungan membutuhkan kita untuk cepat mengambil tindakan dalam situasi yang tidak pasti.




