Makna Tradisi Megono Gunungan
Makna simbolis Megono (Nangka) adalah Tahadduts bin ni’mah merasa syukur kepada allah swt atas rizqi yang diberikan baik lewat bumi dengan kesuburan tanamannya maupun lewat langit dengan hujannya.
Selain sebagai simbol keberlimpahan, Megono Gunungan juga memiliki nilai religius. Ada beberapa Masyarakat yang mempercayai bahwa megono gunungan bisa memberikan kesuburan dan panen melimpah pada tanaman dengan cara menaburkan megono gunungan tersebut ketanaman mereka.
Oleh karena itu, gunungan ini dianggap sakral dan harus dirawat dengan baik.
Tradisi Megono Gunungan dimulai dengan Pembuatan Megono yang dimasak dari beberapa rumah lalu dikumpulkan menjadi satu. Selanjutnya proses pembuatan Megono dan bahan makanan yang akan digunakan dalam pembuatan Megono Gunungan dimulai dengan membentuk gunung dari bahan makanan yang digunakan.
Gunung tersebut kemudian dihias dengan berbagai macam sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain itu, Megono Gunungan juga dihiasi dengan berbagai macam benda seperti mainan anak-anak dan bunga-bunga. Setelah pembuatan Megono Gunungan selesai.
Acara dilanjutkan dengan prosesi mengarak Megono Gunungan dimulai dari jam 10:00 dari balaidesa linggoasri sampai ke lapangan pelaksanaannya, kemudian melakukan doa bersama.
Dilanjutkan dengan sambutan dari bupati, laporan panitia penyelenggara dan dinas pariwisata. Puncak dari acara tradisi megono gunungan yaitu perebutan megono gunungan oleh masyarakat sekitar ataupun masayarakat luar.
Setelah prosesi mengarak Megono Gunungan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Megono Gunungan yang sudah dibentuk dan diarak kemudian dibagikan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan.




